Kejagung RI Respon Layangan Surat dari Alppera dan Pekka

  • Whatsapp
alppera dan pekka abdya
Hayaturayah, Mardhiah dan Khairiyah yang tergabung dalam Alppera . Foto: Doc Pri

ABDYA – Pasca dilayangkannya surat oleh Alppera (Aliansi Peduli Perempuan dan Anak) yang di dalamnya juga tergabung Serikat Pekka (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga) Abdya pada 13 Maret 2019 kepada Kajari Blangpidie yang ditembuskan kepada Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Komnas Perempuan, dan Sekretariat Nasional Pekka di Jakarta, beberapa hari kemudian langsung direspon dari pihak Kejaksaan Agung Republik Indonesia melalui Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum), Mukri, kepada Kordinator Alppera, Hayaturayah.

Menurut Hayaturayah atau akrab dipanggil Kak Ray, respon atas surat tersebut dilanjutkan dengan komunikasi via pesan di aplikasi WhatsApp yang intinya adalah pihak Kejaksaan Agung telah menyampaikan keluhan para pihak di Abdya terkait rendahnya tuntutan hukum atas pelaku KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) kepada pihak terkait yaitu Komisi Kejaksaan.

Bacaan Lainnya

Baik pihak Serikat Pekka maupun Alppera, tidak berharap terlalu banyak terkait kasus yang sedang diikutinya dengan terdakwa Hijrul Nasri bin Hadri Syam yang dituntut pidana sebulan dan denda lima ribu rupiah oleh JPU Kajari Blangpidie, karena kasusnya sendiri telah bergulir masuk ke persidangan ke-tujuh.

“Kami hanya mengharapkan pengadilan, terutama yang berkaitan dengan masalah KDRT hendaknya berjalan dengan fair, para pihak mulai Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan punya empati terhadap penderitaan perempuan. Jangan karena yang bersalah adalah teman dekat dan punya banyak uang, sehingga tuntutannya seperti hanya formalitas,” Keluh Kak Ray.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Fasilitator Lapang Pekka, Mardhiah yang mengakui jika kasus ini terlanjur berjalan, tapi setidaknya ke depan akan ada perubahan sehingga muncul kesamaan pandangan jika masalah KDRT adalah kasus serius di mana mayoritas perempuan selalu diposisikan sebagai pihak yang lemah.

“Jangan sampai perempuan itu disiksa dan disakiti lahir batin oleh pasangannya, kemudian dimarjinalkan juga oleh para penegak hukum.” Cetusnya.

Terkait respon Kapuspenkum Kejagung dan Komisi Kejaksaan, Kak Ray mengucapkan terima kasih dan berdoa, semoga apa yang dilakukannya bersama para pihak dijadikan sebagai amal ibadah.

“Alhamdulillah, Semoga apa yang kita lakukan menjadi ibadah dan berkah buat kita semua Amin Terima kasih yang tak terhingga,” Tulisnya melalui pesan singkat WhatsApp kepada Kapuspenkum Kejaksaan Agung Republik Indonesia.

Pos terkait