Guru Pesantren di Yogyakarta Cabuli Santri Berulang Kali Modus Minta Pijat

  • Bagikan

Kanalinspirasi.com, YOGYAKARTA – Seorang pengasuh pondok pesantren di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, berinisial MSM, tega mencabuli seorang santriwati di bawah umur.

Dilansir dari Tribunnews.com, insiden pemerkosaan terjadi di sebuah ponpes yang berlokasi di Tuksono, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo.

Terkait modus yang dilakukan pelaku yakni menghubungi korban melalui WhatsApp dengan dalih menyuruh untuk memijat. Pelaku memegang organ vital korban saat dirinya sedang dipijat.

Berdasarkan keterangan korban, MDZ mengungkap bahwa anaknya telah mendapat perlakuan tak pantas hingga berkali-kali.

“Jadi bentuk pelecehan seksualnya korban sering di WA suruh dipijatin tapi sembari memegang alat vital korban seperti payudara,” kata ayah korban, MDZ usai melaporkan dugaan aksi pelecehan seksual di Polsek Sentolo, Senin (27/12/2021).

Dilansir dari Kompas.com, akibat perbuatan cabulnya itu MSM dituntut penjara 8 tahun.

Ia juga dituntut denda Rp 50.000.000 subsider dua bulan kurungan penjara.

“Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘secara berlanjut membujuk anak melakukan perbuatan cabul’,” kata Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Kulon Progo, Martin Eko Priyanto dalam keterangan tertulisnya, Selasa (26/4/2022).

MSM dikenal juga sebagai Kyai S. Pengasuh ponpes ini didakwa Pasal 82 Ayat (1) dan Ayat (2) UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang jo Pasal 76E UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Adapun MSN menjalani sidang secara online dari PN Wates, Ruta Kelas IIB Wates dan Kejaksaan Negeri Kulon Progo.

Sidang dipimpin Ferry Haryanta selaku Ketua Majelis, lalu M. Syafruddin Prawira Negara, Ike Liduri Mustika Sari, masing masing selaku anggota majelis serta Retno selaku Panitera Pengganti pada PN Wates.

Sedangkan Tim Jaksa Penuntut Umum dihadiri oleh Martin Eko Priyanto dan Evi Nurul Hidayat.
Terdakwa dituntut dengan pidana penjara selama 8 tahun dikurangi selama berada dalam tahanan.

Selain itu juga ia dituntut denda Rp 50 juta subsider 2 bulan kurungan. Bukan itu saja, terdakwa dituntut membayar restitusi Rp 16.645.000.

Penasihat Hukum Terdakwa akan mengajukan pledoi terkait tuntutan Penuntut Umum tersebut. Adapun sidang ditunda untuk agenda pembelaan dari penasihat hukum.

“Selanjutnya sidang dijadwalkan pada hari Selasa tanggal 10 Mei 2022,” kata Martin.(*)

  • Bagikan