Meriahkan HUT 21, Koalisi NGO HAM Aceh Gelar Lomba Foto Selfie dan Vlog

  • Whatsapp
Koalisi NGO HAM Aceh
Penyerahan hadiah kepada Darmawan juara tiga lomba foto selfie. Foto: dok. Koalisi NGO HAM

BANDA ACEH – Memeriahkan ulang tahun ke-21, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Koalisi NGO HAM Aceh menggelar lomba foto selfie dan vlog. Perlombaan yang berlangsung sejak 21 Juli hingga 7 Agustus tersebut terbuka bagi seluruh warga negara Indonesia.

Foto selfie May Surayya di depan tugu Rumoh Geudong terpilih sebagai juara. May mengunggah foto selfie dirinya di depan tugu Rumoh Geudong.

Bacaan Lainnya

Foto selfie May Surayya

“Pemenang Foto selfie May Surayya di depan salah satu situs pelanggaran HAM berat di Aceh pada masa DOM diberlakukan di Aceh, diunggah ke media sosial Facebook dan Instagram miliknya,” sebut Direktur Eksekutif Koalisi NGO HAM Aceh, Zulfikar Muhammad, Senin (19/8).

Sedangkan juara dua lomba foto selfie diraih oleh Muhammad Sazarul Rusla yang mengunggah foto selfie di tempat pembunuhan tokoh Aceh HT. Djohan.

Dan juara tiga diraih oleh Darmawan, yang mengunggah foto selfie di tempat pembantaian ulama sufi Aceh, Teungku Bantaqiyah, dan pengikutnya di Desa Blang Meurandeh, Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya.

Untuk kategori lomba vlog, juara pertama diraih oleh akun media sosial Insan Qurani Al-Islami, dengan video perjanjian damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Republik Indonesia, berdurasi semenit.

“Video ini membawa pesan dan harapan semoga konflik dan kekerasan tidak terjadi lagi di Aceh di masa depan,” jelas Zulfikar.

Untuk juara kedua diraih oleh Chalidin oleh yang menjelaskan tragedi Rumah Trieng Gadeng. Dan juara ketiga diraih oleh Husna yang menjelaskan tragedi Simpang KKA di Aceh Utara.

Para pemenang foto selfie dan vlog masing-masing mendapat hadiah uang tunai dan juga sertifikat. Peserta lain juga mendapat predikat Juara Apresiasi Kemanusiaan dari Koalisi NGO HAM.

Lomba foto selfie ini digelar untuk merangsang pemikiran publik terutama kaum muda terkait pentingnya perdamaian dan penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu. Melalui kegiatan ini, Koalisi NGO HAM Aceh juga ingin mendorong agar situs atau lokasi kejadian pelanggaran HAM menjadi warisan atau heritage pengetahuan konflik dan perdamaian Aceh.

“Yang nantinya tempat-tempat heritage ini akan dijaga oleh masyarakat setempat,” harap Zulfikar.

Koalisi NGO HAM Aceh, kata Zulfikar, dideklarasikan oleh beberapa aktivis HAM Aceh pada tanggal 7 Agustus 1998.

“Lembaga ini didirikan bertepatan dengan pencabutan status Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh oleh Panglima ABRI masa itu, Jenderal Wiranto. TNI menurunkan pasukan khususnya dalam operasi yang bersandi Jaring Merah,” pungkasnya.(*)

Pos terkait