Kampanye dan Narasi Alam Gaib, Demokrasi Tanpa Wujud?

  • Whatsapp
karikatur opini politik
Foto: Doc Pri

Oleh: Kanal Opini

Kanalinspirasi.com – Pemilu adalah ajang perbaikan dari berbagai sisi kehidupan bernegara untuk menciptakan secara bersama kesejahteraan bagi masyarakat yang tergabung dalam kesatuan negara. Perbaikan nasib kehidupan tidak terlepas dari ikhtiar bersama dengan aturan yang menghadirkan tata kelola yang mampu mewujudkan keadilan tanpa tebang pilih.

Peserta pemilu semestinya menghadirkan energi positif berbasis realitas untuk mewujudkan cita-cita bersama dengan langkah yang terukur dan mengena. Lebih pada pada Partai Politik sebagai lembaga yang diakui secara konstitusi untuk menjembatani berbagai cita-cita dan keinginan dari masyarakat dalam menyelenggarakan pemerintahan.

Pada pemilu 2019 ini, kampanye yang dihadirkan dan diskursus yang muncul dari berbagai kalangan terdepan dari elit parpol jauh dari pemahaman realitas kehidupan masyarakat. Esensi keteladanan dalam kebaikan dan apa yang menjadi kebijakan kedepan terhalang oleh berbagai kampanye dengan narasi yang bersumber dari dunia lain, atau dunia dedemit yang bukan pewaris kehidupan di bumi.

Kampanye Parpol sejatinya adalah kampanye yang mampu membuka ruang harapan, cita-cita, pengorbanan, penguatan yang melekat dalam kehidupan masyarakat. Ternyata tidak banyak Parpol yang mampu menegaskan kampanye dan narasi yang baik dan melekat. Banyak kampanye dan narasi yang malah mencoba membawa alam gaib dunia dedemit.

Iklan partai politik dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang diiklankan di media sosial menghadirkan peran dan pesan dari dunia setelah kematian. Dimana pocong menjadi pelaku demokrasi yang dipaksakan untuk mengkritisi kehidupan manusia hidup dalam dinamika demokrasi.

Selanjutnya, ucapan dari aktor pemerintahan dari Kabinet yang semestinya menghadirkan wujud pengelolaan pemerintahan dengan penegakan aturan dan hukum. Mesti kandas dengan ucapan tantangan penyelesaian kasus hukum dengan sumpah pocong. Kemudian ucapan tantangan ini menjadi konsumsi masyarakat dan dibicarakan berhari-hari. Maka yang muncul kemudian adalah disrupsi narasi yang jauh dari realitas semestinya tentang bernegara dunia manusia yang memiliki akal, nurasi dan emosi.

Dan ungkapan terbaru adalah narasi Mak Lampir, terkait sidang Ratna Sarumpaet yang sedang menjalankan sidang dengan kasus hoax. Secara formal hukum dan pelaksanaan UU yang berlaku, ucapan narasi menghadirkan pendidikan hukum dan pelaksanaan keberpihakan kepada kebenaran. Namun malah kembali menjadi narasi alam gaib.

Alam gaib dengan lakon-lakon yang bukan menjadi peserta pemilu menjadi keganjilan. Apakah demokrasi yang kita inginkan dan citakan mesti tanpa wujud? Dimana segala sesuatu dalam demokrasi bernegara terselesaikan dengan mitologi yang tidak terukur, rasional dan nyata.

Semestinya, kampanye dan narasi alam gaib tidak tumbuh dalam zaman yang telah setiap orang terkoneksi dalam perkampungan global. Terutama oleh pelaku pemilu yang terdidik dengan rasionalitas pemikiran, kajian runut akademik, penelitian terukur tentang subsektor kehidupan masyarakat dalam bernegara.

Dan hal ini bila tetap ada pembiaran dan keasyikan dari peserta pemilu, maka lima tahun kedepan demokrasi di Indonesia menjadi demokrasi tanpa wujud. Pelaku dan lakon pemerintahan adalah manusia yang tidak ada kemanusiaan dalam diri.

Hal ini mesti dihentikan dan kembali menjadikan pemilu bagian dari demokrasi yang mampu mewujudkan cita-cita berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita diwariskan oleh pendiri bangsa dan negara dengan dasar-dasar yang kokoh, dan panduan yang baik yang merangkum keberagaman dalam kesatuan cita bersama manusia dan bukan alam gaib.

Edwardy Yahmud, Pemerhati Sosial & Politik

Pos terkait