Membangun Ekonomi Gampong Melalui BUMG

  • Whatsapp
undang-undang tentang desa

Oleh : Teguh Heriyanto, SSTP, MSP.

KANALINSPIRASI – Pasca lahirnya Undang-undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, salah satu kewenangan yang dimiliki oleh Gampong adalah dapat mendirikan Badan Usaha Milik Gampong (BUMG). Pasal 1 angka 6 UU no.6/2014 tentang Desa disebutkan bahwa Badan Usaha Milik Desa, yang selanjutnya disebut BUM Desa adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan Desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha lainnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa.

Bacaan Lainnya

BUM Desa atau BUMG sebenarnya bukanlah “produk” baru, jauh sebelum lahirnya UU Desa BUMG sudah diatur didalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa, namun dalam Peraturan Pemerintah tersebut kewenangan Gampong masih sangat terbatas, termasuk dalam hal pendirian dan pengelolaan BUMG.

FILOSOFI DAN TUJUAN PENDIRIAN BUMG

Secara filosofis BUMG lahir atas dasar musyawarah Gampong yang selanjutnya ditetapkan dalam Qanun Gampong. BUMG dijalankan oleh pengurusnya yang direkrut melalui musyawarah Gampong dan ditetapkan dengan Keputusan Keuchik. Modal BUMG dapat diperoleh melalui penyertaan Modal dari Pemerintah Gampong yang bersumber dari Dana Desa, atau bantuan keuangan dari Pemerintah. Penyertaan modal juga bisa berasal dari masyarakat Gampong.

Didalam Permendesa No.4 Tahun 2015 tentang BUM Desa tujuan utama didirikan BUMG adalah sebagai upaya menampung seluruh kegiatan di bidang ekonomi dan pelayanan umum yang dikelola oleh Gampong atau melalui kerjasama antar Gampong. BUMG merupakan sebuah badan usaha atau lembaga bisnis milik Pemerintah Gampong yang diharapkan mampu mendongkrak Pendapatan Asli Gampong dan menghadirkan lapangan kerja bagi Warga.

Sebagai sebuah lembaga bisnis, BUMG tidak selalu mengutamakan profit atau keuntungan. Lebih dari itu BUMG juga memiliki manfaat social (social benefit) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di Gampong. Tolok ukur keberhasilan Gampong adalah mampu meningkatkan Pendapatan Asli Gampongnya, salah satu strategi jitu adalah dengan mendirikan BUMG.

BAGAIMANA MENJALANKAN BUMG?

Salah satu alasan yang sering dilontarkan oleh banyak pihak, apakah masyarakat ataupun Aparatur Pemerintah Gampong saat akan memulai mendirikan BUMG adalah “kami tidak ada potensi seperti mereka pak, itu disana pak, kita di Aceh beda, gak bisa kita jalankan seperti mereka,” dan banyak lagi alasan lainnya. Pola pikir seperti ini sudah sangat mengakar dan sangat sulit untuk diubah, butuh waktu untuk dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat bahwa sebenarnya semua Gampong memiliki potensi sumber daya yang besar.

Soal cara pikir sangat mempengaruhi kekuatan BUMG itu sendiri. Rudi Suryanto, SE, M.Acc, Ak, CA Master Trainer BUMDes Indonesia yang juga Founder bumdes.id dalam bukunya “Peta Jalan BUMDES SUKSES” mengatakan nasib Desa tidak akan berubah, kecuali warga Desa itu sendiri yang mengubahnya. BUM Desa harus dimulai dengan semangat kedaulatan dan kemandirian ekonomi Desa.

Dalam menentukan jenis usaha yang akan dijalankan Gampong perlu membuat perencanaan yang matang. Gampong harus mampu membuat perencanaan bisnis dan membuat studi kelayakan bisnisnya, pemilihan bisnis yang tepat akan menentukan keberlangsungan bisnis yang dikelola BUMG. Langkah awal bisa dimulai dengan mengkaji setiap potensi yang ada sesuai dengan bentang alam dan bentang sosial yang ada di Gampong.

Pemetaan potensi sangatlah penting mengingat setiap Gampong memiliki potensi SDA dan SDM yang berbeda-beda. Gampong harus bisa memetakan masalah atau persoalan yang paling mendasar yang sedang dihadapinya. Banyak cara atau metode untuk melakukan pemetaan kondisi dalam rangka merancang model bisnis yang cocok salah satunya dengan menggunakan analisa SWOT, Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (peluang), Threat (ancaman).

Dalam menyusun perencanaan bisnis dan pemetaan kondisi tersebut harus melibatkan Stakeholder (Pemangku Kepentingan) di Daerah. BUMG tidak bisa berjalan sendirian perlu adanya pendampingan dari Pemerintah Daerah, Pendamping Desa, Perguruan Tinggi, serta elemen lainnya yang ada di Daerah.

MEMBANGUN KOMUNIKASI  DAN JEJARING BISNIS

Curtland L, Bovee salah seorang Profesor Komunikasi Bisnis dalam Bukunya yang berjudul “Bussiness Communication Today” menjelaskan bahwa pelaku bisnis harus mampu memahami internet dan harus mampu mengkomunikasikan informasi bisnis lewat internet dan teknologi lainnya. Di era milenial saat ini pengurus BUMG harus mampu memanfaatkan media social seperti Facebook, Instagram, WhatsApp ataupun yang lainnya untuk mempromosikan dan memasarkan produk yang ditawarkan. Media social sangat ampuh untuk mempromosikan produk-produk unggulan dan keunikan yang ada di Gampong

Seperti yang dilakukan Desa Wisata Nglanggeran sebuah Desa terpencil di Kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta. Melalui BUMGnya mereka mengenalkan potensi wisatanya lewat media sosial dengan memviralkan dua objek wisata unggulan yaitu gunung api purba dan embung besar hingga terkenal. Desa Nglanggeran berhasil meraih penghargaan sebagai Desa Wisata terbaik ASEAN Tahun 2018.

Gampong juga bisa melakukan kerjasama antar Gampong dengan membentuk BUMG bersama, misalnya 5 Gampong sepakat bekerjasama untuk mengelola potensi sumber daya yang berada di wilayahnya. Mendirikan BUMG bersama merupakan sebuah solusi bijak bilamana Gampong belum siap mengelola secara mandiri, hal ini ini juga sejalan dengan program Pemerintah dalam upaya pengembangan kawasan ekonomi Perdesaan.

STUDI TIRU

Mungkin tidak ada salahnya kita belajar dari Desa-desa diluar Aceh yang berhasil membangun Desanya. Kita tidak perlu mencontoh bulat-bulat dan menerapkannya di daerah kita, yang perlu kita contoh adalah polanya bukan bentuknya, bagaimana cara mereka mengembangkan potensi yang ada di Gampong melalui BUMG hingga mampu menghasilkan Pendapatan Gampong milyaran rupiah.

Kita bisa mencontoh Desa Lendang Nangka Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menjadi juara satu pada tahun 2016 sebagai Desa Inovatif. Melalui BUMGnya mereka sukses mengelola usaha simpan pinjam, mengelola sampah menjadi pupuk dan pengelolaan sumbermata air menjadi PAM Desa.

Kemudian ada Desa Panggungharjo Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Jogjakarta. Melalui BUMDes Panggung Lestari yang mereka rintis sejak tahun 2013, saat ini mereka mampu memperoleh Omzet lebih dari 3 Milyar dengan berbagai Usaha diantaranya unit usaha Kampung Mataraman dengan mengangkat tema Desa Wisata bergaya tradisional.  Pengelolaan sampah, pengolahan limbah minyak goreng (jelantah) menjadi bahan bakar alternatif pengganti solar yang membuat mereka mendapat kontrak kerjasama dengan PT. Tirta Investama (Danone Aqua).

Kita juga bisa belajar dari Desa Ponggok Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Desa Ponggok dengan BUM Desa Tirta Mandiri saat ini menjadi Desa Wisata yang sangat Populer. Unit Usaha Wisata unggulan Umbul Ponggok menjadi penopang utama pendapatan Desa. Sekdes Ponggok (Yani Setiadiningrat) mengatakan Tahun 2018 BUM Desa Tirta Mandiri Ponggok mampu manghasilkan omzet sebesar 16,5 Milyar. Dari angka tersebut 4,5 milyar masuk menjadi Pendapatan Desanya. Sungguh angka yang sangat fantastis untuk sekelas Desa.

TUGAS KITA BERSAMA

Menjadikan Gampong yang mandiri dalam segala aspek akan berhasil bila semua stakeholder ikut berperan sesuai perannya masing-masing. Menggali potensi ekonomi Gampong lewat BUMG tidak hanya menjadi tugas Pemerintah Daerah, tetapi juga harus menjadi perhatian utama Perguruan Tinggi, Lembaga-lembaga penelitian, pelaku bisnis,  LSM, komunitas dan media.

Bagi Perguruan Tinggi mungkin bisa mengirimkan Mahasiswanya setiap kali melakukan Praktek Pengabdian Masyarakat untuk memetakan potensi sumber daya yang ada di Gampong dan diberikan kepada Gampong untuk selanjutnya dijadikan dasar dalam rangka pegembangan ekonomi Gampong.  Lembaga-lembaga penelitian Perguruan Tinggi juga seyogianya memberikan pendampingan kepada Gampong dalam upaya mengembangkan potensi sumber daya dibidang teknologi tepat guna.

Mari kita bangun ekonomi Gampong melalui BUMG, keberhasilan dan kemandirian Gampong tidak akan didapat secara instan, butuh proses dan perjuangan dari kita bersama. Insya Allah ekonomi Gampong bangkit, masa depan Ekonomi Indonesia maju.

Pos terkait