PMK Serang 85 Ekor Ternak per hari di Aceh Besar

  • Bagikan
Petugas posko Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Pemkab Aceh Besar memeriksa dan mengobati sapi yang terinfeksi PMK di Montasik, Aceh Besar, Aceh, Sabtu (21/5/2022). (ANTARA FOTO / Irwansyah Putra)

Kanalinspirasi.com, ACEH BESAR – Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Besar menyebut kondisi penyebaran wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di daerahnya mencapai 85 ekor ternak per hari.

“Kalau dari penambahan kasus baru di Aceh Besar itu rata-rata setiap hari 85 ekor dari awal PMK di Aceh Besar mulai 6 Mei 2022 hingga 10 Juni ini,” kata Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Dinas Pertanian Aceh Firdaus saat dihubungi dari Banda Aceh, Jumat.

Dinas Pertanian Aceh Besar mencatat total populasi sapi di kabupaten setempat sebanyak 81.276 ekor dan kerbau sebanyak 6.401 ekor.

Dijelaskan, hingga saat ini jumlah ternak yang terindikasi PMK di Aceh Besar mencapai 2.686 ekor meliputi sapi dan kerbau yang tersebar di 19 kecamatan. Kasus tertinggi di kecamatan Kuta Baro, Montasik dan Indrapuri.

Dari data itu, sebanyak 598 ekor ternak sudah dinyatakan sembuh, kemudian 11 ekor mati dan tujuh ekor mati dengan cara dipotong paksa, karena kondisi ternak sudah tidak mungkin lagi diobati.

“Dalam penanganan potong paksa ini, semua daging dikuburkan agar virus tidak membahayakan ternak lain,” kata Firdaus.

Ia menjelaskan ternak terindikasi PMK itu terus mendapatkan perhatian dari pemerintah dan juga peternak, melalui penanganan berupa pemberian antibiotik, serta berbagai macam vitamin hingga akhirnya sembuh.

Ternak yang sembuh itu, lanjut dia, tidak lepas juga peran besar dari para peternak yang selalu memantau perkembangan kesehatan ternak mereka, dan bahkan juga ikut memberikan obat-obatan tradisional.

“Kami perhatikan di lapangan, peran peternak ini lebih besar. Mereka juga memberikan telur bebek, gula aren kepada ternak mereka dengan tujuan agar stamina ternak kembali pulih,” katanya.

Sedangkan 18 ternak yang mati, kata Firdaus, memang sudah dalam kondisi yang sangat parah, ditambah lagi penanganan yang terlambat karena ternak tersebut dilepas liar.

“Jadi ketika ditemukan kondisinya sudah parah, kuku sudah terkelupas, mulut sudah rusak, jadi yang mati ini umumnya karena terlambat ditangani,” katanya.

Untuk saat ini, Dinas Pertanian Aceh Besar terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang wabah PMK, di samping terus melakukan penanganan terhadap ternak yang terindikasi PMK, mulai dari pencegahan melalui penyemprotan disinfektan hingga pengobatan.(*)

  • Bagikan