Karhutla, Puting Beliung hingga Hujan Es Landa Aceh Sepekan Terakhir

  • Whatsapp
hujan es
Ilustrasi Hujan Es. Foto: Ist

BANDA ACEH – Tiga jenis bencana dari kebakaran hutan dan lahan, angin puting beliung hingga hujan es, melanda propinsi Aceh dalam sepekan terakhir.

Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan, bencana Karhutla yang terjadi di Aceh sejak tanggal 5 Juli 2019 dilaporkan sudah meluas hingga 121,4 hektar lahan terbakar di 12 kabupaten kota.

Bacaan Lainnya

Hingga kini petugas gabungan dari BPBD, TNI-Polri, KPH dan instansi pemerintah serta masyarakat masih melakukan upaya pemadaman. Sebagian wilayah dilaporkan api sudah berhasil dipadamkan.

Penghujung pekan lalu, Minggu (7/11) hujan es melanda Kecamatan Jagong Jeget, kabupaten Aceh Tengah. Dilaporkan dalam peristiwa ini lebih dari 600 rumah mengalami kerusakan di lima desa. Selain itu, dampak dari fenomena hujan es ini juga merusak tanaman di perkebunan warga. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Selanjutnya pada Rabu (10/7) bencana angin puting beliung juga memporak porandakan sejumlah rumah dan bangunan di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Bireun, dan Kabupaten Gayo Lues. Dalam peristiwa ini dilaporkan, rumah warga, atap stadion hingga perkantoran mengalami kerusakan sedang hingga rusak berat. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Baca Juga : Atap Stadion 1000 Bukit Gayo Lues Rusak Diterjang Angin Puting Beliung

Kasi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Blang Bintang Aceh Besar Zakaria Ahmad mengatakan, saat ini Provinsi Aceh sedang dilanda musim kemarau, sehingga sangat mudah terjadi kebakaran lahan dan pemukiman.

“Saat ini Aceh sedang memasuki musim kemarau. Namun sejumlah wilayah juga berpotensi terjadi hujan namun bersifat lokal,” kata Zakaria, Kamis (11/7).

Dia menambahkan, menurut pantauan Sensor Modis Satelit Terra, Aqua dan Suomi NPP, hingga kini belum ada titik api yang terdeteksi.

“Hari ini tidak terdeteksi titik api, meskipun sejumlah wilayah dilaporkan masih terjadi kebakaran lahan. Alat kita baru bisa mendeteksi jika titik api dalam radius satu kilometer. Mungkin sebagian api sudah padam,” ujarnya.

Berkaitan dengan hujan es, Zakaria mengemukakan, pihaknya sempat memonitor adanya potensi hujan di Kabupaten Aceh Tengah, namun bersifat lokal.

“Tapi kalau hujan es tidak bisa kita prediksi. Hanya saja ada beberapa tanda-tanda jika akan terjadi hujan es. Seperti adanya pembentukan awan comulonimbus (CB) secara tiba-tiba dan pergerakan awan rendah dengan permukaan tanah,” jelasnya.

Menurut Zakaria, hujan es yang melanda Aceh Tengah merupakan yang pertama kalinya sepanjang tahun 2019. “Ini pertama kali di tahun 2019, dan ini termasuk fenomena langka, karena diwaktu bersamaan hujan es melanda satu wilayah, sementara wilayah lain sedang terjadi kebakaran lahan akibat musim kemarau,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh Teuku Ahmad Dadek mengimbau kepada masyarakat agar mewaspadai potensi terjadi bencana terutama bencana karhutla.

“Kita meminta kepada masyarakat agar melaporkan kepada petugas terdekat jika melihat ada kebakaran hutan dan lahan. Kita juga meminta kepada aparat terkait dan aparat desa agar mengawasi supaya tidak ada masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar,” imbaunya.

“Membakar hutan dan lahan merupakan perbuatan tindak pidana yang dapat dijerat dengan hukum, ancaman hukuman 3 hingga 10 tahun penjara apabila dapat dibuktikan di pengadilan,” tegasnya. (*)

Pos terkait