Dewan Atsiri Aceh Gelar Musker, Dr. Mustafril Jabat Ketua DAA Periode 2021-2026

  • Whatsapp
Dewan Atsiri Aceh (DAA) menggelar Musyawarah Kerja untuk melakukan re-organisasi kepengurusan baru sehubungan dengan berakhirnya masa bakti pengurus lama 2016-2021, Senin (12/7/2021) di Aula Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Aceh.

BANDA ACEH –  Dewan Atsiri Aceh (DAA) menggelar Musyawarah Kerja untuk melakukan re-organisasi kepengurusan baru sehubungan dengan berakhirnya masa bakti pengurus lama 2016-2021, Senin (12/7/2021) di Aula Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Aceh.

Musyawarah Kerja re-organisasi kepengurusan baru sehubungan telah berpulang ke rahmatullahnya ketua DAA sebelumnya, Almarhum Prof. Dr. Ir. Anshar Patria, M.Sc.

Musyawarah dihadiri oleh unsur-unsur pengurus DAA sebelumnya terdiri dari berbagai perwakilan dinas teknis, akademisi, pakar atsiri dan perwakilan komunitas dan pelaku industri bidang atsiri (Nilam, Pala, dan Sereh Wangi) di Provinsi Aceh.

Kepala Bidang Pengembangan Industri Agro dan Manufaktur Disperindag Aceh, Ridwan, S.Hut, M.Sc, dalam sambutannya membuka musyawarah menyampaikan, bahwa Dewan Atsiri Aceh dalam peran dan fungsinya memegang peranan penting dalam mempersatukan seluruh pemangku kepentingan minyak atsiri di Aceh, meningkatkan daya saing produk minyak  atsiri dengan provinsi lain serta mendorong pengembangan semua produk minyak atsiri, turunan dan produk lain yang terkait.

“Di masa depan Dewan Atsiri Aceh ini harus mampu mendukung Pemerintah Aceh dalam merumuskan dan menyusun strategi pengembangan minyak atsiri Indonesia dan khususnya Aceh ,’’ kata Ridwan.

Dirinya berharap DAA juga bersama-sama dengan Perguruan Tinggi dan OPD teknis terkait akan mampu menjadi pusat informasi bagi pengembangan minyak atsiri di Aceh dari semua aspek yang berkaitan dengan Teknologi dan Keperantaraan Pasar.

“Dewan Atsiri Aceh harus mengupayakan dukungan kebijakan pemerintah bagi pengembangan usaha minyak atsiri,” lanjutnya.

Dewan Atsiri Aceh (DAA) sebagai suatu wadah bagi pemangku kepentingan agribisnis dan agroindustri berbasis minyak atsiri (essential oils) di Provinsi Aceh yang bertujuan untuk memajukan agribisnis dan agroindustri minyak atsiri untuk kesejahteraan seluruh pemangku kepentingan pada khususnya dan masyarakat aceh pada umumnya.

Dalam kegiatan rapat kerja yang berlangsung secara khidmat dan penuh kekeluargaan ini, secara aklamasi diputuskan oleh para peserta yang hadir untuk menunjuk Bapak Dr. Mustafril, ST, M.Si sebagai ketua Dewan Atsiri Aceh (DAA) untuk periode 2021–2026.

Dr. Mustafril, ST, M.Si jabat Ketua Dewan Atsiri Aceh (DAA) untuk periode 2021–2026.

Dr. Mustafril merupakan sosok yang tidak asing lagi sebagai pelaku dan pakar minyak atsiri yang telah malang melintang di berbagai wilayah di Aceh dan Indonesia, khususnya pengembangan komoditi pala dan minyak pala (nutmeg oil) serta menjadi pakar Pala Sambung (grafting) yang telah merambah ke berbagai provinsi lain di Indonesia seperti Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Papua Barat.

Dalam sambutannya, pasca terpilih menjadi ketua Dewan Atsiri Aceh yang baru, menyampaikan, komoditi minyak atsiri menjadi salah satu komoditi Industri Prioritas Nasional 2015-2035 termasuk dalam pengembangan Industri Agro.

“Peluang dan potensi yang minyak atsiri di Provinsi Aceh perlu dikelola dengan baik melalui kolaborasi multipihak antara pemerintah Aceh, Perguruan Tinggi, Pelaku Bisnis Atsiri,” kata Dr. Mustafril yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Pala Aceh dan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Pala Tapaktuan Blangpidie (MPIG PTB).

Provinsi Aceh merupakan produsen utama untuk minyak pala (nutmeg oil), minyak nilam (patchouli oil), minyak sereh wangi (citronella oil), dan getah pinus (turpentin). Selain itu minyak atsiri tersebut juga Provinsi Aceh mempunyai potensi pengembangan minyak kayu putih (cajaput oil),  minyak daun cengkeh (clove leaf/steam/bud oil), minyak cendana (sandalwood oil), dan minyak gaharu (agarwood oil).

Berdasarkan data potensi nasional minyak atsiri, hasil wawancara dengan beberapa eksportir oleh  oleh Dewan Atsiri Indonesia (DAI) dalam rapat kerja DAI Tahun 2020, antara lain: getah pinus 14.500 – 15.000  ton, minyak cengkeh 4.000 – 4.300 ton, minyak nilam 1.300-1.400 ton, minyak serehwangi 1.800 – 2.000 ton, minyak kayu putih  500-600 ton, minyak pala 200-250 ton, minyak cendana 0,1-0,2 ton, dan minyak gaharu 0,2 – 0,3 ton.

“Dewan Atsiri Aceh akan memposisikan diri sebagai lembaga mediasi, komunikasi, dan penerapan Model Keperantaraan Pasar Minyak Atsiri ditingkat Provinsi Aceh, Nasional dan Internasional dengan fasilitasi jaringan Dewan Atsiri Indonesia (DAI),” pungkas Dr. Mustafril.(*)

Pos terkait