Tgk Fauzan: Abi Muhib Tepat Dampingi Nova, Pasangan Nasionalis dan Agamis Untuk Pimpin Aceh

  • Whatsapp
Tgk. Mufaddhal Zakaria,, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Daerah Aceh (PDA) Kabupaten Aceh Besar

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Daerah Aceh (PDA) Kabupaten Aceh Besar, Tgk. Mufaddhal Zakaria, mendesak Ketua Umum DPP PDA Tgk. Muhibbussabri A Wahab mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Aceh sisa masa jabatan 2017-2022.

“Tidak ada alasan bagi Abi Muhib untuk menolak mencalonkan diri sebagai wakil gubenur Aceh, karena selama ini beliau bersama PDA sudah sangat loyal mendukung pasangan Irwandi Nova, sejak masa kampanye pencalonan diri sebagai gubernur dan wakil gubernur aceh,” tegas tokoh politik yang akrab disapa Tgk. Fauzan ini, kepada Kanalinspirasi, Rabu (11/11/2020).

Bacaan Lainnya

Dikatakannya, pada masa kampanye dulu PDA begitu berperan aktif di garda utama, mendukung pencalonan Irwandi Yusuf – Nova Irianyah yang sebelumnya hendak maju melalui jalur independen.
Saat itu PDA menjadi partai politik pertama yang menyatakan dukungan kepada pasangan tersebut, serta terus mengawal program-program pemerintah hingga akhir masa jabatan.

“Abi Muhib meminjamkan rumahnya dan kantor DPW PDA Aceh Besar sebagai posko untuk dilakukan pengumpulan dan rekap KTP mendukung pasangan Irwandi – Nova,” papar anggota DPRK Aceh Besar tersebut.

Tgk. Fauzan melanjutkan, pertimbangan lain mengapa Abi Muhib harus mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur, adalah karena dalam menjalankan roda pemerintahan Provinsi Aceh, akan lebih bermaslahat jika dipimpin oleh pasangan Gubenur dan Wakil Gubenur dari Partai Nasional dan Partai Lokal

“Bukan berarti tidak bisa pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur dari parnas, hanya saja khusus untuk Aceh diperlukan unsur pimpinan pemerintahan ada keterwakilan dari Partai Lokal, dan Abi Muhib adalah sosok yang tepat mendampingi Nova Iriansyah, sehingga terwujud pasangan nasionalis dan agamis,” jelasnya..

Sosok Abi Muhib, lanjut Tgk. Fauzan, merupakan jawaban dari harapan para ulama Aceh yang telah lama merindukan Aceh dipimpin oleh tokoh yang murni dari kalangan Dayah.

“Sudah saatnya Aceh dipimpin oleh tokoh yang tidak dapat dipisahkan dari Ulama, dan bukan sosok yang hanya memakai baju santri dayah saat akan naik ke atas panggung politik,” pungkasnya.(*)

Pos terkait