Banda Aceh Harus Bebas Dari Eksploitasi Anak

  • Whatsapp
praktek eksploitasi anak
Foto: Doc AcehTrend

SETIAP anak yang dilahirkan telah mewarisi hak-haknya sebagai anak, seperti hak beristirahat, hak bermain, hak untuk memperoleh pendidikan yang layak dan hak tumbuh kembang optimal sesuai perkembangan usianya. Namun, tidak semua anak yang terlahir hidup dengan terpenuhi semua hak-hak itu.

Saat ini sangat banyak anak-anak yang dieksploitasi untuk bekerja mencari uang menggantikan tanggung jawab orang tuanya, seperti memanfaatkan anak menjadi pengemis, pemulung, pengamen, penjual di samping-samping jalan, buruh kasar dan lainnya.

Bacaan Lainnya

Kota Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh sering dijadikan tempat untuk melakukan praktek eksploitasi anak. Diantara praktek yang sering dijumpai adalah menggunakan anak-anak untuk menjadi pengemis dari warung ke warung dan juga sebagai penjual di samping-samping jalan tanpa didampingi oleh orang tuanya.

Anak-anak sering dipaksa oleh orang tuanya untuk mencari uang. Secara umur mereka seharusnya belum dibebankan untuk menjadi tulang punggung keluarga. Tapi karena mereka masih kecil sehingga sulit bagi mereka untuk membantah dan melawan apalagi orang yang menyuruh mereka adalah orang tuanya sendiri. Dengan menggunakan anak-anak pendapatan akan lebih banyak karena banyak pemberi dan pembeli yang iba.

Hasil penelusuran penulis, ada banyak anak-anak di luar kota Banda Aceh yang datang ke kota Banda Aceh untuk dijadikan pengemis dari satu warung ke warung atau di tempat-tempat keramaian. Mereka dipaksa untuk mengemis sedangkan orang tua mereka menunggu di luar warung.

Di tempat lain, penulis juga menemukan anak kecil yang masih duduk di kelas 1 SD berjualan “jambe kleng” di atas jembatan krueng Aceh tanpa adanya orang tua mereka hingga larut malam bersama kakaknya yang masih kecil juga. Ketika ditanyakan ternyata orang tua mereka dirumah. Selama ini mereka pergi sendiri dengan menyewa becak. Dari raut wajahnya, ada kesedihan yang menunjukkan jika mereka sebenarnya juga tidak ingin dipaksa untuk berjualan oleh orang tuanya.

Kita khawatir jika dari kecil anak-anak sudah di eksploitasi untuk mencari uang, akan banyak hak-hak mereka yang hilang. Belum lagi berakibat terganggunya proses pendidikan mereka yang berakhir dengan putusnya sekolah. Seharusnya tanggung jawab mencari uang bukan di pundak mereka, apalagi dipaksa mencari uang dengan menjadi pengemis yang dapat mendidik anak-anak menjadi generasi peminta-minta.

Oleh karena itu, sudah seharusnya pemerintah kota Banda Aceh membuat regulasi peraturan yang melarang adanya praktek eksploitasi anak di Kota Banda Aceh.

Kota Banda Aceh harus menjadi kota yang bebas dari praktek eksploitasi anak, pemerintah harus turun tangan dalam melakukan pencegahan dan siap memberi hukuman bagi para orang tua yang menjadikan anaknya sebagai tulang punggung untuk mencari uang, sedangkan orang tuanya terbukti mampu untuk mencari uang sendiri.

Tindakan ini penting untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak Aceh agar kelak mereka menjadi generasi yang cerdas dan kuat. Kedepan mereka bagian dari masa depan keluarga dan bangsa, jadi sudah sepatutnya sebagai kita melindungi dan memberikan mereka kehidupan masa kanak-kanak yang normal dan menyenangkan.

Tuanku Muhammad adalah Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Ar raniry, Anggota DPRK Banda Aceh Termuda terpilih Pemilu 2019.

fb. : Tuanku Muhammad

ig. : @tuankumuhammad

Pos terkait