Sosok Alta Zaini, Pengabdian Tanpa Lelah

  • Whatsapp

oleh: Rustam Effendi, Lektor Kepala FEB USK

SIANG menjelang sore kemarin, saya sengaja sambangi seorang sahabat yang sedang melatih Anggota PASKIBRAKA (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka) untuk kegiatan HUT RI pada 17 Agustus 2021 di Banda Aceh. Adalah Bang Alta Zaini, sahabat saya itu.

Bacaan Lainnya

Lelaki kelahiran Banda Aceh 58 tahun lalu ini amat dikenal oleh mereka, khususnya yang pernah menjadi anggota pasukan pengibar bendera merah putih saat HUT RI di Banda Aceh. Mereka pasti pernah dilatih oleh Bang Alta. Bang Alta sendiri telah mengabdikan dirinya sebagai pelatih anggota Paskibraka Aceh sejak tahun 1984. Sebelumnya, tahun 1981, beliau juga pernah terpilih sebagai salah seorang anggota Paskibraka.

Di sela-sela dirinya sedang melatih pasukan, ditemani isteri saya, Faradina Azhar, saya hampiri lelaki berpostur tegap, berkulit agak hitam, dan berkumis tebal ini. Jujur saja, saya menaruh simpati pada pengabdiannya yang tulus untuk negeri ini. Cerita dari sang isteri saya, yang kebetulan mantan anak didiknya dulu, sungguh menyentuh hati untuk lebih mengenalnya.

Pekerjaan sebagai pelatih pasukan Paskibraka sungguh sebuah kepercayaan dari pemerintah daerah dan kebanggaan bagi Bang Alta sendiri. Dibawah terpaan sinar terik matahari beliau dengan sabar menjalankan tugas pengabdiannya itu. Tugas ini dilakoninya hampir tiap hari, dari pagi hingga sore, sampai tiba hari perayaan HUT RI. Dan itu sudah berlangsung selama 37 tahun.

“Jujur, Bang, secara materi memang tidak seberapa. Hanya sebatas honor saja. Diberikan melalui sebuah dinas. Ini sebuah pengabdian. Tiap tahun tugas ini selalu saya pikul dan tunaikan dengan penuh tanggung jawab, Bang”, ujarnya.

“Banyak anak didik yang dulu saya tempa saat di Paskibraka kini mereka sudah jadi orang-orang hebat. Bahkan, ada yang sudah berpangkat Kolonel, Brigjen, hingga Mayjen”, tambahnya.

“Apa yang tersulit dalam melatih anak-anak anggota Paskibraka ini?”, tanya saya.

Bang Alta menjawab, “Yang paling sulit adalah mengubah karakter mereka. Dari yang dulunya pemalu, jadi pemberani. Yang kurang disiplin, jadi pribadi bertanggung jawab. Yang tipikal suka menyendiri, menjadi lebih setia kawan. Yang egois, berubah jadi lebih berempati pada orang lain.”

“Lelah kah dengan tugas berat ini, Bang?”, tanya saya lagi.

“Tidak. Saya tidak pernah lelah. Hanya ini yang mampu saya abdikan diri untuk negeri dan bangsa ini. Saya puas jika tugas ini dapat saya tunaikan dengan baik. Lebih puas lagi ketika melihat anak-anak ini sudah berhasil dalam hidupnya”, jawabnya tegas.

Saya jabat tangannya. Dan, untuk kesekian kalinya saya kagum pada pengabdian Bang Alta. Sebuah pengabdian tanpa kenal lelah, apalagi di saat usianya yang sudah tak muda lagi. Semoga akan ada penerusnya, kelak.(*)

Pos terkait