Cek Midi, Putra Pidie Kolektor Manuskrip Aceh Dengan Modal Sendiri

  • Whatsapp
cek midi
Tarmizi A Hamid Kolektor Naskah Kuno Asal Pidie. Foto: Ist

SEJAK tahun 2000, Tarmizi A Hamid atau yang akrab dipanggil “Cek Midi” mulai mengumpulkan lembar demi lembar manuskrip kuno yang masih tersisa. Lebih dari 500 manuskrip kuno Aceh telah dikoleksi dan tersimpan di sudut rumahnya. Mulai dari mushaf Alquran kuno, buku Tasawuf, Tauhid, Hukum Islam, Ilmu Falak, hingga ilmu pengobatan.

Lembaran-lembaran naskah kuno tersebut sudah berwarna kecoklatan. Sebagian tidak utuh lagi karena rusak atau hilang. Beberapa lembar tampak berlubang dimakan rayap dan ngengat.

Bacaan Lainnya

Pria kelahiran Pidie, 31 Desember 1966 ini bukanlah seorang akademisi, sejarawan, ataupun kolektor benda antik bermodal besar. Ia seorang pegawai negeri di Badan Pengembangan Teknologi Pertanian (BPTP) dan juga bekerja di lembaga Majelis Adat Aceh (MAA) Banda Aceh.

Koleksi Tarmizi Berasal dari Masa Abad ke-17 hingga ke-19. 

Manuskrip kuno koleksi Cek Midi tersebut kebanyakan merupakan tulisan pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Artinya, usia buku-buku koleksi Tarmizi rata-rata sudah berusia tiga hingga abad.

Menurut Annabell Gallop, peneliti sejarah Asia Tenggara dari British Library, London, banyaknya temuan manuskrip dari abad 17 hingga abad 19, karena pada masa itu tradisi tulis-menulis memuncak di Aceh. Hal ini tak lepas dari kehadiran para penjajah dari Eropa yang memungkinkan kertas dapat didatangkan ke Aceh.

Kitab-kitab tersebut ditulis dalam aksara Arab-Jawi. Sebagian besar dituturkan dengan bahasa Melayu. Bahasa ini digunakan karena menjadi bahasa serantau atau lingua franca masa itu.

Dengan susah payah, Tarmizi mencari dan mengumpulkan manuskrip kuno Aceh. Hal ini dikarenakan manuskrip kuno itu tersebar hampir di seluruh wilayah Aceh, bahkan di provinsi-provinsi sekitarnya.

Tarmizi A Hamid Kolektor Naskah Kuno Asal Pidie. Foto: Ist

“Banyak orang yang masih menyimpan manuskrip tersebut, tetapi tidak menyadari betapa pentingnya itu sehingga tak dipelihara dengan baik,” sebut Tarmizi.

Tidak hanya di Aceh, Tarmizi bahkan berburu manuskrip kuno Aceh hingga ke pelosok-pelosok Sumatera Utara dan Riau. Kadang dia menukar kitab kuno itu dengan Alquran baru, beras atau padi. Ratusan juta rupiah sudah dia keluarkan untuk mendapatkan manuskrip-manuskrip tersebut.

Karena keterbatasan biaya, Tarmizi pun hanya bisa merawat koleksinya dengan cara tradisional. Kitab-kitab berusia ratusan tahun itu dibungkus kain putih, diberi kapur barus, lada hitam, lada putih, dan cengkeh.

Tak sekalipun dia mendapat bantuan dari pemerintah untuk pemeliharaan. Bantuan restorasi manuskrip kuno justru pernah datang dari Pemerintah Jepang usai tsunami 2004 lalu. Dari sekitar 500 koleksi Tarmizi, sebanyak 56 naskah kuno berhasil direstorasi. Sayangnya, Tarmizi kesulitan merestorasi naskah-naskah lain karena ketiadaan biaya.

Hal ini lantas tidak membuat Tarmizi menyerah. Dia pun memulai langkah untuk mendigitalisasi naskah-naskahnya ke komputer. Sebanyak 23 naskah kuno berhasil didigitalisasi. Dia kemudian mengajak kawannya yang peduli pada naskah kuno untuk mengalih-aksarakan naskah koleksinya dari Arab-Jawi ke latin.

Tak sia-sia, dua kitab rampung, yaitu Nazam Aceh (Syair Perempuan Tasawuf Aceh) karangan Pocut di Beutong dan Hujjah Baliqha Ala Jama Mukhashamah karya Jalaluddin bin Syekh Jamaluddin Ibnu Al Qadhi. Saat ini, Tarmizi dan kawannya sedang menyelesaikan alih aksara kitab lainnya.

Tarmizi tak pernah berfikir untuk menjual atau mengomersialkan koleksinya. Jerih payah dan uang ratusan juta rupiah yang digunakan untuk mendapatkan dan memelihara manuskrip-manuskrip kuno itu dia dedikasikan untuk pengetahuan generasi masa kini dan mendatang.

Manuskripnya sekarang hanya disimpan dalam lemari khusus miliknya yang terletak di desa Ie Masen Kayee Adang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Tidak ada fasilitas modern tempat menyimpannya, karena memang keterbatasan dana yang dia miliki.

Dari semua koleksinya, ada 20 manuskrip yang belum bisa dibaca karena kondisi naskah kuno tersebut sudah usang dan tulisannya sudah tak terlihat. Akan tetapi dia memastikan naskah kuno ini menggunakan bahasa melayu, bahasa Aceh dan Arab.

Sembari membersihkan manuskrip kuno yang diperlihatkan sebagian di atas meja di ruang tamu rumahnya. Ada sekitar 10 manuskrip yang diperlihatkan, secara perlahan dia membuka setiap lembar naskah kuno yang berharga itu.

“Kalau mau kita buka, mau melihat isinya, harus pelan-pelan, karena manuskrip ini ada yang sudah berusia 400 tahun,” jelasnya.

Biodata Diri

Nama Lengkap : Tarmizi Abdul Hamid

Panggilan : Cek Midi

Profesi :  Pegawai Negeri Badan Pengembangan Teknologi Pertanian (BPTP) dan Lembaga Majelis Adat Aceh (MAA) Banda Aceh.

Agama : Islam

Tempat Lahir : Sigli, Pidie, Aceh, Kamis, 31 Desember 1966

Istri : Nurul Husna

Anak : 3 orang, Salsabila Humaira, M Rafi Halis dan Bin Tarmizi.

Koleksi  :

Nazam Aceh, Syair Perempuan Tasawuf Aceh karangan Pocut di Beutong.

Hujjah Baliqha Ala Jama Mukhashamah karya Jalaluddin bin Syekh Jamaluddin Ibnu Al Qadhi. 

Pos terkait