Kisah Pilu Ucok Sibreh, Mengenang 24 Tahun Tenggelamnya KMP Gurita

  • Whatsapp
muhibuddin ibrahim
Politisi Golkar Muhibuddin Ibrahim, SE salah seorang korban yang selamat dalam tragedi tenggelamnya KMP Gurita. Foto : Doc Kanalinspirasi.com

KANALINSPIRASI.COM – Setiap datang tanggal 19 Januari pandangan Muhibuddin Ibrahim, SE yang akrab dipanggil Ucok Sibreh, terkadang pandangannya hampa, pasalnya politisi Partai Golkar ini, termasuk salah seorang korban yang selamat pada peristiwa, tenggelamnya KMP Gurita pada, Jumat, 19 Januari 1996 pukul 20.30 WIB, dalam penyebrangan dari Malahayati Krueng Raya, Aceh Besar ke Balohan Sabang.

Meskipun musibat tersebut sudah berlalu 24 tahun silam, namu sulit untuk bisa dilupakan, Ia mengisahkan peristiwa yang terjadi pada tahun 1996, terutama dia ingat pada sebuah pertanyaan dari saudarnya kala itu, kamu mau libur kemana Ucok, awalnya Ia menjawab belum ada rencana, lalu oleh saudara menawarkan untuk main ke Sabang, sebab di Kota Sabang setiap tahun baru selalu ramai pengunjung.

Bacaan Lainnya

Muhibuddin pun, tanpa pikir panjang menerima tawaran tersebut, kemudian mengajak teman untuk bersama-sama berangkat ke Sabang, dengan tujuan berwisata, selain itu ingin niat baik guna membantu seorang sahabat yang sedang berurusan di pengadilan negeri Sabang, karena kasus kecelakaan lalulintas.

Apalagi Ucok mendapatkan kiriman surat dari Pengadilan Negeri Sabang yang dikirimkan ke alamat saya di Beurawe, setelah mendapatkan surat Ucok pulang ke Sibreh untuk memberitahukan hal tersebut kepada temannya di Sibreh, dan kami berdua sepakat untuk datang memenuhi panggilan pengadilan ini sebagai saksi kecelakaan pada malam tahun baru.

Baca Juga : Kenang 24 Tahun KMP Gurita, Ahli Waris Gelar Doa Bersama

Pagi Jumat tanggal 19 Januari 1996, kami berangkat ke Krueng Raya pelabuhan Malahayati sesampai disana ternyata kapal bulum ada dan menurut informasi kapal berangkat siang hari dari Sabang, kami menunggu karena tidak mungkin lagi kami balik mengingat terlalu jauh jarak Krueng Raya ke Sibreh dan angkutan-pun cuma ada labi-labi, Jumat pun selesai kapal belum kunjung tiba dan kami masih menunggu demi bisa ke Sabang guna membantu sahabat yang motornya ditahan oleh kepolisian sampai masalah ini selesai.

Akhirnya sekitar jam 16.00 atau 17.00 WIB sore kapal yang dinanti akhirnya tiba, Namun tidak bisa langsung di loading karena air lagi surut sehingga terpaksa menunggu pasang tiba dan setelah 2 jam menunggu air tidak pasang sesuai harapan, Kapal kembali loading dengan tambahan muatan baru, azan magrib berkumandang kapal pun bergerak meninggalkan pelabuhan Malahayati, saya orang yang tidak kuat menahan goyang nya kapal sehingga saya minum antimo sebelum kapal berangkat dan langsung dua butir minum sekaligus.

Dikapal kami tertidur diantara ratusan penumpang bahkan bisa dibilang melebihi kapasitas kapal itu sendiri karena semua orang mudik untuk meugang puasa. Pukul 20.30 lebih kurang tiba tiba ABK membangunkan semua penumpang dengan kata-kata “Bangun…Bangun.. kapal goyang, ombak besar…bangun….bangunn…geser kiri…geser kanan…geser….bagi saya itu hal yang biasa karena saya sangat jarang naik kapal laut sehingga saya anggap masih normal dan saya berbincang bincang dengan sahabat saya di bagian belakang kapal tersebut.

Ada hal yang paling membekas kala itu, saat saya bertanya kepada sahabat saya kedepan kita kalau libur sekolah mau kemana? Spontan dia jawab “kita pergi ketempat yang jauhhh” akhirnya kapal pun dihantam ombak besar dan langsung terpuruk kedalam air dari depan karena pintu palkanya terkuak dan dimasuki air, pada saat itu secara perlahan kapal mulai tenggelam dan jeritan tangis serta takbir dan puji-pujian kepada Allah terdengar membahana dan bersahuttan, ada yang memanggil ibuuu…ayaahh….anakku, saya diam seribu bahasa tidak bisa berkata apapun sambil memegang besi pagar di badan kapal, saat itu sahabat saya masih disamping saya dan di sebelah kanan ada sepasang suami istri memegang anak kecil umur 2 tahunan sambil berucap “Bang gimana anak kita…” suaminya memegang pelampung dan bersiap siap untuk melompat ke laut namun bingung bagaimana menyelamatkan keluarganya, akhirnya mereka melompat juga namun saya sempat melihat mereka terpisah dan pelampung mereka langsung direbut orang yang berada disitu.

Saya masih bertahan dan tak tau berbuat apa-apa seketika itu saya terkejut melihat sahabat saya sudah tidak berada disamping saya ternyata dia melompat juga dan saya langsung menangis ketika menyadari sahabat saya itu belum bisa berenang, setelah beberapa saat kapal ini semakin masuk dalam laut saya mulai harus mengambil keputusan bertahan dikapal atau meloncat untuk menghindar tenggelam bersama kapal itu. Tanpa saya sadari ternyata saya sudah meloncat dan terlempar jauh dari kapal bagaimana cara bisa seperti itu wallahu allam bil sawab, akhirnya saya berenang-renang mencari pelampung tempat saya bisa bergantung dan saya mendapati satu orang memakai seperti pelampung besar langsung saja saya memegang pelampung tersebut sambil menatap muka yang punyanya sebagai bentuk permohonan izin namun alangkah terkejutnya saya ketika tangan dan kakinya hinggap di kepala dan bahu saya untuk ditenggelamkan.

Saya pun langsung terbenam kedalam air dan karena berat saya membuka semua baju supaya bisa bergerak lebih luwes, saya kembali berenang mencari pegangan lain akhirnya saya temukan 2 orang yang sedang mengapung dengan pelampung kapal berbentuk bulat seperti ban bertuliskan KMP Gurita, saya masuk dan langsung memegang pelampung tersebut sambil menarik nafas panjang.

“Seorang laki paruh baya itu berkata “Pegang aja nak gak apa apa.”, lega sekali mendengarkan kata-kata tersebut namun itu hanya sesaat sebab kawan dari bapak itu langsung berkata “Bang anak ini buat kita tambah berat bagaimana kalau kita bunuh saja, saya langsung down dan pasrah namun lagi-lagi bapak tadi bicara “Ini anak saya jangan pikiran jelek dilaut, pelampung ini tahan untuk 6 orang dan kuat selama 36 jam, jadi pegang aja dan taruk dileher saja, saya ABK jadi tolong dengarkan yang saya bilang katanya”.

Suasana hening dan tiba-tiba masuk satu orang lagi ke pelampung berbadan besar yang langsung naik ke pelampung kondisi ini membuat orang no 2 masuk pelampung menjadi semakin emosi namun masih dapat dilerai, akhirnya kami semua bertahan dan bersepakat untuk berenang ke pantai namun apa daya arus laut yang begitu kuat menggagalkan rencana kami dan kami pun di bawa arus mengelilingi pulau weh menuju lautan andaman. Banyak cerita malam itu ada yang meminta agar saya berenang sendiri sambil menggembungkan baju untuk jadi pelampung, dan dianggap saya tidak ada beban karena belum berkeluarga hampir saja saya mau kalau lah tidak dilarang oleh bang ADI orang yang pertama memperoleh pelampung dan melarang bunuh saya tadi.

Kami bertahan menunggu bantuan yang datang mencari kami, banyak terlihat lampu-lampu perahu nelayan tapi tak ada satupun yang sampai ke tempat kami hingga subuh hari dan pernah juga dilewati oleh kapal barang petikemas yang luar biasa besar namun mereka tidak melihat kami,tepatnya sekitaran jam 8 an pagi hari terjadi hal yang diluar nalar dimana 2 orang yang dipelampung saling dorong dan terlepas dari pelampung sehingga mereka hilang ditelan laut dengan begitu cepat dan hanya terdengar kata “Tolonggggg…..” setelah itu langsung hilang dan Bang Adi langsung berucap “Itulah kenapa kita gak boleh pikiran jelek dilaut sekarang ucok naik keatas pelampung karena sudah keliatan sangat lemas”. memang benar karena saya sudah dari berangkat kemarin tidak makan nasi jadi sudah 5 waktu saya gak makan.

Tepat tengah matahari diatas kepala terlihatlah pesawat kecil terbang diatas kami dan bang adi langsung mengajak saya untuk memberi tahu posisi kami namun karena saya sudah tak berdaya saya hanya pasrah sampai saya berkata “Bang saya sudah tidak kuat lagi kala saya mati tolang sampaikan mayat saya ke orang tua saya ya, lalu saya ambil tali diban tersebut dan saya ikat tangan saya ” istighfar cok kata bang adi sebentar lagi bala bantuan akan datang…. Sementara saya semakin lemah dan mulai mengigau seakan-akan orang tua saya sudah memanggil dari pinggir pantai.

Akhirnya jam 4 sore lebih dikit kapal laju Prakarsa menghampiri kami dan tim penyelamat turun menjemput kami, kami dibawa ke kapal dengan dipapah sesampai disana saya langsung sujud syukur kemudian saya berkata lapar…lapar… segera abk menyerahkan makanan namun saya tidak bisa memakannya karena semua mulut saya sudah luka, kelaparan itu akhirnya diganti dengan milo panas, maaf saya minum sampai 8 gelas besar, saking saya haus dan lapar. Begitu tenaga saya pulih saya minta diantar untuk melihat korban-korban meninggal yang ditemukan kapal ini namun teman saya tidak ada, rasa sedih muncul dan tiba tiba air mata terurai lagi.

Kemudian kapal tersebut setelah mendapati kami memutuskan untuk kembali ke Sabang karena sudah malam, dan kami diantar ke RS setempat, sesampai di RSU Sabang saya kembali lagi mencari teman saya dikamar jenazah namun juga tidak kunjung saya dapati.

Dari cerita pahit ini sebenarnya saya benar-benar ingin melupakannya namun karena ini sejarah maka saya pikir perlu juga saya ceritakan kepada khalayak umum khususnya para pelaku transportasi laut dan syahbandar bahwa : Aturan pelayaran harus ditaati agar tidak ada lagi kasus-kasus seperti ini di kemudian hari, kapal layak berlayar yang boleh diberi izin. Ucapan Terima kasih kepada seluruh masyarakat yang sudah mendoakan keselamatan kami, Bang Adi beserta keluarga yang menjadi titipan Allah SWT sebagai penolong kami. (*)

Pos terkait