Terbukti Bersalah Cabuli Santri, Pimpinan Pesantren di Lhokseumawe Divonis 15 Tahun Penjara

  • Whatsapp
mahkamah syariah lhokseumawe
Satreskrim Polres Lhokseumawe menghadirkan tersangka kasus pelecehan seksual terhadap santri oleh pimpinan dan guru pesantren beserta barang bukti saat konferensi pers di Mapolres Lhokseumawe, Kamis (11/7). Kanal Inspirasi/Rahmat Mirza

LHOKSEUMAWE – Mahkamah Syariah Kota Lhokseumawe memvonis pimpinan pesantren AI (45) selama 15 tahun (190 bulan) dan seorang ustaz, MY (26), selama 13 tahun (160 bulan) penjara.

Pembacaan putusan dipimpin hakim ketua Azmir dan didampingi hakim anggota, Ahmad Luthfi, serta Kamaruddin Abdullah. Sedangkan kedua terdakwa didampingi pengacaranya, Armia, Khairil Fadri, Muzakir, Al Kausar, Ade Oscar.

Putusan untuk AI lebih rendah dari tuntutan jaksa yaitu hukuman penjara 16 tahun 6 bulan penjara ditambah restitusi (ganti rugi) sebanyak 30 mayam emas. Sedangkan untuk MY dituntut 14 tahun 1 bulan penjara ditambah restitusi 10 mayam emas.

“Amar putusan ini sesuai dengan tuntutan kita yaitu Pasal 50 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Syahril usai sidang kepada sejumlah wartawan di PN Lhokseumawe, Kamis (30/1).

Dia menyatakan akan mempelajari lebih dalam lagi putusan hakim tersebut. Sementara pihak pengacara kedua terdakwa Armia menyatakan, akan melakukan banding atas putusan itu.

“Kami hormati putusan hakim. Namun ini tidak mempertimbangkan fakta persidangan. Maka kami putuskan banding,” terang Armia.

Menanggapi sikap pengacara, jaksa menghormati langkah hukum yang diambil. “Kami hormati itu, silakan saja. Itu hak warga negara,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, AI dan MY diduga mencabuli santri pria di pesantren tersebut. Sebanyak enam santri menjadi saksi dalam kasus itu. Bahkan, belakangan pesantren ini dipindah dari Kecamatan Muara Dua, ke Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. []

Pos terkait