Daniel Abdul Wahab: “Mengapa Bahas Poligami, Kalau Telor Masih Punya Orang Medan”

  • Whatsapp
masalah poligami
Politisi muda Banda Aceh Daniel Abdul Wahab. Foto: Ist

BANDA ACEH – Masalah Poligami yang menjadi salah satu ketentuan yang dibahas dalam Rancangan Qanun Hukum Keluarga yang sedang digodok Komisi VII DPR Aceh, masih terus menuai pro dan kontra. Sejumlah pihak menilai draf qanun tersebut belum urgen untuk dibahas, bahkan tidak relevan dalam dengan kondisi perekonomian rakyat Aceh saat ini.

Salahsatu tanggapan keberatan terhadap pembahasan Poligami diungkapkan politisi muda Banda Aceh, Daniel Abdul Wahab. Menurutnya, masih banyak hal yang lebih mendesak untuk dibahas yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat Aceh, termasuk pengesahan anggaran tepat waktu agar silpa jangan terlalu besar.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: FPI Aceh Setuju Qanun Poligami, Tgk. Muslim : “Niat Untuk Jihad”

“Lebih penting melahirkan qanun yang bisa mensejahterakan rakyat, agar rakyat bisa menikmati hasil pembangunan,’’ kata Daniel kepada Kanalisnpirasi.com, Senin (8/7).

Daniel juga menyebut pembahasan poligami tidak urgen dibahas saat kondisi kemiskinan di Aceh masih tinggi, dengan penduduk miskin mencapai mencapai 830 ribu lebih atau 15% dari jumlah penduduk Aceh. Ditambah pertumbuhan ekonomi Aceh yang hanya sebesar 4,61%, lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi nasional 5,1%.

“Mengapa kita membahas poligami, kalau telor kita saja masih supply dari Medan,’’ kata politisi  partai Nasdem tersebut.

Lebih lanjut Daniel menyebut tanpa sebuah qanun-pun, hukum Poligami sah dan sudah diatur dalam agama Islam dan bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah memahami dan memenuhi syarat serta kemampuan, sesuai Alquran dan Hadis.

Namun qanun poligami yang dibahas DPRA, kata Daniel, hanya akan menciptakan kegelisahan ditengah masyarakat, terutama bagi kaum ibu terutama yang berstatus istri pertama. Qanun ini nantinya hanya akan berpotensi menimbulkan konflik keluarga, peningkatan angka perceraian dan gangguan psikologis bagi anak-anak.

“Tidak berlebihan kalau saya sebut pembahasan Poligami sekarang hanya mengikuti hawa nafsu. Jadi lebih banyak Mudharat daripada manfaat,’’ lanjut anggota DPRK Banda Aceh termuda periode 2014 yang terpilih kembali Pemilu 2019 lalu.

Daniel menegaskan dirinya tidak anti Poligami sebagai salahsatu ibadah dalam hukum Islam dan mempersilahkan masyarakat yang mampu dan memenuhi syarat untuk berpoligami. Hukum tersebut sudah dilaksanakan sejak jaman nenek moyang orang Aceh, jadi DPRA  diminta tidak mencari sensasi dengan hal yang tidak urgen tersebut.

“Hemat saya qanun tentang poligami itu tidak perlu tanpa qanun pun sudah berjalan sendiri dari nenek monyang kita. Karena bagi yang memahami makna sesungguhnya tentang poligami, tujuan poligami menurut Alquran dan Hadist, ya silahkan saja,’’ pungkasnya. (*)

Pos terkait