Seorang Wanita Hamil di AS Ditinju

  • Whatsapp
wanita hamil ditinju
Ilustrasi Wanita Hamil. Foto : Ist

PHILADELPHIA – Seorang wanita keturunan China-Amerika yang sedang hamil ditinju wajahnya saat berjalan dengan putrinya yang berusia 12 tahun di Philadelphia, Amerika Serikat (AS). Penyerangnya, seorang wanita, mengira korban adalah warga China.

Insiden pemukulan bermula ketika penyerang mendatanginya dan tiba-tiba menyemprotkan air pada korban dan putrinya dua minggu lalu. Korban yang bernama Jing Chen, seperti dikutip WPVI, media afiliasi ABC, yakin bahwa dia serang karena rasnya.

Ketika Jing Chen bertanya kepada penyerangnya mengapa dia menyemprotkan air, si penyerang berbalik dan mengumpat, “Anda, China.”

“Maka, saya, sebagai seorang Ibu, berkata, ‘Anda juga!’,” kata Jing Chen.

“Dia (penyerang) kembali kepada saya di depan wajah saya dan saya bertanya kepadanya, ‘Apa yang akan Anda lakukan, saya hamil, apakah Anda akan menyakiti saya?’,” lanjut Jing Chen.

Penyerang itu kemudian melihat benjolan perut Chen yang sedang mengandung bayi dan tiba-tiba meninju wajahnya.

Setelah serangan tersebut, anggota dan aktivis Chinatown Disability Advocacy Project (Proyek Advokasi Disabilitas Chinatown) Anna Perng mencatat bahwa penyerang itu sengaja menyeberang jalan dan memilih Chen dan putrinya sebagai target.

Perng juga menekankan bagaimana penyerang menyebut ras Chen dalam insiden itu.

Pihak berwenang sekarang memburu tersangka yang diidentifikasi bernama Delores Marte, yang mereka yakini sebagai pengemis.

Marte akan dikenai dakwaan melakukan penyerangan sederhana, penyerangan sembarangan yang membahayakan orang lain dan pelecehan. Pihak berwenang juga menyatakan bahwa mereka belum mengesampingkan dakwaan tambahan.

Meskipun Chen dan Perng telah menekankan ras Chen dalam insiden tersebut, Kantor Kejaksaan Distrik Philadelphia menjelaskan bahwa tidak ada “bukti yang cukup” untuk membuktikan bahwa kasus tersebut merupakan “intimidasi etnik”.

Namun, direktur eksekutif Philadelphia Chinatown Development Corporation John Chin mengatakan bahwa ketakutan dan kekhawatiran yang meningkat tentang sentimen anti-Asia hadir di tengah pandemi virus corona.

Aliansi Buruh Amerika Asia Pasifik menyatakan April lalu bahwa laporan pelecehan terhadap orang Amerika keturunan Asia telah meningkat selama pandemi. Diskriminasi terjadi setelah kasus pertama Covid-19 dilaporkan di Wuhan, China, akhir tahun 2019 lalu.

Chen sejak itu telah memperingatkan lebih dari 200 keluarga China-Amerika tentang tersangka melalui aplikasi WeChat. Chen juga menyatakan bahwa dia tidak meninggalkan rumahnya sejak 4 Agustus dan sekarang ketakutan karena kejadian tersebut.

Aktivis komunitas seperti Pergn dan Chin, seperti dikutip The Star, Selasa (11/8), mengatakan sudah membahas masalah ini dengan pemimpin kota setempat. Sementara itu, petugas polisi kini memiliki surat perintah penangkapan untuk Marte.

Pos terkait