Masyarakat Mane dan Geumpang Dukung Pembangunan PLTA Lutueng

  • Whatsapp
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Foto : Doc Google

PIDIE – Forum Masyarakat Geumpang Mane (FM-Geuma) sangat mendukung pembangunan PLTA di daerah mereka, sepanjang investasi tersebut memberikan kesejatraan bagi masyarakat dan kegiatan tersebut tidak memberi dampak negatif pada lingkungan, ekonomi masyarakat dan adat istiadat setempat.

Demikian hal itu disampaikan Humas FM Geuma Jamaluddin yang dikirim ke Redaksi Kanalinspirasi.com, Sabtu (6/6) malam sebagai bantahan atas berita Walhi Aceh yang dimuat media ini, Rabu (3/6) dengan judul “Walhi Minta Gubernur dan Bupati Pidie Tak Keluarkan izin pembangunan PLTA Lutueng“.

Bacaan Lainnya

Menurut Jamaludin, masyarakat Kecamatan Mane dan Geumpang sangat mendukung setiap upaya pembangunan di daerah Kecamatan Mane dan Geumpang sepanjang investasi tersebut memberi kesejahteraan bagi masyarakat dan memastikannya tidak memberi dampak negatif bagi lingkungan, perekonomian masyarakat dan adat-istiadat setempat.

Oleh karena, sepanjang investasi yang masuk ke wilayah kami dapat memberikan jaminan atas kemaslahatan masyarakat Kecamatan Mane dan Geumpang, kami segenap masyarakat menjamin pelaksanaan kegiatan tersebut akan dapat berlangsung.

Dikatakan, pernyataan WALHI yang meminta kepada Gubernur Aceh dan Bupati Pidie untuk tidak mengeluarkan perizinan-perizinan terkait tidak sesuai dengan tatanan proses perizinan-perizinan yang berlaku di Indonesia, hal ini karena intervensi demikian tidak memberi rasa aman, nyaman dan kepastian hukum bagi investasi.

Keberatan-keberatan terhadap suatu proses investasi harus dilakukan melalui proses-proses yang legal dan prosedural.

Dalam hal PLTA Lutueng yang sedang melakukan proses penyusunan Amdal, maka sangat bijaksana kita menghargai proses ini harus berlangsung secara terbuka dan kita kawal bersama sehingga tujuan kajian dampak lingkungan dapat kita kritisi bersama dan secara bersama-sama kita melakukan justifikasi apakah kegiatan ini lebih banyak memberi kontribusi positif atau lebih memberikan dampak negatif bagi lingkungan, perekonomian masyarakat dan sosial budaya.

Jamal berharap, WALHI berargumen dengan berbasis data dan menjadikannya sebagai unit analisis dalam mengevaluasi pokok-pokok keberatan yang disampaikan kepada media, sehingga tidak hanya kami Masyarakat Kecamatan Mane dan Geumpang yang akan memberi tanggapan namun ini juga dapat menjadi masukan para ahli dan penggiat lingkungan lainnya untuk menelaah dampak-dampak yang di-claim secara sepihak oleh Wahli, sebuah lembaga yang kami yakin reputasinya dalam penyelamatan lingkungan hidup.

Kami yakin Wahli tidak tahu lokasi PLTA Lutueng yang akan dibangun, apalagi sampai ke lokasi, bila menyatakan bahwa wilayah rencana PLTA Luteung merupakan kawasan penambangan emas ilegal yang sampai hari ini masih aktif yang melibatkan 2064 penambang 297 lubang tambang yang berada di 850 Ha kawasan hutan lindung karena itu sama sekali tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Apalagi kawasan yang potensi longsor, karena kawasan ini tidak dihuni oleh masyarakat dan tidak ada jalan akses yang memadai ke lokasi (hanya jalan tanah menuju ke kebun masyarakat).

Terhadap keberadaan CRU (Conservation Regional Unit) Gajah yang terletak di sekitar lokasi dan saat ini telah ditutup karena alasan biaya operasional pada Tahun 2016, kami mengharapkan kepada Investor PLTA Lutueng melalui Konsultan Amdalnya untuk mengkaji koridor satwa tersebut dan memastikan adanya pengelolaan yang terukur sehingga tidak mengganggu habitat tersebut.

Dan saat ini lahan di sekitar lokasi telah puluhan tahun merupakan kawasan perkebunan dan persawahaan masyarakat Gampong Lutueng, dan sangat minim adanya konflik satwa tersebut dengan masyarakat Gampong Lutueng. Harapan kami justru dengan terbangunnya PLTA Lutueng dapat bersinergi dengan CRU Gumue untuk dapat dioperasionalkan kembali melalui dana CSR Perusahaan.

Terkait pernyataan WALHI yang menyatakan bahwa Qanun Kabupaten Pidie Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pidie Tahun 2014-2034 pasal 35 Gampong Lutueng diperuntukan pariwisata alam sebagai pusat konservasi gajah, menunjukkan lemahnya interpretasi dan pemahaman WALHI terhadap analisis fungsi ruang dan struktur ruang kawasan.

Hal ini dapat kita lihat secara bussines as usual konservasi gajah tidak lagi dapat beroperasi karena alasan finansial, pun sebagai kawasan wisata alam sama sekali belum terinisiasi sampai saat ini. Oleh karena itu, dengan adanya investasi ini dapat menggairahkan kedua sektor andalan Gampong Lutueng melalui tersedianya infrastruktur dasar dan penyediaan tenaga kerja termasuk potensi tersedianya lokasi berusaha (lokasi pariwisata) di sekitar lokasi genangan bendungan PLTA Lutueng nantinya.

Kami atas nama Forum Masyarakat Geumpang Mane (FM-Geuma), sekali lagi mengajak WALHI dan seluruh penggiat lingkungan,  untuk berdiskusi dengan menyajikan data-data yang valid dan sumber terpercaya, bukan hanya berupa desk study semata apalagi hanya berbasis ilusi semata. (*)

Pos terkait