Debat Pilpres, Jokowi Apresiasi Petani Jagung dan Padi

  • Whatsapp
debat pilpres jokowi apresiasi petani jagung dan padi

Kanalinspirasi.com, Jakarta – Calon Presiden Nomor Urut 01 Joko Widodo (Jokowi) mengapresiasi peran para petani jagung di sejumlah daerah yang telah bekerja keras meningkatkan angka produksi jagung hingga 3,3 juta ton, sehingga Indonesia mampu mengurangi impor secara drastis.

“Terimakasih pada para petani jagung karena Indonesia berhasil produksi 3,3 juta ton jagung, sehingga impor kita turun drastis dari 3,5 juta ton/tahun, menjadi 180 ribu ton tahun lalu,” kata Jokowi dalam debat Pilpres di Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Minggu (17/2/19) malam.

Bacaan Lainnya

Menurut Jokowi, para petani sangat berjasa karena telah berkontribusi besar pada stabilnya harga dan terpenuhinya pasokan stok. Di samping itu, keberhasilan ini mampu ditopang oleh kerja keras pemerintah yang memotong rantai pasok komoditas pertanian.

“Semua itu kami kerjakan agar petani dan konsumen menikmati harga yang sangat layak,” katanya.

Jokowi mengaku bangga karena usaha petani dan kerja keras pemerintah mampu bersinergi secara baik untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Apalagi, produksi jagung selama empat tahun terakhir sudah mencukupi kebutuhan pakan ternak secara menyeluruh di seluruh daerah.

Selain jagung, Jokowi juga mengapresiasi petani padi yang juga berhasil menurunkan impor pada tahun 2014. Kemudian situasinya berubah drastis karena Indonesia mampu mencapai swasembada sesuai ketetapan Food and Agriculture (FAO), dimana produksi Indonesia sudah 90 persen mencukupi kebutuhan.

“Di bidang beras sejak tahun 2014 impor kita turun dan produkai beras kita sudah swasembada. 2018 produksi 33 juta ton beras, konsumsi kita 29,6 juta. Artinya ada surplus sebanyak 3 juta ton. Kemudian kenapa kita impor, kebijakan itu untuk stok dan cadangan ketika kita mengalami gagal panen, bencana dll,” katanya.

Menurut Jokowi, tantangan pemerintah yang perlu diselesaikan secara cepat adalah menjaga keseimbangan harga. Langkah menstabilkan harga perlu agar para perani senang dan untung.

“Kalau kita hanya menaikan harga, masyarakat pasti menjerit. Disinilah fungsi pemerintah agar 22 nya mendapat keuntungan,” katanya.

Seperti diketahui, sejak tahun 2014 rekomendasi pemasukan jagung sebagai pakan ternak mencapai 3,16 juta ton. Tapi angka itu menurun pada tahun 2015 menjadi sebesar 13,34 persen atau 2,74 juta ton. Selanjutnya menurun drastis pada 2016 sebesar 67,73 persen atau 884,6 ribu ton. Kemudian zero impor pada tahun 2017.

Sektor jagung sebagai salah satu komponen bahan pakan telah berkontribusi besar hingga 40 bahkan 50 persen. Setidaknya diperlukan jagung sebanyak 7,8 juta ton untuk industri pakan dan 2,5 juta ton untuk peternak mandiri dari total produksi pakan tahun 2018 yang mencapai 19,4 juta ton.

Sebagaimana rujukan data, dalam kurun waktu 22 tahun terakhir (1993-2015) Indonesia mengalami pergeseran sentra produksi jagung, dari pulau Jawa ke Sumatera dan wilayah Timur Indonesia seperti: Sulawesi, Kalimantan dan Nusa Tenggara. Meskipun dominasi produksi jagung tetap di pulau Jawa, namun terjadi pergeseran dari 62,26 persen (1993), menjadi 54,1 persen (2015).

Pos terkait