Angka Covid-19 di India Tinggi, Indonesia Tutup Akses Perjalanan Dari dan Ke India

  • Bagikan
Beberapa tumpukan kayu pemakaman pasien yang meninggal karena penyakit COVID-19 terlihat terbakar di tanah yang telah diubah menjadi krematorium kremasi massal korban virus corona, di New Delhi, India, Rabu (21/4/2021).(AP)

JAKARTA– Melonjaknya kasus covid-19 di India membuat pemerintah Indonesia menutup sementara akses masuk bagi warga negara India, dan pelaku perjalanan dari India ke Indonesia. Kebijakan ini ditempuh, seusai kedatangan seratusan warga negara India, melalui Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah memutuskan menghentikan pemberian visa bagi warga negara asing dari India, termasuk WNA yang pernah singgah di India, dalam 14 hari terakhir.

Saat ini warga India yang tiba Indonesia, dikarantina di sebuah hotel, di Jakarta Barat dan akan terus diawasi selama 14 hari. Satgas covid-19 membentuk 5 tim khusus, untuk menelusuri kasus covid-19, terkait kedatangan ratusan warga negara India.

Kebijakan Indonesia menutup sementara akses masuk dari India, mengikuti langkah sejumlah negara lain. Diantaranya Pakistan, Amerika Serikat, Inggris, Selandia Baru, Singapura, Oman, Perancis, dan Kanada.

Dirilis dari Kompas Saat ini India masih dilanda badai covid-19 yang ditandai dengan penambahan lebih dari 300 ribu kasus positif dalam tiga hari berturut-turut. Dalam 24 jam terakhir, terjadi penambahan lebih dari 346 ribu kasus corona di India.

Angka ini menggeser rekor tertinggi sebelumnya, yaitu pada Kamis (22/04) yang tercatat bertambah lebih dari 314 ribu, serta Jumat (23/04) dengan penambahan lebih dari 332 ribu kasus corona. Dengan penambahan tersebut, kasus corona di India hari ini mencapai lebih dari 16 juta kasus dengan total kematian mencapai lebih dari 189 ribu orang.

Infeksi Covid-19 di India dikhawatirkan bisa naik menjadi 500.000 per hari bahkan sebelum mencapai puncak gelombang kedua. Sebanyak 2.263 kematian dan 332.730 kasus baru Covid-19 lainnya dilaporkan di India kemarin. Tapi pengujian Covid-19 yang dilakukan secara terbatas meragukan total tersebut sesuai dengan fakta di lapangan.

Padahal Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan pada Februari bahwa negara itu ‘menginspirasi dunia’ dengan perang Covid-nya. Mereka mengumumkan kemenangan ketika ada sekitar 11.000 kasus sehari. Lonjakan tersebut dipicu oleh varian “mutan ganda”, yang dianggap lebih menular.

Namun, ahli virologi terkemuka India, Shahid Jameel mengatakan “terlalu banyak” mutasi telah tercipta. Dia mengklaim tingkat infeksi spiral dipengaruhi oleh kurangnya pesan bagi orang untuk mengambil vaksinasi pada Januari dan Februari ketika jumlah kasus turun.

Daily Mail pada Sabtu (24/4/2021) melaporkan, orang-orang telah mengemis oksigen atau bantuan medis di media sosial, dan kerumunan orang berkumpul di luar rumah sakit, dengan beberapa meninggal di tandu saat mereka menunggu.

Pada Rabu (21/4/2021), sebanyak 22 pasien meninggal di sebuah rumah sakit di Maharashtra, ketika pasokan oksigen mereka habis setelah tangki bocor. Kemarin 13 pasien Covid-19 lainnya meninggal ketika kebakaran terjadi di rumah sakit Mumbai.

“Keluarga saya telah melalui pengalaman yang mengerikan dalam seminggu terakhir, kami memiliki sepupu di rumah sakit yang meninggal dua hari yang lalu dan setiap 24 jam ada ancaman pemutusan oksigen,” kata Dr Jameel.

Pada akhirnya dia tidak berhasil (diselamatkan), tetapi penyiksaan mental terhadap kerabat yang mencari oksigen tidak tertahankan. Sayangnya situasinya sangat buruk, kami lengah dan itulah mengapa kami berada dalam situasi ini.(*)

  • Bagikan