Lagi, BNN Musnahkan 30 Ribu Batang Ganja Aceh di Sawang

  • Whatsapp
Ladang Ganja di kawasan Gampong Teupin Rusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Selasa (24/11/2020). Foto : Rahmat Mirza

LHOKSEUMAWE – Badan Narkotika Nasional (BNN) kembali memusnahkan ladang ganja di kawasan Gampong Teupin Rusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Selasa (24/11/2020).

Pemusnahan ini melibatkan puluhan personel BNN dibantu TNI-Polri serta instansi lainnya seperti Dinas Pertanian, Kejaksaan Negeri dan KNPI dengan jumlah personel seratusan lebih.

Bacaan Lainnya

Ladang Ganja di kawasan Gampong Teupin Rusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Selasa (24/11/2020). Kanal Inspirasi/Rahmat Mirza

Lokasi ladang berada di ketinggian 202 meter di atas permukaan laut (Mdpl), dimana areal seluas empat hektar itu ditanami sekitar 30 ribu batang ganja dengan ukuran tanaman bervariatif, mulai dari 10 hingga 200 sentimeter (termasuk bibit dalam polybag).

Direktur Narkotika Deputi Pemberantasan BNN, Brigjen Pol Aldrin M P Hutabarat mengatakan, penemuan ladang ganja ini berawal dari informasi masyarakat tentang adanya penanaman ganja yang kemudian diselidiki oleh BNN bersama personel Polsek Sawang pada 18 November kemarin.

Direktur Narkotika Deputi Pemberantasan BNN, Brigjen Pol Aldrin MP Hutabarat bersama tim gabungan TNI-Polri memusnahkan ladang ganja di kawasan Gampong Teupin Rusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Selasa (24/11/2020). Kanal Inspirasi/Rahmat Mirza

“Dari hasil penyelidikan ternyata benar ada dua lokasi penanaman ganja yang dilakukan secara tumpang sari dengan tanaman pinang, atas penemuan itulah maka pada hari ini tim melaksanakan pemusnahan ladang ganja,” ujar Aldrin.

Pihaknya menduga, lokasi ini telah lama ditanami ganja secara berjenjang. Hal ini dilihat dari ukuran tanaman yang bervariasi mulai dari bibit hingga tanaman yang siap panen. Bahkan, ada tanaman yang baru ditanam sekitar tiga minggu hingga dua bulan.

“Secara umum, kami belum dapat mengetahui pasti sejak kapan adanya ladang ganja di kawasan ini atau sejak kapan masyarakat sekitar mulai menanam. Kami menduga penanaman ganja pada kawasan ini telah dilakukan sejak lama. Khusus di lokasi ini, kami menduga penanaman dilakukan secara berjenjang, dapat kita ketahui bersama dengan melihat ukuran tanaman yang ditemukan, masih terdapat bibit-bibit tanaman namun juga sudah terdapat tanaman yang berukuran besar,” ungkap Brigjen Pol Aldrin.

Direktur Narkotika Deputi Pemberantasan BNN, Brigjen Pol Aldrin MP Hutabarat bersama tim gabungan TNI-Polri, Kejaksaan Negeri, Dinas Pertanian dan KNPI memusnahkan ladang ganja di kawasan Gampong Teupin Rusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Selasa (24/11/2020). Kanal Inspirasi/Rahmat Mirza

Meski belum menemukan pelaku penanaman ganja di lahan ini, namun petugas terus melakukan penyelidikan lanjut. Mengenai status lahan, berdasarkan peta tutupan lahan pada skala 1:250.000 diketahui kawasan ini merupakan Area Penggunaan Lain (APL).

 

“Kami akan berkoordinasi lebih lanjut dengan Kementerian atau Lembaga Negara terkait guna mendapatkan informasi yang lebih detail dan memindak lanjuti penemuan ladang ganja ini,” katanya.

 

Penanaman ganja ini adalah kegiatan yang melawan hukum (ilegal). Oleh karenanya, BNN sebagai representatif pemerintah Republik Indonesia dalam penanganan kegiatan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika akan terus bekerja keras dalam melakukan deteksi dini terhadap adanya penanaman ganja yang dilakukan secara ilegal.

Direktur Narkotika Deputi Pemberantasan BNN, Brigjen Pol Aldrin MP Hutabarat bersama tim gabungan TNI-Polri, Kejaksaan Negeri, Dinas Pertanian dan KNPI memusnahkan ladang ganja di kawasan Gampong Teupin Rusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Selasa (24/11/2020). Kanal Inspirasi/Rahmat Mirza

Secara umum, indikasi awal terhadap motif dari penanaman ini adalah ekonomi, diduga penanam melakukan penanaman untuk mengambil keuntungan dari hasil penjualan ganja kering.

Jika dikemudian hari telah diketahui atau ditangkap tersangkanya akan dipersangkakan Pasal 111 ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan dalam mengungkap siapa pelaku penanaman, ujarnya.

“BNN memiliki program alternative development yakni Grand Design Alternative Development (GDAD). Menurutnya, bila ternyata lahan ini produktif dimungkinkan untuk dilakukan Alternative Development, dimana masyarakat diajak untuk mengganti tanaman ganja ke tanaman holtikultura yang produktif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” pungkas Jenderal Bintang Satu Brigjen Pol Aldrin. []

Pos terkait