Imbauan Bupati Hentikan Aktivitas Bandara, Tuai Kritikan Tokoh Muda Dayah

  • Whatsapp
imbauan Bupati melarang aktivitas Bandara SIM tuai kritik
Miswar Ibrahim Njong dan Tgk. Marsyuddin (Mudas) Tokoh Muda Dayah Aceh

BANDA ACEH – Surat imbauan Bupati Aceh Besar Mawardi Ali yang melarang aktivitas penerbangan di Bandara SIM selama 12 jam pada hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, mengundang tanggapan dari berbagai pihak.

Salahsatunya disampaikan Sekjen Sentral Aktivis Dayah untuk Rakyat (SADaR), Miswar Ibrahim Njong, yang mengatakan imbauan Bupati tersebut tidak merepresentasikan pelaksanaan dan penegakan Syariat Islam.

Bacaan Lainnya

“Dengan mengeluarkan surat imbauan menghentikan aktivitas Bandara SIM pada hari raya, kami menilai Bupati Aceh Besar tidak memahami Syariat Islam. Kebijakan itu tidak mewakili pelaksanaan Syariat Islam, justru jika dilihat dari perspektif Maqashid Syar’iyyah, kebijakan tersebut malah melawan syari’at Islam itu sendiri,’’ kata Miswar kepada Kanalinspirasi.com, Sabtu (27/7).

Imbauan Bupati menghentikan aktivitas Bandara pada hari raya, kata Miswar, tidak dapat dijadikan dasar kebijakan mengatasnamakan Syariat Islam. Menurutnya jika alasan aktivitas bandara mengganggu kekhusyukan ibadah masyarakat dan komunitas bandara bisa libur sejenak untuk melaksanakan shalat Ied, maka akan muncul konsekwensi lain yang memerlukan konsistensi dari kebijakan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar.

“Kalau alasan mengganggu kekhusyukan ibadah dijadikan dasar kebijakan, maka setiap hari Jumat aktivitas bandara juga harus dihentikan, agar tidak mengganggu kekhusyukan ibadah shalat Jumat. Bahkan pada setiap waktu shalat 5 waktu, Bandar harus ditutup,’’ lanjutnya.

Ibrahim menegaskan, dalam memanifestasikan Syar’iat Islam perlu kajian komprehensif, bukan berdasarkan asumsi yang kemudian yang dituangkan dalam surat imbauan.

“Ini cara berpikir yang sempit dan memalukan,” ujar Miwar lagi.

Ibrahim juga menganggap kebijakan imbauan pemkab Aceh Besar ini hanya sebagai pengalihan isu soal keretakan hubungan Bupati Mawardi Ali dan Wakil Bupati Waled Husaini.

“Kuat dugaan kami, himbauan Bupati yang menyertakan tujuan pelaksanaan Syariat Islam ini sengaja dibuat untuk menutupi skandal keretakan hubungan Bupati dan Wakil Bupati,’’ sebutnya.

Miswar berharap Mawardi Ali berhenti membuat sensasi yang hanya akan memperburuk citra Aceh Besar bahkan Aceh di tingkat daerah dan Nasional. Terutama tidak mempolitisasi Syariat Islam untuk menutupi catatan buruk dalam kepemimpinannya sebagai Bupati Aceh Besar.

“Pak Bupati fokus saja bekerja menepati janji-janji kampanye, karena itu juga bagian dari pelaksanaan Syariat Islam,’’ tutupnya.

imbauan Bupati melarang aktivitas Bandara SIM tuai kritik

Hal senada juga disampaikan tokoh muda dayah Aceh, Marsyuddin Shi, yang menyayangkan dikeluarkannya surat imbauan Bupati Aceh Besar tersebut.

“Menurut kami surat intruksi tersebut sangat sangat prematur, Syariat Islam harus dilihat secara universal tidak boleh sempit, karena kalau itu terjadi maka marwah aceh yang akan dipertaruhkan,’’ kata tokoh yang akrab disapa Teungku Mudas ini.

Dalam persoalan ini, kata Tgk. Mudas, Bupati seharusnya meminta pendapat kepada Wakil Bupati Waled Husaini yang notabene adalah seorang Ulama dan sangat memahami masalah ini.

“Disini kita bisa melihat arogansi Bupati dengan tidak meminta pendapat waled, yang sepertinya ingin menutupi masalahnya dengan Wakil Bupati dengan menjual isu ini,’’ pungkas Mudas. (*)

Pos terkait