Banjir Menjadi Bencana Terbanyak Terjadi di Aceh

  • Whatsapp

BANDA ACEH – Berdasarkan catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh dalam sepuluh tahun terakhir,bencana terbanyak terjadi di Aceh adalah banjir, wilayah terparah Aceh Tenggara, demikian kata Direktur Walhi Aceh Muhammad Nur kepada wartawan dalam konferensi pers dalam rangka peringatan hari bumi di Aula Gedung PWI Aceh, Senin (22/4) tadi siang.

Ia merincikan,berdasarkan catatan pada tahun 2017 di Aceh Tenggara terjadi sembilan kali banjir, kemudian tahun 2018 sebanyak tujuh kali, jika kita total jumlah bencana banjir dalam sepuluh tahun terakhir (2010-2019) mencapai 37 kali.

Bacaan Lainnya

Dalam rentan waktu tersebut, bencana banjir di Aceh Tenggara ikut merengut sembilan (9) orang meninggal dunia, 11 lainnya mengalami luka-luka, dan 38.722 jiwa jadi pengungsi, sebanyak 443 rumah rusak berat, 171 rusak sedang, 1.319 rusak ringan, dan 2.659 terendam, serta berbagai dampak lainnya juga terjadi, kerugian ditaksir mencapai Rp.215 milyar.

Penyebab banjir di Aceh Tenggara tidak terlepas dari berbagai faktor seperti praktek aktifitas ilegal di kawasan hutan yang ada di daerah hulu merupakan faktor utama, perambahan hutan dari catatan 50 titik terjadi ilegal logging di Aceh Tenggara, sedangkan upaya penegakan hukum, berdasarkan catatan WALHI Aceh dalam lima tahun terakhir, pada tahun 2019 ada 70 ton kayu ilegal disita dan ditangkap bersama 6 orang pelaku oleh aparat penegak hukum.

Untuk penyelamatan hutan dibutuhkan partisipasi masyarakat guna memerangi kondisi ini. Apa yang dilakukan oleh para Penghulu Kute pada tahun 2018 dapat dijadikan pembelajaran penting dan sebagai bentuk respon positif dari masyarakat.

Penghulu Kute melaporkan kasus perambahan dan ilegal logging kepada pemerintah setempat. Langkah seperti ini dapat dilakukan oleh semua komponen warga.

Koordinator YEL Aceh TM Zulfikar, menyebutkan pada,Senin 22 April 2019, lebih dari satu miliar orang di 192 negara diperkirakan ikut dalam hari global aksi politik dan sipil bagi Bumi. Orang-orang akan melakukan berbagai aktivitas seperti event seminar, diskusi, aksi jalanan, berpawai, menanam pohon, membersihkan kota, taman, pantai, saluran air dan berbagai aktivitas lainnya – semua untuk menandai Hari Bumi 2019. Earth Day Network (EDN), Jaringan Hari Bumi, organisasi yang memimpin perayaan Hari Bumi di seluruh dunia, menetapkan tahun 2019 ini sebagai tahun untuk “Melindungi Spesies Kita.” Hari Bumi, secara umum, memunculkan kesadaran yang lebih besar terhadap masalah lingkungan.

Jika tidak mampu memperbaiki, maka jangan merusak bumi. Pada hari bumi 22 April tahun ini mari kita mengajak semua kita, siapa saja tanpa terkecuali untuk peduli kepada nasib bumi.  Hari bumi penting untuk diperingati dan mengapa kita harus peduli dengan nasib bumi, hal ini tidak lain karena  kita semua perlu lebih sadar daripada hari-hari sebelumnya tentang perlunya kasih sayang dan perlindungan bagi lingkungan dan hutan kita.

Orang Indonesia, tentunya kita di Aceh, seharusnya lebih memahami kerusakan lingkungan dan perubahan iklim daripada kebanyakan orang, karena kita menghadapinya setiap hari dan hidup penuh dengan berbagai konsekuensinya.

Akhir Tahun 2018 dan Awal Tahun 2019, Kabupaten Aceh Tenggara telah terjadi bencana banjir bandang yang berulangkali.  Kejadian ini tentunya telah menimbulkan kekhawatiran, sekaligus keprihatinan kita semua.

Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) Aceh, mencatat banjir bandang pertama terjadi Senin (27/11) pukul 21.30 WIB melanda sejumlah desa di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Badar, Ketambe dan Kecamatan Leuser. Akibatnya tiga rumah hanyut  dan 40 lainya rusak. Tiga hari kemudian, tepatnya Jum’at (30/11) sekitar pukul 19.30 WIB banjir bandang kembali melanda Desa Natam Baru Kecamatan Bandar dan Desa Kayu Metangur di Kecamatan Ketambe yag mengakibatkan belasan rumah rusak dan hanyut.

Banjir bandang tersebut juga menutup akses jalan Aceh Tenggara dengan Sumatera Utara akibat jalan tergenang dan tertutup material batu dan pepohonan yang terbawa arus banjir bandang. Banjir bandang selanjutnya terjadi pada Rabu (26/12) sekira pukul 21.00 WIB kali ini terjadi di Desa Suka Makmur Kecamatan Semadam.

Terakhir banjir bandang kembali menerjang Desa Natam Baru Kecamatan Badar, terjadi pada minggu (30/12) sekitar pukul 21.30 WIB mengakibatkan belasan rumah rusak dan hanyut terbawa air, juga berdampak terhadap akses jalan yang menghubungkan Aceh Tenggara ke Sumatera Utara akibat material batu dan kayu gelondongan menutupi jalan.

Selanjutnya di tahun 2019, pada Selasa (19/1) telah terjadi banjir bandang kembali yang menyebabkan 19 Desa terendam banjir, masing-masing 8 Desa di Kecamatan Babussalam (Desa Kota Kutacane, Pulonas, Pulo Latong, Perapat Hulu, Perapat Titi Panjang, Kutacane Lama, Kutarih dan Gumpang Jaya), lalu 7 Desa di Kecamatan Lawe Bulan (Desa Pulonas Baru, Lawe Rutung, Pasie Gala, Bahagia, Kuta Galuh Asli, Perapat Timur, Pasir Bacang Lade), di Kecamatan Bambel sebanyak 3 Desa (Lawe Kiking, Bambel dan Bambel Gabungan) serta 1 Desa yakni Desa Natam di Kecamatan Ketambe.

Kejadian ini telah menyebabkan 160 jiwa penduduk mengungsi dan dua Desa di Kecamatan Ketambe terjadi bencana erosi/tanah longsor yang menyebabkan terhambatnya jalur transportasi antara Kutacane dengan Blangkejeren. Lalu catatan YEL, kembali terjadi banjir bandang pada hari Jum’at (29/3) yang berasal dari Daerah Aliran Sungai (DAS).

Pos terkait