Memahami Tugas dan Tanggung Jawab Pemimpin

  • Whatsapp
Muslim Khadri, S.STP, M.SM, Direktur Eksekutif Bestuur Institute

oleh: Muslim Khadri, S.STP, M.SM*

DALAM surat al-Nisa` ayat 59: Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya dan ulil amri di antara kamu”

Perintah mentaati pemimpin adalah perintah dalam alquran.

Pemimpin itu adalah seseorang dari golongan itu sendiri yang menjadikan dirinya, ditunjuk atau dipilih diantara mereka dan wajib ada sebagaimaana sabda rasullullah SAW  yang diriwayatkan oleh Ibn Majah dari Abu Hurairah sebagai berikut: (AlSuyuthi, op. cit., 41) “Apabila tiga orang melakukan perjalanan jauh / musafir maka hendaklah salah seorang tampil sebagai pemimpin mereka.

Memahami tentang kepemimpinan bukan sekedar dibicarakan pada setiap terjadi pemilu di negeri ini, islam sangat detail mengembangkan teori teori kepemimpinan dalam kitab karangan para para ulama yang sampai saat ini masih menjadi dasar berpijak para pemimpim muslim dunia.

Artinya islam mengatur bukan saja kehidupan yang hanya menjalankan hidup dengan Allah SWT akan tetapi bagaimana harmonis kehidupan dalam menajalankan kehidupan sesama manusia.

Maka jika setiap perintah Alquran dan Hadist manusia mengikutinya maka kelak keselamatan dan kesejahteraan manusia itu di dunia dan di Akhirat

Sebagaimana Sabda Rasullullah SAW, Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata: “Aku tinggalkan padamu dua perkara. Kamu tidak akan tersesat setelah itu, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah sampai nanti berjumpa dengan telaga.” Hadis riwayat al-Hakim

Jelas mempedomani Alquran dan Hadist tidak akan membawa manusia dalam kesesatan termasuk dalam memilih pemimpin dan menjadi pemimpin.

memilih pemimpin merupakan perkara yang sangat penting jika tidak ada yang mau menjadikan dirinya sebagai pemimpin karena imannya, karena ilmunya, karena amalannya lemah maka harus ditunjuk yang berdasarkan ilmunya, amalannya dan keimanannya kuat, namun bila ada lebih dari satu maka harus dipilih dengan melihat ilmunya, imannya dan amalannya lebih tinggi diantara mereka. Kompetensi istilah milenial sekarang memilih seseorang yang ilmu pengetahuan (Knowlage) Bagus, Ketrampilan (skill) Ada dan Sikap (attitude) Baik. Memilih pemimpin Ini tidak hanya sekedar untuk menentukan siapa yang berkuasa, akan tetapi lebih dari itu, ia akan menentukan tegaknya islam dan menjadi rahmathallilalamin.

Maka sebagai mukmin perintah Q:S Annisa 59, kita perlu selektif dalam menentukan pemimpin agar tidak salah dalam memilih.  pemimpin yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada umatnya memiliki karakter

dalam Alquran Surat Annur: 55 Allah SWT berfirman

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”

Ada banyak istilah sebutan pemimpin menurut tempat kita akan bermukim, pemimpim yang satu kelompok/golongan tidak bisa menjadi pemimpin pada kelompok dan golongan yang lain. Istilah Asing “The Righ Man in The Righ place”

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW): “Jika amanah telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya: ‘Bagaimana maksud amanah disia-siakan?’ Nabi menjawab: “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR Al-Bukhari)

Pemimpin dalam Islam dikenal dengan istilah imam, amair atau sultan,ulil amri atau walatul amr. Sedangkan pemimpin negara dalam sejarah terdahulu biasa digunakan dengan sebutan khalifah

Dalam kelompok lain pemimpin ada sebutan masing-masing, misalnya ketua, kepala, sopir, kapten, pilot, masenis, bos, manager, Direktur, komandan, panglima, sulthan, Presiden, Raja dan Rektor (untuk pimpinan Akademik) semua propesi adalah pemimpin namun pada tempat yang berbeda.

Pemimpin dalam kelompok masyarakat ada banyak tingkatan mulai dari kepala keluarga sampai kepala negara yang nanti oleh Allah SWT akan diminta pertanggungjawaban.

pemimpin adalah orang yang mengemban tugas dan tanggungjawab untuk memimpin dan  meyakinkan orang yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan bersama. Tugas dan tanggung jawab itu merupakan amanat ketuhanan  yang sungguh besar dan berat.

Oleh karena itu, semua yang ada di  langit dan di bumi menolak amanat yang sebelumnya telah Allah  tawarkan kepada mereka. Akan tetapi, manusia berani menerima amanat tersebut, padahal ia memiliki potensi untuk mengingkarinya

Allah SWT Berfirman dalam QS Al-Ahzab:72: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”

Sungguh beban dan tanggung jawab menjadi pemimpin amatlah sangat berat

Sebagai manusia Allah SWT menciptakannya sebagai Mahkluk Sempurna namun tidak terlepas dari itu pula ada banyak kelemahan yang di dapat pada manusia itu sendiri

Beberapa di antaranya merupakan tabiat buruk manusia.

  1. Manusia suka membantah:

dalam Al Quran  surat Al-kahfi ayat 54 : “Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”

  1. Manusia bersifat lemah:

dalam Al Qur’an surat An-Nisa ayat 28 : “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.”

  1. Manusia zalim dan bodoh :

dalam Al Qur’an surat Al-Ahzab ayat 72 : “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

  1. Manusia kikir:

dalam Al Qur’an surat Al-Isra’ ayat 100 : “Katakanlah: ‘Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya’. Dan adalah manusia itu sangat kikir.”

  1. Manusia Mencintai kehidupan dunia:

dalam Al Qur’an surat Al-Qiyamah ayat 20 : “Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia.”

  1. Manusia suka melampaui batas:

dalam Al Qur’an surat Al-Alaq ayat 6 : “Ketahuilah sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.”

  1. Manusia malas berbuat baik:

dalam Al Qur’an surat Al-Ma’arij ayat 21 : “Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.”

  1. Manusia senang berkeluh kesah dan gelisah :

dalam Al Qur’an surat Al-Ma’arij ayat 19 : “Sesungguhnya manusia diciptakan berkeluh kesah lagi kikir.”

  1. Manusia sering tergesa-gesa:

dalam Al Qur’an surat Al-Anbiya ayat 37 : “Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”

  1. Manusia suka berbuat dosa

dalam Al Qur’an surat Al-Maidah Ayat 49: “Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”

  1. Manusia Melakukan kerusakan:

dalam Al Qur’an surat Ar-rum ayat 41 “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)

Suatu ketika terjadi komunikasi antara Allah SWT dengan Para malaikat tersebut dalam Surat Al Baqarah :“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(AlBaqoroh ayat 30).

Maka tugas utama manusia adalah sebagaimana tersebut dalam Alquran : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah SWT.

Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” QS. Ali Imrān 110

“tidak Aku menciptakan jin Dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS Al- Dzariyat: 56)

Lalu dalam alquran pula Allah SWT berfiman :“Kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan bumi, agar Ia membalas orang-orang yang berbuat buruk sebab apa yang mereka kerjakan dan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan kebaikan.” (QS. An-Najm: 31)

Bahwa sebagai hamba atas apa yang Allah SWT berikan maka manusia wajib bersyukur sebagaimana Allah SWT berfirman :

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Q:S Ibrahim: 7).

Allah SWT Berfirman: ”Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Se- sungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. al-An’am : 165)

Sebagai hamba yang dijadikan oleh Allah SWT sebagai Khalifah-Pemimpin maka memiliki tugas-tugas sebagaimana yang tersebut dalam Alquran

  1. Tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri meliputi tugas-tugas:

(1)  menuntut ilmu pengetahuan (Q.S.al-Nahl: 43), karena manusia itu adalah makhluk yang dapat dan harus dididik/diajar (Q.S. al-Baqarah: 31) dan yang mampu mendi­dik/mengajar (Q.S. Ali Imran: 187, al-An’am: 51);

(2) menjaga dan memelihara diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan bahaya dan kesengsaraan (Q.S. al-Tahrim: 6) termasuk di dalamnya adalah menjaga dan memelihara kesehatan fisiknya, memakan makanan yang halal dan sebagainya; dan

(3) menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Kata akhlaq berasal dari kata khuluq atau khalq. Khuluq merupakan bentuk batin/rohani, dan khalq merupakan bentuk lahir/ jasmani. Keduanya tidak bisa dipisahkan, dan manusia terdiri atas gabungan dari keduanya itu yakni jasmani (lahir) dan rohani (batin). Jasmani tanpa rohani adalah benda mati, dan rohani tanpa jasmani adalah malaikat. Karena itu orang yang tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia sama halnya dengan jasmani tanpa rohani atau disebut mayit (bangkai), yang tidak saja membusukkan dirinya, bahkan juga membusukkan atau merusak lingkungannya.

  1. Tugas kekhalifahan dalam keluarga/rumah tangga meliputi tugas membentuk rumah tangga bahagia dan sejahtera atau keluarga sakinah dan mawaddah wa rahmah/cinta kasih (Q.S. ar-Rum: 21) dengan jalan menyadari akan hak dan kewajibannya sebagai suami-isteri atau ayah-ibu dalam rumah tangga.
  2. Tugas kekhalifahan dalam masyarakat meliputi tugas-tugas :

(1) mewujudkan persatuan dan kesatuan umat (Q.S. al-Hujurat: 10 dan 13, al-Anfal: 46);

(2) tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan (Q.S. al-Maidah: 2);

(3) menegakkan keadilan dalam masyarakat (Q.S. al-Nisa’: 135);

(4) bertanggung jawab terhadap amar ma^ruf nahi munkar (Q.S. Ali Imran: 104 dan 110); dan

(5) berlaku baik terhadap golongan masyarakat yang lemah, termasuk di dalamnya adalah para fakir dan miskin serta anak yatim (Q.S. al-Taubah: 60, al-Nisa’: 2), orang yang cacat tubuh (Q.S. ’Abasa: 1-11), orang yang berada di bawah penguasaan orang lain dan lain-lain.

  1. Tugas kekhalifahan terhadap alam (lingkungan) meliputi tugas-tugas:

(1)  Menjaga Lingkungan jangan sampai rusak dalam Al Qur’an surat Ar-rum ayat 41 Allah SWT Berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar); dan Dalam QS, Al-A‟raf ayat 56. Sangat jelas Artinya: dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah allah memperbaikinya dan berdo‟alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yangberbuat baik.

(2) Sebagai makhluk sangat membutuhkan kepada lingkungan yang satu sama lain harus menjaga lingkungan pada ekosistemnya masing-masing Dalam ayat yang lain QS, Al-Hijr ayat: 19-20 Artinya: Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya; dan Dalam QS, Al-Hijr ayat: 22 juga dijelaskan Artinya: Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuhtumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.

(3) Mengunakannya sesuai dengan kebutuhan tidak mengikuti hawa nafsu

Dalam QS, Al-An‟am ayat 142 yang  Artinya: dan dari binatang ternak sebagai pengangkut dan sebai alas. makanlah sebagian rezeki yang telah dianugerahkan Allah kepada kamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia terhadap kamu adalah musuh yang nyata.

Itulah tugas dan tanggungjawab pemimpin di dunia yang sementara kedudukan kekuasaannya namun pertanggungjawaban wajib di dunia maupun diakhirat kelak dihadapan Allah SWT. Abdullah bin Umar mengatakan, Rasulullah SAW berkata, “Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang pemimpin umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka.

Perlu disadari ketika sebuah tanggung jawab yang besar dibebankan kepada kita maka menjadi musibah bagi kita, untuk mudah mempertanggungjawabkan amanah tersebut maka jalankan sesuai dengan anjuran Alquran dan Hadist. Maka Jangan pernah meminta menjadi pemimpin karena menurut Hadist Abdurrahman bin Samurah berkata, Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Wahai Abdurrahman, janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika kamu diberi jabatan karena permintaan maka tanggung jawabnya akan dibebankan kepadamu. Namun jika kamu diangkat tanpa permintaan, maka kamu akan diberi pertolongan.” (HR Muslim).

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Bestuur Institute

 

Pos terkait