Pj Bupati Aceh Besar Laporkan Upaya Cepat Penanggulangan PMK

  • Bagikan
Pj Bupati Aceh Besar, Muhammad Iswanto memaparkan perkembangan penanganan kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dihadapan Kepala BNPB Pusat, Letjen TNI Suharyanto pada Rapat Koordinasi bersama Sekda Aceh, selaku ketua Satgas PMK Aceh, Wakapolda, Wakil Ketua DPRA, Perwakilan dari Kajati Aceh dan Kodam IM beserta unsur terkait lainnya di Aula Serbaguna Setda Aceh, Rabu 3/8/2021

Kanalinspirasi.com, BANDA ACEH – Penjabat (Pj) Bupati Aceh Besar, Muhammad Iswanto, melaporkan langkah-langkah cepat dan taktis yang telah dilakukan Pemerintah Aceh Besar dalam mengendalikan penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Aceh Besar, Rabu 3 Agustus 2022.

Laporan itu dipaparkan langsung dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), yang dilaksanakan secara hybrid, di Ruang Serba Guna Kantor Gubernur Aceh.
Iswanto mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan Pemkab Aceh Besar yang dimulai dari mendata, memetakan hingga melakukan berbagai aksi cepat dan taktis dalam penanggulangan PMK pada hewan ternak dalam wilayah Aceh Besar.

Muhammad Iswanto menyebutkan, langkah-langkah yang telah dilakukan pihaknya guna menekankan penyebaran PMK meliputi, melakukan pelaporan pada aplikasi pusat (Isikhnas) yang telah dilakukan sejak tanggal 6 Mei 2022 lalu.

Kemudian, ia melanjutkan dengan menyosialisasi serta mengedukasi masyarakat dan pedagang ternak terkait wabah di pasar hewan Sibreh, Kecamatan Sukamakmur. Lalu, membuka crisis center atau posko pelaporan kasus PMK di Aceh Besar.

Untuk mencegah meluasnya wabah tersebut, Pemkab Aceh Besar juga melakukan penutupan sementara pasar-pasar hewan di Aceh Besar, serta melakukan pengobatan ternak yang sakit dan mendesinfektan kandang.

Ia menjelaskan, hal itu dilakukan lantaran adanya temuan awal kasus yang menunjukkan gejala klinis virus PMK di Aceh Besar, berasal dari Gampong Lampaya, Kecamatan Lhoknga dengan sebanyak 1 ekor pada 6 Mei lalu dan bertambah lagi 3 ekor pada tanggal 9 Mei.

Kemudian, pada bulan sama juga ditemukan kembali kasus PMK di Montasik sebanyak 3 ekor. Berdasarkan hasil penelusuran ketujuh ekor sapi tersebut adalah hewan ternak yang diperdagangkan dari pasar hewan Sibreh.

“Kita lakukan penutupan sementara 3 pasar hewan, dan kami juga melakukan pengawasan ketat pada lalu lintas ternak di RPH dan Pasar Hewan. Kita juga membatasi lalu lintas ternak yang sudah kita lakukan sejak 3 hari lalu pada pintu masuk wilayah barat di Lhoong sedangkan di utara di Kecamatan Lembah Seulawah Saree,” papar Iswanto.

Gerak cepat Pemkab Aceh Besar, juga diwujudkan dengan telah ditetapkanya status wabah dan pembentukan Satgas PMK Aceh Besar, serta pelaksanaan vaksinasi PMK sebanyak 1500 dosis yang telah terlaksana 100 persen.

“Pelayanan cepat tanggap petugas medis/ paramedis dan Pelayanan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Sekarang kita juga sedang mereview terkait Bantuan Tidak Terduga (BTT) APBK Aceh Besar,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto, mengatakan sama halnya dengan Covid-19 wabah PMK ini juga harus diwaspadai dan menjadi perhatian serius bagi semua pihak, agar wabah ini tidak tersebar secara luas.

Suharyanto, selaku Ketua Satgas PMK Nasional, menyebutkan, ada 4 langkah strategi yang harus diperhatikan dalam penanganan wabah PMK pada hewan ternak.

Pertama Biosecurity, potong bersyarat, Pengobatan, dan Vaksinasi. Pelaksanaan biosecurity harus lebih ditingkatkan, karena menjadi kunci dalam penanganan PMK sebelum adanya testing dan vaksinasi yang masif.(*)

  • Bagikan