Dayah Bukan TPA (Tempat Pembuangan Akhir)

  • Whatsapp
kata dayah

 

Opini Oleh : Zuhdi Anwar

Kata dayah berakar dari kata zawiyah, arti secara harfiah (literal) adalah sudut. Pemilihan kata ini karena dahulunya setiap kumpulan jamaah yang diisi dengan pembelajaran agama, berada di sudut mushalla, mesjid dan surau. Keberadaan sudut-sudut ini sudah ada sejak masa Rasulullah saw., hingga di tanah Aceh kumpulan sudut ini menjadi sebutan dayah, sedangkan di luar Aceh disebut pesantren dengan makna yang sama.

Sejak keberadaan dayah pada awalnya di Cot Kala, dayah menjadi satu-satunya lembaga pendidikan dan pengajaran non-formal. Di dayah, asupan-asupan keagamaan dapat diperoleh secara gratis, tak terkecuali pembentukan akhlakul karimah juga ditempa dari hari ke hari. Inilah nilai tak terharga dari sebuah dayah, dari dulu hingga sekarang.

Dalam perkembangannya, dayah makin menjadi primadona di kalangan masyarakat Aceh. Hampir sebagian besar masyarakat pedalaman maupun perkotaan; menaruh harapan besar dalam pembentukan akhlak dan pendidikan anak-anak mereka dalam memahami agama Islam. Tak hanya itu, dayah di masa kini  makin menjamur di seluruh bagian dataran Aceh. Dayah menjawab hasrat masyarakat yang ingin menyelamatkan anaknya (generasi) dari berbagai masalah sosial seperti: narkoba, perjudian, ugal-ugalan dan lain-lain.

Peran Dayah Bagi Masyarakat

Sejak kemunculan pertama kali, dayah telah menampakkan pengaruh baik. Lihat saja, sebagian besar sarjana-sarjana dayah yang telah comeback (kembali) ke kampung halaman menjadi lampu-lampu penerang akan gelapnya ketidaktahuan di desa-desa. Hal ini karena memang begitulah kesejatian mereka. Katakanlah tidak semua dari mereka mampu menjadi penganjur kesalehan, tapi minimal tidak menimbulkan kerusakan dan keburukan saat berada di desa. Biasanya pula, kembalinya sarjana ke desa disambut dengan suka-cita oleh masyarakat.

Di masa-masa sekarang, saat ilmu agama didapatkan begitu mudah hanya dengan sekali klik tombol telepon pintar dengan andalan mesin pencari google, dayah belum kehilangan daya magisnya. Artinya, tugas dan peran masyarakat dayah dalam membumihanguskan kebodohan terhadap agama, di tengah-tengah banjir informasi masih terus berlangsung dan langgeng dengan semestinya.

Masyarakat dayah, yang sudah “cukup umur” dalam mencari ilmu, bukan hanya menjadi penganjur kesalehan bagi masyarakat. Mereka menjelma sebagai sebuah gudang, di mana sebagian besar kebutuhan masyarakat dapat tertampung dalam gudang tersebut. Lebih lanjut, alumni dayah menjadi pelipur lara bagi tiap keresahan, tempat berdiskusi bagi setiap masalah yang dihadapi.

Penganjur kebaikan banyak memang, tapi yang bisa bekerja layaknya alumni dayahhampir tidak ada. Mereka sengaja diciptakan dan ditempa untuk bekerja sampai mati; kerja kemanusiaan. Ini adalah profesi yang tak kan pernah selesai hingga mati. Sebab memanusiakan manusia merupakan sebuah proses sepanjang masa demi terlaksananya cita-cita memakmurkan bumi.

Dalam proses pembentukan karakter dan kesejatian diri, masyarakat dayah mengalami aneka rintangan. Memang tiap sesuatu ada rintangannya. Tergantung tinggi dan mulianya sesuatu yang ingin dicapai; makin mulia sesuatu yang ingin diperoleh maka kian rumit aral melintangnya, begitu sebaliknya.

Maka ilmu agama sebagai sesuatu yangpaling mulia di dunia, untuk mendapatkannya sama sekali tidak mudah. Tantangan untuk mengaji (menjadi santri) dalam waktu yang lama di dayah, diakui berat oleh banyak lulusan dayah. Bahkan ada banyak cerita hanya mampu bertahan (menjadi santri) 1 hingga 2 bulan di dayah, lalu pulang kampung tanpa berani kembali lagi ke dayah.

Wajar saja, bagi alumni dayah yang mampu bertahan 10-20 tahun lamanya, mereka memiliki pengaruh positif saat kembali ke kampung halamannya. Mereka mampu menyemai kedamaian, pengetahuan, tingkah laku yang dapat diterima oleh kebanyakan masyarakat. Kenapa ini terjadi? karena mereka telah melewati proses yang panjang selama menimba ilmu.

Asumsi Dayah Sebagai TPA?

Kita menyayangkan, masih ada orang-orang yang berasumsi bahwa dayah juga menjadi opsi terakhir bagi pendidikan anak. Adatnya, anak ‘bandel/terlihat kurang cerdas’ atau yang sudah cukup lelah dengan kebobrokan akhlak dijebloskan ke dayah.

Fakta yang tidak bisa terbantahkan bila dilihat lebih dalam adalah4 dari 10 santri baru tidak bisa baca-tulis bahasa Indonesia dengan baik. Yang lebih menyedihkan lagi, 8 dari 10 santri baru tidak lancar membaca al-Quran. Padahal, soal kelancaran membaca al-Quran dan tulis-menulis dasar mestinya sudah harus dituntaskan di rumah,  untuk kemudian santri baru siap bertempur dalam peperangan mencari ilmu yang melelahkan.

Ada pesan khusus dan mainstream, yang sering dilontarkan wali santri saat menyerahkan anaknya ke pengasuh di dayah. “yang brok neu cok keu droe neuh teungku, yang get neujok keu kamoe”. Pesan ini sekilas lalu betul dan benar adanya. Namun, apa cerita jika “titipan” itu sudah cukup punya dunia sendiri yang tak bisa dikatakan baik.

Kita begitu heran. Kenapa tidak anak-anak yang diantar ke dayah sama atau paling tidak sedikit lebih rendah keadaannya dengan anak-anak yang diantar ke sekolah, perguruan tinggi yang bergengsi? Kenyataan demikian, makin meyakinkan kita betapa kekuatan magis dayah masih berlaku, setidaknya hingga sekarang. Hingga tugas-tugas berat mendidik generasi yang “dianggap produk gagal” menjadi tugas dayah untuk menjadikan berlian berwarna dan menjadi generasi berguna.

Kita seharusnya bisa memahami bahwa dengan mengantarkan putra-putri terbaik, kita telah berinvestasi dalam memproduksi manusia-manusia gemilang untuk kemajuan bangsa kedepan. Posisi ini bukan berarti dayah ‘enggan’ menerima santri yang berlatar belakang “bodoh” tetapi cukup sudah anggapan bahwa yang cerdasdidorong ke sekolah umum, yang lemahdijebloskan ke dayah. Kalau anggapan ini masih ada, maka rugi bukanlah dayah, tetapi orang tua santri sendiri. Bagi pengasuh dan para guru-guru di dayah selalu bersyukur dan siap mendidik siapa saja, dan bagaimanapun kondisi santri yang ingin menuntut ilmu.

Sudah saatnya anggapanbahwa dayah adalah tempat pembuangan akhir (TPA) bagi pendidikan anak harus dihilangkan.

Zuhdi Anwar adalah Maha Santri Ma’had Aly Raudatul Ma’arif juga aktif sebagai pengajar Dayah Raudhatul Ma’arif Cot Trueng. Penulis bisa dihubungi melalui email: zuhdi.anwary@gmail.com.

Pos terkait