Etika, Integritas, dan Profesionalitas Jurnalis

  • Whatsapp
aji alinasi jurnalis independen
Foto: Doc Pri

Oleh: Dr Firdaus Muhammad – (Ketua Majelis Etik AJI Kota Makassar)

KANALINSPIRASI.COM – Konferensi Kota Alinasi Jurnalis Independen (Konferta-AJI) Kota Makassar digelar 21-24 Maret 2019 yang dirangkaikan sejumlah kegiatan. Konferta membahas capaian kinerja pengurus sekaligus memilih ketua dan sekretaris baru.

Sebagai bagian dari AJI, saya memberikan catatan-catatan menyambut hajatan tersebut. Tentu terkait bidang saya, majelis etik AJI.

Pemberitaan pelbagai peristiwa melalui ragam media, termasuk online yang makin berkembang, semata memenuhi hak publik untuk mendapatkan informasi yang benar dan bertanggung jawab.

Bukan semata informasi, tapi juga nilai edukasi publik melalui pemberitaan yang beretika menjadi keniscayaan.

Kehadiran media berhasil membentuk opini dan mencerdaskan publik sehingga pola pikir dan perilaku masyarat, turut dipengaruhi dari pemberitaan media yang mereka akses.

Di tengah dahsyatnya perkembangan media di era digital ini, mengharuskan dilakukannya konvergensi media, menuju guna beradaptasi dengan perkembangan teknologi komunikasi digital dan kebutuhan masyarakat terhadap informasi secara cepat dan tepat, nyatanya berdampak terhadap kinerja jurnalis merawat etika, integritas dan profesionalitasnya.

Keinginan memenuhi kebutuhan masyarakat ihwal pemberitan yang cepat, akurat dengan data yang tepat menjadi tantangan serius.

Jalan pintas kadang ditempuh, menggali informasi dari berbagai narasumber tanpa harus turun langsung menyaksikan peristiwanya atau merujuk citizen yang di-share di media sosial. Hal ini berpotensi akan lahirnya berita yang tidak akurat sekalipun cepat.

Kadangkala ditemukan judul sangat menjual, menghentak kesadaran publik atau lahir rasa penasaran. Tapi seringkali judul beritanya lebih bombastis dibanding isinya yang dangkal, terlebih tidak memenuhi unsur berita 5 W + H.

Informasi yang diperoleh pembaca hanya sepenggal, tidak utuh. Sejatinya belum dikategorikan berita karena tidak memenuhi unsur berita apalagi nilai beritanya.

Kondisi ini mengharuskan jurnalis tetap mengedepankan integritasnya, konsisten dengan prinsip-prinsip dan karakter yang kuat sebagai jurnalis.

Selain profesional dalam mewartakan peristiwa kepada publik, selain informatif sesuai standar dan muatan nilai beritanya, juga terpenting beritanya edukatif, bukan provokatif.

Ragam berita yang diakses masyarakat, tidak terkecuali media sosial yang sebagian besarnya sulit diklarifikasi, tetapi opini publik terlanjur terbentuk dan sulit dikendalikan.

Informasi yang berseliweran menjadikan pembaca terpapar informasi yang bermuara para posisi fragmentatif bahkan hoax.

Etik Jurnalis
Tanggungjawab jurnalis dibangun dari sinergitas etika, integritas, dan profesionalitas. Dalam kode etik AJI termaktub sedikitnya 21 rincian etik yang harus dipatuhi.

Prinsip-prinsip etik AJI, jurnalis menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, mengujinya sesuai fakta, sehingga tidak bercampur antara fakta dan opini.

Kini banyak berseliweran di media sosial asumsi yang turut berkontribusi atas lahirnya pemahaman yang keliru.

Dalam konteks ini, AJI menjadi garda terdepan dalam melawan hoax dan pemberitaan provokatif, tidak berimbang sehingga melahirkan kebimbangan pada masyarakat.

Di sisi lain, jurnalis menjunjung etika dengan tidak menyembunyikan informasi penting yang berkaitan dengan kepentingan publik.

Sebaliknya, menjadi tempat bagi masyarakat untuk menyuarakan pendapat, tentu dengan mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan keberimbangan dalam peliputan dan pemberitaannya.

Tantangan AJI
Semangat independensi AJI terus dijaga, para jurnalis yang bernaung di institusi ini menolak intervensi berbagai kalangan yang ditengarai menghambat kebebasan pers dan independensi ruang berita.

Demi menjaga independensi dan integritasnya, seluruh jurnalis AJI dipastikan menolak segala bentuk suap.

Jangankan suap, perilaku yang mengarah pada laku tidak independen atau menyimpang dari etika AJI, pastinya diproses secara internal di majelis etik AJI.

Meskipun minim laporan terkait dugaan anggota AJI yang ditengarai mengarah pada tindakan melanggar etik, pastinya diproses untuk tujuan edukasi agar tindakan melanggar etika tidak terjadi. Prosesnya lebih edukatif demi menjaga marwah institusi AJI.

Sejauh ini, belum ada anggota AJI yang mendapat sanksi dengan alasan melanggar etik itu. Tapi beberapa kolega diminta melakukan klarifikasi sebagai komitmen menjaga independensi AJI.

Etik AJI diberlakukan bukan semata dalam perilaku di lapangan, tapi juga terkait konten pemberitaannya.

Misalnya, jurnalis menjaga kerahasiaan sumber informasi konfidensial, identitas kejahatan seksual, tidak menyajikan berita yang mengumbar kecabulan, kekejaman, kekerasan fisik dan psikologi.

Dalam merawat independensi jurnalis, AJI juga mengatur dalam kode etik bahwa jurnalis menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah, tidak berikad buruk, menghindari fitnah termasuk hoax, atau pencemaran nama baik dan pembunuhan karakter.

Di tengah tingginya kesadaran publik mengakses ragam informasi serta makin mudahnya masyarakat melakukan publikasi personal mengakibatkan pemberitaan hoax semakin massif, apalagi di tahun-tahun politik.

Munculnya berbagai informasi hoax oleh pihak tidak bertanggung jawab atau semata abai karena mengira konten benar sehingga langsung share, padahal hoax.

Dalam konteks inilah, AJI menghadapi tantangan untuk melawan hoax dengan menyajikan berita benar yang dapat dijadikan rujukan masyarakat, bahkan turut aktif melakukan literasi media, dengan tetap menjaga etika, integritas dan profesionalitas sebagai jurnalis.


Sumber: Tribunnews.com

Pos terkait