Hingga Juli 2020 Ada 426 Janda Baru di Aceh Utara, Ini Penyebabnya

  • Whatsapp
foto:ilustrasi

ACEH UTARA – Mahkamah Syariah Lhoksukon, menangani 426 perkara perceraian. Angka perceraian di Kabupaten Aceh Utara tergolong tinggi, terhitung sejak Januari hingga Juli 2020.

Dari 426 perkara perceraian tersebut, 334 perkara merupakan cerai gugatan, yaitu diajukan oleh istri.

Bacaan Lainnya

Kasus perceraian yang terjadi di kota yang dikenal dengan sebutan Petro Dollar itu, di dominasi oleh faktor perekonomian. “Dari 426 perkara perceraian tersebut, 334 perkara merupakan cerai gugatan, yaitu diajukan oleh istri, sementara 92 perkara cerai talak, suami yang mengajukan perceraian tersebut,” ujar Humas Mahkamah Syariah Lhoksukon, Aceh Utara, Wafa, Selasa (11/8/2020).

Selain karena faktor perekonomian, perceraian tersebut juga disebabkan karena persoalan narkoba, sehingga sang istri lebih memilih untuk bercerai.

Selama pandemi Covid-19 ada mengalami penurunan, karena karena selama Covid-19 Makamah Syariah Lhoksukon,  tidak menerima perkara tatap muka, serta untuk melakukan upaya perdamaian antara dua pihak sangat kecil.

Apabila dilihat dari pengalaman perkara, maka di Aceh sangat kuat terjadi cerai di bawah tangan atau cerai di desa, sehingga ketika datang ke mahkamah syariah hanya untuk mengurus surat perceraian saja.

“Maka ketika pihak mahkamah syariah ingin melakukan mediasi, pasangan tersebut langsung megatakan kalau mereka bercerai dan tidak mungkin untuk kembali lagi, jadi kalau sudah begitu tidak mungkin lagi dilakukan mediasi,” ujar Wafa.

Dia menambahkan, tingginya angka perceraian di bawa tangan tersebut, bisa saja disebabkan karena kurangnya sosialisasi hukum, maka kedepannya Pemerintah Daerah agar bisa melakukan sosialisasi ke setiap desa.

“Saya sudah tiga tahun di sini tidak pernah berhasil melakukan mediasi, namun diluar Aceh banyak berhasil,” tutur Wafa. []

Pos terkait