Musriadi, Dari Tukang Sol Sepatu Hingga Jadi Politisi

  • Whatsapp

BANDA ACEH – Orang bijak pernah berkata “Hidup adalah perjuangan”. Dalam berjuang tentu harus dimulai dari mimpi dan kerja keras.Tak terkecuali bagi seorang Musriadi bin Aswad yang saat ini salah seorang politisi dengan posisi sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota Banda Aceh dari Partai Amanat Nasional (PAN).

Lelaki kelahiran Ilie Ulee Kareng Banda Aceh, 25 Agustus 1976 silam itu, sudah ditinggalkan oleh ayahnya ketika ia masih berusia dua tahun. Sebagai seorang anak yatim, ia tak menyangka bisa melanjutkan pendidikan formalnya hingga ke jenjang Strata-3 (S3).

Bacaan Lainnya

Awal cerita, setelah lulus SMA pada tahun 1994 Musriadi berkeinginan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, namun terbentur biaya. Musriadi muda yang terhimpit ekonomi kemudian memilih bekerja serabutan dengan pendapatan yang pas-pasan. Salah satu profesi yang ia lakoni kurang lebih selama 11 tahun (1994-2005) adalah sebagai tukang sol sepatu di pasar Ulee Kareng. Dalam mengais rupiah ia juga menyambi sebagai buruh bangunan, kernet labi-labi (angkutan kota) dan pedagang ayam potong.

Lalu bagaimana suami dari Yenni Ulfiana S.Pd.I yang kini sudah dikaruniai tiga orang anak itu berhasil menempuh pendidikan S3, sampai akhirnya menjadi anggota dewan sekaligus Sekretaris Fraksi-PAN di DPRK Banda Aceh?

Salah satu hal yang dapat dijadikan panutan dari sosok Musriadi adalah semangat kerja kerasnya yang luar biasa. Ia tak hanya mampu memenuhi kebutuhan pribadinya, melainkan juga bisa menjadi tulang punggung keluarga yang bertanggung jawab terhadap ibu dan biaya pendidikan adik-adiknya.

“Dari semua itu, saya terus bekerja keras, saya bermimpi agar hidup saya selalu bermakna bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk masyarakat secara umum,” katanya.

“Bagi saya, eksistensi kehidupan kita harus bermanfaat bagi semua orang, dengan sikap saling hormat menghormati. Karena saya sudah merasakan hidup susah, menjadi pekerja yang kadang-kadang tak dianggap ketika kita berada di level bawah,” lanjutnya.

Dari itu, Musriadi memiliki impian untuk dapat hidup selalu bermakna bagi orang di sekitarnya. Ia mulai membangun mimpi itu dengan melanjutkan studi ke jenjang Sarjana pada tahun 2001 di Universitas Serambi Mekkah setelah “menganggur” selama 7 tahun, sejak menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 4 Banda Aceh (sekarang SMA Negeri I Krueng Barona Jaya).

Ayah dari Muhammad Rayyan, Jihan Khansa, dan Ayra Fazia Saira ini tidak pernah bermain-main dengan mimpinya, dalam jangka waktu empat tahun ia berhasil menyelesaikan pendidikan S1 dan menjadi seorang Sarjana. Lalu ia memberanikan diri melenggang ke jenjang S2 di bidang Manajemen Pendidikan dan S2 Pendidikan biologi di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Tak tanggung-tanggung, ijazah S2 ia raih hanya dalam kurun waktu 18 bulan. Hal ini tentu menjadi inspirasi tersendiri bagi mahasiswa lain kala itu.

“Dari awal saya berdoa supaya pendidikan S2 selesai tepat waktu dan alhamdulillah S2 dapat saya selesaikan dalam kurun waktu 18 bulan,” kata pria yang terkenal ramah ini.

Buah dari kerja keras dan ketekunannya, putra Gampong Ilie, Ulee Kareng tersebut, alhasil mendapatkan beasiswa untuk menempuh studi, mulai dari S1, S2 hingga S3. Tepat pada tahun 2004 Musriadi menjadi salah satu penerima Beasiswa Nurani Dunia kemudian mendapat kesempatan pula sebagai Penerima Beasiswa BPPS (Beasiswa Pendidikan Pasca Sarjana). Semua itu ia peroleh tak hanya karena tekun dalam belajar melainkan karena usaha, kerja keras, niat yang kuat dan semangat pantang menyerah hingga mendapatkan beasiswa yang dipenuhi oleh lika-liku.

Hal lain yang patut dibanggakan dari seorang Musriadi adalah dalam bidang organisasi. Putra Ulee Kareng Banda Aceh ini dianugerahi jiwa sosial yang tinggi untuk mengabdi kepada masyarakat. Bukan hanya berkontribusi melalui jalur akademisi, tapi juga dengan jalur organisasi. Ia terlibat aktif di sejumlah organisasi baik yang bersifat kepemudaan, agama dan sosial dengan skala regional dan nasional.

Banyak hal yang dapat dicontoh dari sosok Musriadi, diantaranya adalah hidup harus memiliki semangat juang, motivasi, pekerja keras dan sahabat yang setia dalam setiap organisasi. Musriadi memiliki semangat kerja yang luar biasa untuk melawan kehidupan masa silamnya yang terpuruk secara ekonomi.

Riwayat oganisasi yang pernah diukir oleh pria berkaca mata itu diantaranya adalah sebagai Wakil Ketua KNPI Kota Banda Aceh, Wakil Sekretaris KNPI Aceh, Wakil Sekretaris Badko HMI Provinsi Aceh dan menjadi juga Bendahara Umum HMI Aceh Besar.

Dalam perjalanan karir politiknya, politisi yang komunikatif ini pernah menjabat sebagai Ketua Ranting PAN Gampong Ilie, Ketua DPC PAN Ulee Kareng, Wakil Ketua DPD PAN Banda Aceh, Sekretaris DPD PAN Banda Aceh, Ketua DPD BM PAN Banda Aceh, Sekretaris DPW BM PAN Aceh dan Wakil Sekretaris DPW PAN Aceh. Dari rahim PAN inilah Musriadi maju sebagai peserta kontestasi pemilihan anggota dewan pada tahun 2009, 2014 dan pada akhirnya terpilih menduduki kursi DPRK Banda Aceh pada tahun 2019 dari daerah pemilihan 3, kecamatan Syiah Kuala dan Ulee Kareng. Musriadi diberi amanah menjadi anggota DPRK Banda Aceh dan menjabat sebagai Ketua Komisi I DPRK Banda Aceh periode 2019-2024. (*)

Pos terkait