Akibat Wabah Covid-19, Penangkap Lobster Afrika Selatan Mengalami Kerugian

  • Whatsapp
virus corona baru
Nelayan mengangkat lobster di pelabuhan Kalk Bay, Cape Town, Afrika Selatan. Foto/REUTERS

CAPE TOWN – Para penangkap lobster di Western Cape, Afrika Selatan, menjadi korban yang tak terduga akibat wabah virus corona baru (Covid-19) setelah China menghentikan impor lobster karang dari West Coast bulan lalu untuk mencegah penyebaran wabah.

“Saya bingung sekarang karena mereka tak mengambil tangkapan kami, pabrik tak mau ikan kami, tak ada pasar untuk ikan kami,” kata Lorraine Brown, 60, saat dia menunggu para nelayan tiba di pelabuhan Witsand yang digunakan komunitas nelayan Ocean View, sekitar 40 km dari Cape Town.

Bacaan Lainnya

“Kami tidak tahu harus bagaimana. Mereka mengatakan Anda bisa menangkap, tapi lobster Anda harus tetap di air. Untuk berapa lama mereka harus berada di tangki air, dan apa ada uang yang kami dapat jika lobster itu semua mati?” ujar dia.

Sebelum China menghentikan impor seafood pada 25 Januari, Brown bisa mendapatkan USD22 per kg untuk lobster hidup yang diekspor. Harga itu kini turun lebih dari setengahnya di pasar lokal, terlalu kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Wabah virus corona telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan menginfeksi puluhan ribu orang lainnya sehingga mengacaukan penerbangan global, pelayaran perdagangan dan sektor pariwisata.

China telah menghentikan perdagangan binatang hidup karena khawatir perdagangan itu dapat membantu menyebarkan penyakit mematikan tersebut.

Afrika Selatan belum mengalami kasus virus corona yang dikonfirmasi tapi telah terkena dampak penghentian ekspor lobster ke China.

Selama ini ekspor lobster ke China mencakup 95% dari total lobster yang ditangkap di West Coast dengan total 1.084 ton.

Asosiasi Lobster Karang West Coast menyatakan wabah virus itu memiliki dampak serius karena mengakibatkan kerugian hingga USD17 juta (Rp234 miliar).

“Tapi, ada dampak sekunder pada orang yang bekerja di pabrik-pabrik pemproses lobster, orang yang menangkapnya, sehingga komunitas nelayan kami akan kekurangan uang,” papar Ketua Asosiasi Shamera Daniels.

Pos terkait