Ratusan Warga Demo PLTMG Sumbagut Arun 2

  • Whatsapp
warga meuria paloh pltmg arun 2
Ratusan warga Desa Meuria Paloh, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Selasa (13/10/2020) melakukan aksi di depan pintu masuk perusahanan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Sumbagut Arun 2, Lhokseumawe. Kanal Inspirasi/Rahmat Mirza

LHOKSEUMAWE – Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Arun 2 didemo ratusan warga Desa Meuria Paloh, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe Selasa (13/10). Mereka memprotes suara pembangkit yang berisik, getaran mesin itu bahkan merusak dinding rumah warga.

Masyarakat sekitar lingkungan perusahaan mengaku sudah lima bulan lebih menderita akibat gangguan tersebut. Bahkan sudah ada warga yang sakit akibat radiasi yang ditimbulkan. Ada juga yang mengungsi, karena tidak tahan.

Bacaan Lainnya

Warga mendesak manajemen perusahaan penyuplai listrik ke PLN tersebut segera menghentikan operasi karena menimbulkan persoalan lingkungan, seperti tingkat kebisingan dan getaran yang tinggi sangat mengganggu kesehatan masyarakat sekitar.

Koordinator unjukrasa, Muhammad MY, dalam orasinya menyebutkan, perusahaan telah berkali-kali diminta untuk mengatasi gangguan suara dan getaran yang ditimbulkan oleh pembangkit listrik itu.

“Kita minta pengoperasian pabrik PLTMG Arun 2 dihentikan sementara, sampai kondisi normal dan tidak bising lagi. Jangan sampai semua rumah warga retak karena getaran mesin itu,” ujar Muhammad.

Pendemo kaum ibu terlihat memengang poster bertuliskan “kami sangat tergangu dengan mesin PLN”. Kanal Inspirasi/Rahmat Mirza

Warga juga mendesak pemerintah daerah dan Gubernur Aceh untuk mencabut izin operasional perusahaan PLTMG Sumbagut Arun 2 karena dianggap gagal dalam pelaksakan amdal (mengabaikan UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup serta mengabaikan Permendagri Nomor 48 tahun 2002).

“Kami sangat berharap beberapa lembaga advokasi masyarakat seperti Walhi Aceh dan Koalisi NGO HAM Aceh turut membantu kami mengatasi masalah ini,” kata Muhammad yang juga Aparatur Desa Meuriah Paloh.

Pendemo juga mendesak agar perusahaan memberikan ganti rugi terhadap rumah warga yang retak dan rusak dan memberikan kompensasi sosial masa panik akibat kebisingan pabrik serta merehab ganguan fisik, sosial masyarakat atau lingkungan.

Para pendemo terlihat membawa poster dan spanduk. Mayoritas pendemo kaum ibu. Sisi lain, puluhan polisi mengawal kasus itu.

Aksi unjukrasa berlangsung dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 15.30 WIB, dibawah pengamanan pihak kepolisian, lengkap dengan mobil water canon.

Manager Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Sumbagut Arun 2, Subrata. Kanal Inspirasi/Rahmat Mirza

Sementara itu, Mengenai persoalan warga, Manager Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Sumbagut Arun 2, Subrata mengaku akan segera ditindak lanjuti, namun warga diminta bersabar, karena penyelesaiannya butuh proses.

“Kami minta maaf karena masyarakat sudah terganggu, saat ini kami sedang menunggu hasil uji sampel dari Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan (BLHK) kota Lhokseumawe. Prinsipnya  kami akan mengikuti semua yang tertera dalam Amdal,” ujar Subrata.

Soal kebisingan akan diselidiki penyebabnya, namun untuk mematikan semua mesin itu tidak mungkin. Bisa saja ada 5 mesin yang dihentikan, dari 13 mesin yang beroperasi.

“Terkait ada rumah yang retak, kita sudah lihat ke tempatnya. Namun itu juga butuh kepastikan apakah rusak akibat getaran dari PLTMG atau disebabkan hal lain sebelumnya. Itu semua harus diinvestigasi,” pungkas Subrata. (mad)

Pos terkait