Konsep Smart City, Perwakilan Kemenkominfo RI: Banda Aceh Bisa “Potong” Singapura

  • Whatsapp
Banda Aceh Memotong Singapura
Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman, pada Bimtek “Gerakan Menuju 100 Smart City Banda Aceh”

BANDA ACEH – Penerapan konsep Smart City (Kota Pintar) akan lebih menghidupkan sektor-sektor unggulan seperti ekonomi, pariwisata, perdagangan dan jasa di kota Banda Aceh.

Hal tersebut diungkapkan Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman, pada Bimtek “Gerakan Menuju 100 Smart City Banda Aceh”, yang digelar Diskominsfotik, Rabu (7/8) di Gedung Information Technology Learning Center (ITLC), Banda Aceh.

Bacaan Lainnya

Acara tersebut dihadiri perwakilan dari Ditjen Aptika Kemenkominfo RI Mellawati dan pendamping program Smart City Banda Aceh Lolly Amalia. Hadir juga Sekda Banda Aceh Bahagia, Kadiskominfotik Bustami dan para Kepala SKPK, unsur akademisi serta pelaku usaha sektor jasa dan perdagangan di Banda Aceh.

“Visi pembangunan kota pintar tersebut selaras dengan visi pemerintah kota, yakni terwujudnya Banda Aceh Gemilang dalam Bingkai Syariah, dan nilai kompetitif dapat diwujudkan dengan membentuk masyarakat yang cerdas dan berdaya saing tinggi,” kata Aminullah saat memaparkan resume buku 1 “Banda Aceh Smart City”.

Dengan mengoptimalkan TIK, kata Aminullah,  bisa mem-blow up promosi dan informasi tentang kota, sehingga akan lebih menarik minat wisatawan maupun investor untuk datang.

Wali kota juga menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah dan segenap elemen kota memanfaatkan penetapan Banda Aceh sebagai pilot project smart city Indonesia.

“Saya minta semua SKPK untuk mendukung penuh program ini,” pintanya seraya menyebut kesiapan Pemko Banda Aceh dari sisi anggaran yang dibutuhkan.

Representatif Kemenkominfo RI Mellawati berharap Banda Aceh bisa ‘memotong’ Singapura sebagai hub (pusat) perdagangan Asia bahkan dunia.

“Secara geografis letak Banda Aceh sangat potensial, tinggal siapkan SDM dan infrastruktur pendukung seperti pelabuhan bertaraf internasional,” katanya.

Ia memberikan apresiasi dan masukan terhadap Buku 1 Banda Aceh Smart City. Terkait visi, khususnya pada kata ‘kompetitif’, menurutnya bisa lebih dispesifikkan menjadi daya saing dalam bidang ekonomi; perdagangan dan jasa.

“Kami mengapresiasi karena buku 1 ini telah selesai disusun, namun ada beberapa hal yang menurut hemat saya perlu diperbaiki. Salah satunya mengenai analisis masa depan, jangan terlalu ringkas, bisa diperluas lagi penjelasannya,” ungkap Mellawati.

Sementara Kadiskominfotik Bustami menyebut pihaknya telah merampungkan penyusunan Buku 1 Banda Aceh Smart City. Pada 10 -11 Juli lalu, Diskominfotik telah melaksanakan bimbingan teknis tahap pertama Gerakan Menuju 100 Smart City Banda Aceh.

“Buku ini merupakan bagian dari masterplan smart city Banda Aceh 2019-2029, yang dilanjutkan bimbingan teknis untuk tahap kedua untuk membahas draft awal ” jelasnya. (*)

Pos terkait