Empat Orang Buta Yang Menganalisa Seekor Gajah

  • Whatsapp
empat orang buta

KANALINSPIRASI.COM – Ada empat orang buta menganalisa tentang gajah, analisisnya kaku karena keterbatasan dengan penilaian saat mendengar dan memegang gajah. orang buta yang pertama : berasumsi gajah adalah hewan yang memiliki belalai yang panjang. Orang buta kedua : berasumsi gajah hewan yang memiliki kaki besar. Orang buta ketiga : berasumsi gajah hewan yang memiliki telinga yang lapang. Orang buta keempat : berasumsi gajah hewan yang memiliki badan yang besar.

Dari empat analisa diatas semuanya benar sebab keseluruhan adalah bahagian dari definisi dari seekor gajar dan secara umum gajah bisa didefinisikan dengan empat asumsi tersebut, khususnya pun gajah tidak luput dari definisi serta asumsi itu, artinya ada empat paradigm yang benar terkait gajah dan menyalahi salah satu definisi diatas tidaklah benar. Karena mereka menganalisa sesuai dengan ekperimennya.

Namun apalah makna dibalik itu, adalah kita perumpamaan orang buta di yang menilai seekor gajah. Bukan buta mata secara dhzahir namun buta akan ideologi, pola fikir yang failed atau sama sekali tidak memahami akan satu persoalan dan permasalahan.

Sejauh ini kita hanya meraba dan menerka akan jawaban terhadap satu persoalan tanpa memahami serta mengkaji dengan mendalam. seyogyanya untuk mencari sebuah kebenaran tidak cukup dengan satu sudut pandang atau persepsi, dan idealnya pun semakin terbuka pola fikir seseorang akan semakin mudah mencari jawaban atau kebenaran.

Empat asumsi diatas telah teruji dengan pengalaman mereka masing-masing saat memegang gajah, secara teori persepsi mereka terhadap gajah sudah benar namun menjadi salah ketika mereka menyalahkan orang lain dan membenarkan persepsi mereka masing-masing. Setiap bani adam yang terlahir kedunia ini membawa potensi, sekurang-kurangnya ia membawa potensi untuk mencari sebuah kebenaran akan kehadirat Tuhan Maha Kuasa yang telah mencipatakan tujuh petala langit dan bumi serta menjamin hak nan rizki hambanya dilangit dan dibumi.

Dari anilisis di atas kita memahami orang buta pertama menganggap gajah hewan yang memiliki belalai panjang, karena ia memulai mencari kebenaran tentang gajah dari memegang belalalainya. Orang buta kedua mengklaim gajah hewan memiliki kaki besar, yang mana sesuai dengan eksperimennya ketika memegang kaki gajah. Orang ketiga mengakui gajah hewan yang memiliki telinga lapang atas dasar analisisnya dan orang keempat berpandangan bahwa gajah hewan yang memiliki badan besar karena ekperimennya diawali pada kaki gajah.

Kita tidak mampu membayangkan bagaimana jika empat orang buta berdebat dan bersikeras dalam mempertahankan argumen dan ide masing-masing, padahal keempat fahamnya itu benar dan sesuai dengan eksperimen, mereka hanya berbeda langkah awal dalam mencari sebuah kebenaran.

Kerdilnya pola fikir tidak menguntungkan pribadi seseorang, bahkan ia senantias terjerumus pada taqlid atau fanatik akan satu persoalan yang dihadapkan padanya. Islam senantiasa menuntun muslim untuk bertabayyun, tafsir, dan kemudian mentaqrirkan istinbath dari sebuah persoalan.

Kehidupan bermasyarakat tidak lekang dari isu, propaganda, gosip sampai adu domba antar manusia yang bahkan berujung brutal, satu manusia memakan manusia dan yang lain memakan yang lainnya. Begitulah yang digambarkan cendikia, intelektual sejauh ini diruang publik. Keadaan yang demikian diperkeruh oleh satu faktor yaitu kerdilnya ruang lingkup dalam berfikir, menganalisa hingga membangun opini.

Malapetakanya publik mengkonsumsi setiap berita, argumen, hingga opini yang beredar tanpa adanya tabayyun atau mengkaji. Kebebasan pers di indonesia merupakan sebuah kebijakan yang patut diapresiasi namun itu juga menjadi bomerang bagi publik saat tidak adanya filter dalam membatasi pikiran dan pola fikir yang dipengaruhi oleh media.

‘’Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (menelaah dan mengkaji)’’ (Al-Hujarat 49:6)

Dalil ini sebagai perintah bahwa seorang muslim berkenan mengatur ideologi, paradigma akan sebuah persoalan, permasalahan, kabar. Dan dalil diatas juga bagan dari teguran terhadap seorang muslim yang tidak mau tabayyun dalam melihat problematika, singkatnya membentengi diri dengan tabayyun untuk mengkaji, menelaah, mencari kepastian dari sebuah persoalan.

Secara kontekstual tabayyun tidak hanya mencari dan menelaah persoalan agama saja tapi mencari referensi serta melakukan pengkajian setiap persoalan-persoalan yang belum menitik terang, guna seorang muslim tidak terlena dengan kefasihan kata dan ketegasan kalimat-kalimat tertulis ataupun tidak. Lagi dan lagi islam hadir bukan untuk memenage rukun iman dan islam saja tapi bagaimana mengatur pola fikir, ideologi, berpendapat hingga membangun opini yang tata caranya tertuang dalam islam lewat Al-HudaNya.

Dan sekaligus, dalil ini membuktikan bahwa kecenderungan muslim akan linglung jika terjebak pada satu situasi layaknya empat orang buta saat menganalisa serta menerjemahkan seekor gajah, akibat tidak mengekedepankan tabayyun dalam menyikapi problematika hidup hingga permasalahan ummat.

Pemuda estafet bangsa dan negara harus mengerti bagaimana cara memasukkan makna tabayyun dan tujuannya menyiasati persoalan-persoalan yang kian mencuat seperti, politik, pendidikan, ekonomi, budaya dan sosial.

Berapa banyak pemuda-pemudi yang mengaku dirinya aktivis dan gencar menyuarakan pro-rakyat namun mereka terjebak dalam satu permasalahan yang mereka anggap biasa-biasa saja, padahal ia sendiri dijadikan kamuflase untuk kepentingan oknum semata. Bahkan ada yang terjebak oleh isu tidak layak untuk diperbincangkan yang dibangun oleh oknum-oknum jahil. Lagi-lagi pemuda harus bergerak cepat dalam membentengi diri dengan tabayyun.

Tidak bermaksud menghina atau mendekreditkan tuna netra tapi perumpamaan mereka yang tidak memakai mata dan hati dalam melihat persoalan adalah tuna netra yang sebenarnya dan contoh terburuk bagi public. Memasuki tahun 2020 mari kita kembali kepada idealnya pemuda-pemudi terutama dalam melakukan tabayyun terhadapa persoalan, dimulai pada diri sendiri, lingkungan hingga halayak ramai.

Wallahu Muwafiq Ila Aqwamith Thariq, Wassalam.

Pos terkait