Insentif Perawat Jasa Covid-19 RSUCM Per3 Bulan Hanya Dibayar Rp5.908-Rp18.312

  • Whatsapp
Tim Tanggap COVID-19 melakukan penyemprotan disinfektan di Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara, yang berada di Kota Lhokseumawe, Jumat (3/4/2020). Kanal Inspirasi/Rahmat Mirza

ACEH UTARA – Biaya jasa untuk tenaga medis dari perawat hingga dokter spesialis di Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) Kabupaten Aceh Utara hanya belasan ribu rupiah.

Data yang diperoleh, Sabtu (24/10/2020) terlihat list biaya jasa untuk pelayan Covid-19 khusus ruang bedah dan dokter spesialis terlihat nominal rupiah yang sangat minim. Data untuk ruang bedah RSUCM misalnya terlihat masing-masing perawat hanya Rp 18.312 untuk jatah bulan Maret-Juni 2020. Dalam list itu bahkan ada perawat hanya mendapatkan Rp 5.908 untuk jatah tiga bulan itu.

Bacaan Lainnya

rumah sakit cut meutia kasus pdp di aceh
ACEH, INDONESIA – MARCH 12, 2020: Health workers wear personal protective uniforms from the coronavirus while in the isolation room of Cut Meutia Hospital in Lhokseumawe. The government reports that up to now 19 people have been positive for corona virus in Indonesia. Kanal Inspirasi / Rahmat Mirza

Untuk dokter spesialis angkanya bervariasi mulai tertinggi Rp 18.819.792 untuk satu dokter spesialis paru, satu dokter spesialis paru lainnya mendapatkan Rp Rp 2.293.564 dan satu dokter paru lainnya memperoleh Rp 6.679.257.

Hanya tiga dokter spesialis paru ini yang mendapatkan biaya jasa terbilang besar. Dokter spesialis lainnya seperti spesialis anak, telinga, syaraf, penyakit dalam dan lain sebagainya hanya mendapatkan insentif masing-masing Rp 58.176.

Direktur RSUCM Aceh Utara, Nurhaida menyebutkan, insentif yang sangat kecil itu bersumber dari biaya yang diklaim ke BPJS Kesehatan.

“Itu jasa medis covid yang kita klaim ke BPJS berdasarkan jumlah pasien covid yang kita rawat. Nah diawalkan memang pasien covid memang sedikit ya, dampaknya ya sedikit dibayar oleh BPJS. Jadi jasanya dibagikan ke merawat pasien, ruangan lain yang tidak merawat, ya persentasenya hanya dalam bentuk kebersamaan. Maka, jadi sedikit-sedikit dapat uangnya,” ujar Nurhaida melalui via seluler.

Nurhaida, klaim jasa medis yang rutin jumlahnya lumayan besar. “Mungkin ada yang belum tersosialisasi atau saat sosialisasi mereka ngak dengar lagi, atau tidak bertugas saat sosialisasi, maka kaget biasanya dapat gede kok kecil sekali sekarang,” ujarnya.

Ida menegaskan insentif yang kecil itu bukan dari Kementerian Kesehatan RI. “Kalau insentif kementrian kita lagi diverifikasi, itu belum dibayarkan,” pungkasnya. []

Pos terkait