Kritik Wali Kota Banda Aceh Pertanyakan Insentif Setahun, Dokter RSUD Meuraxa Malah Dipecat

  • Bagikan
RSUD Meuraxa Banda Aceh

Kanalinspirasi.com, BANDA ACEH –  Sungguh kasihan nasib Dokter berinisial BA, yang selama ini bertugas sebagai dokter umum di IGD RSUD Meuraxa, berstatus pegawai kontrak.

Setelah setahun berjuang mendukung Pemerintah Kota Banda Aceh sebagai tim medis berada di garda terdepan melawan pandemi Covid 19, malah mendapat “imbalan” pemecatan RSUD Meuraxa.

Dokter BA dipecat karena kritikannya kepada Pemerintah Kota Banda Aceh, menuntut ketidakjelasan pembayaran insentif Covid-19 yang sudah setahun belum disalurkan.

Dilansir dari BERITAKINI.CO, pemecatan dr.BA tersebut berkaitan dengan postingannya ini di story Instagram, yang menampilkan foto Wali Kota Banda Aceh Aminullah sedang tertawa lepas.

Pada postingan tersebut BA menyertai kalimat,

“Lepas kali senyumnya ahh… Ga ada beban pikiran udah setahun lebih hak orang gak diberikan, tapi gak ada malunya.”

“Lon ureung banda, tpi male pemimpin lage nyo. Meu bacut tan amanah (Saya warga Banda Aceh, tapi malu punya pemimpin seperti ini. Sedikit pun tak amanah),” tulis dr. BA pada postingan story Instagram yang diunggahnya Jumat, 1 April 2022 lalu.

Dokter BA mengatakan, postingannya di story Instagram tersebut merupakan ekspresi kekecewaannya. Dia tak tahan atas ketidakjelasan pembayaran insentif Covid-19 yang hingga saat ini tak kunjung disalurkan.

Menurutnya, dana dari Kementerian Kesehatan itu, diduga nyangkut di Pemko Banda Aceh.

“Selama setahun tidak ada penjelasan kongkrit ya, kita sudah tanya ke rumah sakit, tapi buntu. Katanya pencairan tersebut langsung dari pemko, dana itu kan dari Kemenkes dikirimkan ke pemko baru ke kami, namun hingga kini kita belum dapat apapun,” ungkap dr BA, Kamis malam (7/4/2022).

BA mengatakan telah bekerja di RSUD Meuraxa sejak 2021, mendapatkan tugas untuk fokus pada pasien Covid-19 dan mendapatkan insentif sebanyak Rp 10 juta sesuai dengan Permenkes Nomor HK.01.07/MENKES/447/2020.

“Namun seingat saya, saya hanya dapat sekali yaitu Rp 5 juta, itu pun dari IGD bukan dari tugas saya sebagai dokter umum yang langsung menangani pasien Covid 19,” jelasnya.

BA mengaku sangat mengharapkan pembayaran insentif Covid-19 tersebut. Ini karena penghasilannya sebagai dokter umum di RSUD Meuraxa, tak cukup untuk membiayai hidupnya dengan keluarga di Banda Aceh.

BA mengungkapkan bahwa tenaga dokter sepertinya hanya digaji Rp 1,6 juta per bulan. Sementara tunjangan lainnya yakni berupa tunjangan medis senilai Rp 2 sampai 5 juta.

“Seringnya kita dapat sebanyak Rp 2 juta, karena ini tergantung banyak tidaknya pasien,” katanya.

“Oleh karena itulah saya berharap ada uang dari intensif Covid 19 agar bisa membiayai kehidupan bersama keluarga di Banda Aceh,” katanya.

Karena tak kunjung ada kejelasan, BA pun mengekspresikan kekecewaannya itu dengan membuat postingan di media sosial.

“Tujuan saya agar ada solusi atau jawaban yang diberikan Pemko Banda Aceh,” katanya.

Karena sejak awal BA sangat berharap terbangun ruang diskusi dan audiensi terkait pencairan dana insentif Covid-19 tersebut.

Usai memposting kritikan tersebut, BA mengaku langsung dipanggil pihak RSUD Meuraxa. Dia diharuskan untuk menurunkan postingan berisi kalimat sindiran dengan gambar Aminullah tersebut dari Story Instagramnya.

“Saya juga disuruh membuat permintaan maaf secara media dan juga secara langsung kepada Wali Kota Banda Aceh,” ujarnya.

“Saya juga dikabarkan akan dibekukan dulu tugasnya selama sebulan lantaran story itu. Saat itu saya iakan, dan story saya hapus sementara permintaan maaf saya posting kemudian,” kata dr. BA lagi.

Namun, beberapa hari kemudian, lanjut BA, dia dipanggil oleh para pejabat RSUD Meuraxa untuk di sidang. Pada sidang di ruang IGD rumah sakit itulah diputuskan pemberhentian dirinya.

“Dalam sidang itu, mereka menyimpulkan untuk memberhentian saya dengan tidak hormat, bukan selama satu bulan seperti apa yang disampaikan, tapi selamanya, pemberhentian ini pun tanpa peringatan terlebih dahulu,” kata BA.

Untuk selanjunya, dr. BA mengaku akan memberikan waktu terlebih dahulu berharap ada itikad baik pihak rumah sakit untuk menyelesaikan masalah ini.

BA juga ingin dipertemukan secara terbuka disertai media dan DPRK untuk meluruskan jika statementnya tersebut salah.

“Namun apabila ini juga tidak dilakukan, maka mau tidak mau saya ambil jalur hukum untuk mendapatkan keadilan dan mengembalikan nama baik saya,” ujarnya.

Informasi lain yang diperoleh, sejumlah tenaga medis di RSUD Meuraxa mendukung pernyataan dr. BA. Namun mereka memilih diam, karena tidak ingin bernasib menerima sanksi pemecatan seperti yang dialami BA.

Sementara Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa mengatakan alasan pemecatan dokter BA karena dianggap telah melakukan pencemaran nama baik terhadap Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman.(*)

  • Bagikan