Terima Suap, Eks Kalapas Sukamiskin Divonis 8 Tahun Penjara

  • Whatsapp
mantan kalapas sukamiskin
Mantan Kalapas Sukamiskin, Bandung, Wahid Husen dipeluk keluarganya seusai sidang di Pengadilan Tipikor, Bandung, Jawa Barat, Senin (8/4). Foto: Agus Warsudi - SINDOnews

BANDUNG – Mantan Kepala Lapas (Kalapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, Wahid Husen divonis hukuman delapan tahun penjara dan denda Rp400 juta subsider empat bulan penjara.

Dia dinyatakan terbukti menerima suap dari terpidana penguni lapas, yakni Fahmi Darmawansyah, Tubagus Chaeri Wardana atau Wawan, dan Fuad Amin.

Bacaan Lainnya

Vonis tersebut lebih rendah dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menuntut Wahid dengan hukuman sembilan tahun penjara dan denda Rp400 juta subsider satu tahun kurungan.

“Mengadili dan menyatakan terdakwa Wahid Husen terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama. Menjatuhkan pidana selama 8 tahun dendan Rp400 juta dengan catatan jika tidak dibayar diganti kurungan selama 4 bulan. Menetapkan terdakwa tetap ditahan,” tutur Ketua Majelis Hakim Sudira.

Mendengarkan putusan itu, Wahid tetap tenang. Setelah berkonsultasi dengan kuasa hukumnya Firma Uli Silalahi, Wahid Husen menyatakan pikir-pikir.

Perbuatan Wahid dinilai bersalah melanggar Pasal 12 Huruf b Undang-Undang Nomor 31/1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20/2001 tentang tipikor junto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP junto Pasal 65 ayat 1 KUHP.

Sebelum menjatuhkan vonis, Sudira membacakan hal yang memberatkan dam meringankan. Hal-hal yang memberatkan, terdakwa Wahid sebagai penyelenggara negara tak mendukung upaya pemerintah dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Perbuatan terdakwa juga memperburuk citra lembaga pemasyarakatan.

“Yang meringankan, terdakwa kooperatif, mengaku, dan menyesali perbuatannya. Terdakwa telah mengembalikan aset dan harta yang dihasilkan dari tindak pidana korupsi. Selain itu, terdakwa tulang punggung keluarga. Terdakwa pun sudah cukup lama mengabdi sebagai PNS,” tutur Sudira.

Berdasarkan analisis kasus yang dibacakan anggota majelis hakim Marsidin Nawawi mengatakan, terdakwa Wahid terbukti menerima uang dan barang dari terpidana penguni lapas Fahmi Darmawansyah, Tubagus Chaeri Wardana atau Wawan, dan Fuad Amin.

Dari Fahmi, Wahid menerima mobil Mitsubishi Tritton double cabin, tas mewah merek Kenzo dan Luis Vuitton, serta sepatu boot. Selama Mei hingga Juli 2018, Wahid menerima uang Rp39 juta dari Fahmi. Kemudian Juni-Juli 2018 menerima Rp69 juta lebih dari Wawan dan uang jutaan rupiah dari Fuad Amin Imron.

“Uang dan barang itu diterima Wahid baik secara langsung maupun melalui stafnya Hendri Saputra,” kata Marsidin Nawawi.

Selama menjabat sebagai Kalapas Sukamiskin sejak Maret 2018 hingga tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Wahid telah memberikan fasilitas kepada Fahmi, Wawan, dan Fuad.

Menurut Marsidin, Wahid memberikan izin keluar untuk berobat dan izin luar biasa bagi Fahmi, Wawan, dan Fuad Amin. Izin-izin tersebut faktanya disalahgunakan oleh Fahmi, Wawan, dan Fuad Amin.

“Seperti Fahmi, seusai cek kesehatan, dia menginap di rumahnya di Pacuan Kuda Arcamanik. Kemudian, Wawan menginap di Hotel Hilton, Kota Bandung dan Hotel Rosela, Karawang. Fuad Amin Imron juga menggunakan izin sakit dan luar biasa keluar lapas untuk menginap di sebuah rumah mewah miliknya di kawasan Dago,” ujar Marsidin.

Atas pelanggaran-pelanggaran itu, tutur Marsidin, Wahid justru membiarkannya. Sebagai Kalapas, Wahid tak pernah menegur apalagi memberikan sanksi disiplin terhadap Wawan dan Fahmi.

“Tak hanya itu, Wahid juga mengizinkan Fahmi, Wawan, dan Fuad melengkapi kamar selnya dengan fasilitas mewah, seperti AC, kulkas, televisi, dan telepon seluler. Tak selayaknya bagi narapidana mendapatkan fasilitas tersebut,” tutur Marsidin.

Menurut dia, Majelis Hakim menemukan fakta Wahid telah menerima suap dari narapidana korupsi di Lapas Sukamiskin, Fahmi, Wawan, dan Fuad Amin.

“Sehingga menolak pembelaan terdakwa. Selain itu, majelis tak menemukan alasan pembenar atau pemaaf atas perbuatan Wahid,” tutur Marsidin.

Sementara itu, Firma Uli Silalahi menilai vonis tersebut sangat tidak adil bagi Wahid. Sebab fakta di persidangan terungkap bahwa izin sakit, izin luar biasa, dan pemberian fasilitas mewah bagi narapidana korupsi telah lama terjadi di Lapas Sukamiskin, jauh sebelum Wahid Husen menjabat kalapas.

“Semua itu kan sudah lama terjadi di sana (Lapas Sukamiskin). Terus keberadaan saung di Lapas Sukamiskin kan memang diperlukan. Kenapa semua kesalahan ditanggung oleh klien saya, pak Wahid. Vonis ini tidak berkeadilan,” kata Firma.

Disinggung apakah mengajukan banding atas vonis tersebut, Firma menyatakan, dirinya akan mendorong Wahid Husein untuk mengajukan upaya hukum banding. “Saya pribadi mempertimbangkan banding. Tapi belum diputuskan karena harus ngobrol dengen klien saya dulu,” ujar Firma.

Sedangkan Wahid, seusai sidang ditutup, langsung menemui istri, anak, dan kerabatnya. Dia memeluk erat istri dan anaknya yang menangis lantaran merasa terpukul dengan vonis tersebut. “Ada Allah. Ada Allah,” kata Wahid berusaha menenangkan istri dan anaknya. agus warsudi.


Sumber: Sindonews.com

Pos terkait