Koloni Rayap Tenggelamkan Kapal Paul Rice

  • Whatsapp
Ilustrasi. Poto: theconversation.com

Pada tahun 1920 sebuah kapal besar berlayar dari Samudra Hindia menuju Samudra Atlantik dengan jarak 10.934 Km, hendak membawa 384 penumpang dan 70 ton barang bawaan termuat didalamnya. Jumlah penumpang yang tidak sedikit membuat Nahkoda ragu dan bimbang akan pelayaran, namun sebaliknya Crew dan Awak Kapal sangat bersemangat untuk berlayar selama beberapa hari itu sembari melaporkan konidisi kapal dan penumpang secara umum.

Laporan yang diberi crew kapal kian membuat nahkoda bersemangat dan bergairah seperti pelayarannya yang pertama pada umur 29 tahun. Demikian Nahkoda yang saat itu berumur 45 tahun kembali bersemangat, ambisi mudanya menyala seperti api unggun ditengah malam yang dingin.

Bacaan Lainnya

Kembalinya kapal Paul Rice berlayar dihantam ombak diterpa angin dan diguyur hujan tidak mempengaruhi semangat nahkoda yang membawa 384 penumpang, setiap 8 jam sekali Crew, Awak kapal dan kabin melaporkan kondisi kapal serta penumpang laporan tersebut ia terima dari koordinator bagian kapal maka nahkoda terhormat sebut saja Muslim, ia berkesimpulan bahwa kapalnya dalam keadaan baik dan siap berlayar sampai tujuan.

Layar kapal yang yang menjulang tinggi berkibar dibawah terik matahari yang sangat panas saat itu, angin sepoi-sepoi berhembus, laju kapal Paul Rice dilautan diikuti burung camar yang bersuara keras diatasnya. Sungguh nikmatNya tidak terhingga bahwa kapal yang berlayar dilautan adalah tanda kekuasaanNya yang Agung termaktub dalam Surat Luqman : 31.

Begitulah firmanNya sebgai pengingat setiap kapal yang berlayar ditengah lautan bahkan ditengah badai adalah nikmat yang Ia berikan. Setelah berlayar 5 hari, seperti biasa Crew, Awak kapal dan kabin kembali melaporkan kondisi dan penumpang kepada nahkoda semuanya baik-baik saja terkendali tanpa perlu diperbaiki atau berhenti namun, siapa sangka mereka luput dalam memperhatikan dinding kapal yang terbuat dari kayu telah dimakan rayap. Mereka hanya melihat 1-2 rayap yang terbang didinding padahal jika crew mencoba menapik dibalik itu terdapat jutaan rayap sedang menikmati lepahan kayu dinding kapal sejak pertengahan tahun lalu. Demikian itu adalah sifat dari pada serangga jenis rayap hidup berkoloni atau berkelompok.

Tepatnya hari keenam kapal besar itu berlayar namun karam dilautan, merenggut 380 nyawa termasuk dewasa, remaja dan anak-anak beserta 70 ton barang bawaan hilang ke dasar laut. Sialnya subuh itu rayap telah habis memakan sepenggal dinding kapal yang terbuat dari kayu Laban (Bak Mane) hingga bocor dan rusak parah ditambah tekanan air dan ombak. Pada dasarnya Kayu Laban atau bak mane dalam bahasa aceh, jenis kayu yang memiliki serat yang halus dan awet nan keras meski demikian tanpa awak kapal dan kabin sadar sejak pertengahan tahun lalu Bak Mane tersebut telah asyik dikunyah oleh jutaan rayap yang hidup secara koloni. Nasib malang yang diterima oleh muslim selaku nahkoda kapal beserta penumpang harus merenggang nyawa ditengah lautan, kecuali empat orang yang selamat.

Sejarah mencatat bahwa kelalaian nahkoda Muslim sebagai pimpinan tertinggi dalam kapal merupakan dalih karamnya kapal gagah bernama Paul Rice pada tahun 1920 namun juga interupsi didalamnya adalah kelalaian Crew, awak kapal dan kabin sebagai alasan pertama dimana laporan yang mereka berikan kepada nahkoda kadang tidak benar dan akurat (Haba Mangat) dan sialnya lagi 384 manusia merasakan dampak, bagaimana tidak meregangang maut ditengah samudra Atlantik.

Nahkoda Muslim tetap berpegang pada takdir bahwa mati dilautan adalah kehendak Tuhan, namun kecelakaan yang menewaskan 380 jiwa secara moral dan tanggung jawab akibat kelalaian awak kapal dan pada satu sudut pandang. Muslim terlalu percaya kepada bawahannya yang luput akan tanggung jawab moral, kian diberikan Haba Mangat, Bereh, Best tanpa chek dan balance setelahnya.

Karamnya kapal sebesar Paul Rice menunjukkan tidak solidnya kinerja antara nahkoda dan awak kapal menimbulkan kesenjangan hingga fatal nyawa penumpang menajadi korban, secara emperik dan pengalaman Muslim sangat lihai, mahir dan ulung dalam memgang stir kapal dilautan tapi apa hendak dikata naas yang menimpanya dan seluruh penumpang adalah kelalaian crewnya sendiri.

Sontak, penulis menjadikan pembelajaran berharga dalam cerita ilusi dan fiktif ini terkait moral serta tanggung jawab seseorang saat diberikan amanah. Sederhananya seorang ketua kelas yang dipilih secara demokratis harus memimpin 24 siswa lainnya, karena keterbatasannya ia memilih wazir dan wakil untuk memudahkannya dalam bekerja, berkomunikasi, dan berinteriaksi dengan guru dan sesama siswa lain dikelas.

Dalih wazir dan wakil yang ia pilih untuk membantunya tapi malah membuatnya kewalahan. Tumpukkan sampah didalam laci, diatas meja tidak dibersihkan oleh piket kelas setiap hari padahal urusan piket kelas bukanlah urusan ketua kelas untuk menegur bahkan memaki-maki tapi wewenang serta tupoksi wazir dan wakilnya bertugas mengingatkan dan mengajak anggota.

Ternyata sejak dini kita telah diajarkan bagaimana menegement organisator, bahwa High Leader (Pimpinan Tertinggi) sebagai koordinator utama, konseptor, pemegang kendali satu kesatuan. Turunan dari itu Middle Leader dalam bahasamudah kita sebut kabid, kasi, atau kepala bagian yang punya satu tupoksi kerja bertujuan membantu menjalankan manajemen high leader. Kemudian tentunya turunan ketiga adalah low leader (Eksekutor) yang menjalankan dan menerapkan konsep dari High Leader dan Middle Leader sesuai arahan dan perintah.

Cash dalam hal ini adalah sama, karamnya kapal Paul Rice karena middel dan low leader tidak bertanggung jawab secara moral dalam bekerja sedang sampah berserakan dilaci, dalam kelas akibat wazir dan wakil ketua kelas tidak mampu mengemban amanah dengan baik. Padahal wazir, wakilm ketua, crew serta awak kapal, dipilih untuk membantu nahkoda dan ketua kelas.

Implementasinya, pandai dan cerdas sekalipun tidak berguna tanpa tanggung jawab moral yang baik. menurut Alghazali ilmu pengetahuan tidak menjamin individu akan tanggung jawab karena menurut Ghazali tolak ukur tanggung jawab adalah tanggung jawab. Cerita fiktif diatas sebagai tadzkirah dan pengalaman bagi penulis dan pembaca, tentunya penulis dan pembaca punya hak yang sama dalam penjabarannya kedalam kehidupan.

Menganggap enteng rayap tapi karenanya kapal karam dilautan, mengabaikan tanggung jawab bisa merusak etos kerja. Penulis ingatkan bahwa persoalan tanggung jawab bukan persoalan ilmu pengetahuan bahkan title sekalipun. Problematika ibarat koloni rayap dalam kapal Paul Rice di atas mengabaikan tanggung jawab seperti rayap dimana menjadi pengganggu nahkoda atau ketua kelas, prinsipnya menghilangkan rayap atau kapal berantakan dan menempatkan orang bertanggung jawab atau kelas penuh dengan sampah.

Mari intropeksi diri dengan seksama, tidak ada kesempurnaan dalam etos kerja tanpa kerjasama begitu pun tanggung jawab menjadi tolak ukur dalam setiap pergerakan dan perkerjaan. Seulung-ulungnya nahkoda kapal tidak mampu melakukan pelayaran tanpa crew, awak kapal dan kabin yang handal begitu pun ketua kelas tidak mampu menertibkan meja hingga mengutip sampah jika wakil dan wazirnya tidak bertanggung jawab.

Karamnya kapal Paul Rice cerita diatas yang penulis angkat sebagai manajemen kerja yang baik, arganisasi yang terkoordinir, pergerakan yang solid karena bergerak bersama-sama perlu dikampanyekan di era ini. Sartono Kartodirdjo dalam tulisannya ”burung yang terbang membentuk huruf F akan lebih gesit dari pada burung yang terbang terpisah-pisah”.

 

*Penulis adalah Sekretaris Umum Pelajar Islam Indonesia (PII) Aceh Besar

Fahril Muzanna, Sekretaris Umum Pelajar Islam Indonesia (PII) Aceh Besar

Pos terkait