Tujuh Negara Alami Resesi Akibat Pandemi

  • Whatsapp
Ilustrasi. Foto : detik.com/Luthfy Syahban/Tim Infografis

JAKARTA – Covid-19 membuat banyak negara telah terpaksa masuk jurang resesi. Terbaru adalah Amerika yang juga dinyatakan resesi karena pertumbuhan ekonomi kuartal II tertekan cukup dalam.

Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) dalam rilisnya Kamis (30/7) mencatat perekonomian AS minus 32,9% periode April-Juni. Kontraksi ini jauh lebih tajam dari kuartal I yang tercatat minus 5%.

Bacaan Lainnya

Berikutnya adalah Jerman yang mengkonfirmasi ekonomi Negeri Panzer ini mengalami resesi. Negara ini kembali mencatat kontraksi pada ekonominya di kuartal-II 2020. Secara basis kuartalan (QtQ) ekonomi minus -10,1%. Sebelumnya di kuartal-I 2020, ekonomi minus 2,2%.

Di basis tahunan (YoY) ekonomi Jerman, juga minus 11,7%. Sebelumnya di kuartal I 2020, ekonomi Jerman tercatat minus 2,3%. “Ini adalah penurunan paling tajam sejak perhitungan PDB triwulan untuk Jerman sejak 1970,” kata kantor federal statistik Jerman.

Berikutnya Hong Kong yang juga mencatat kontraksi atau minus 9% di kuartal-II 2020 secara tahun ke tahun (YoY) dari data Rabu (29/7).

Data terbaru menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding kuartal-I 2020, minus 9,1% (YoY). Di basis kuartalan (QtQ), ekonomi minus 0,1% di kuartal II-2020 ini.

“Ekonomi Hong Kong stabil pada kuartal terakhir ini karena stimulus fiskal dan permintaan yang lebih kuat di China mengimbangi konsumsi dan investasi yang melemah,” kata Ekonom China untuk Capital Economics dalam sebuah catatan ditulis CNN Business.

Singapura di kuartal II 2020 berkontraksi atau minus 41,2%. Sementara secara tahunan, PDB anjlok 12,6%. menterian Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura memperkirakan ekonomi negeri itu dalam setahun bisa berkontraksi di rentan. 7-4%. Ini menjadi resesi terburuk bagi negeri kota itu sejak 1965.

Berikutnya Korea Selatan, Bank of Korea mengumumkan bahwa produk domestik bruto (PDB) negara itu secara kuartalan (QtQ) pada kuartal II 2020 tercatat -3,3%. Pada basis yang sama di kuartal I sebelumnya, ekonomi -1,3%.

Kontraksi ini adalah yang paling tajam sejak kuartal-I 1998. Perlambatan ini juga lebih parah dari polling Reuters 2,3%. Sementara secara tahunan (YoY), PDB negara ini minus 2,9% dari periode yang sama tahun lalu. Namun, ekonomi masih tumbuh di kuartal-I 1,4%. Penurunan ini terbesar sejak kuartal-IV tahun 1998. Ini juga lebih buruk dari polling Reuters 2%.

Hantu resesi juga membayangi Australia, Pada Kamis (23/7), Australia memberi sinyal resesi “mungkin” terjadi di negara benua itu.

Ekonomi Australia diperkirakan mengalami kontraksi terdalam sepanjang sejarah pada kuartal-II 2020. Sementara defisit anggaran akan menjadi yang terbesar sejak Perang Dunia II.

Pejabat mengatakan PDB diramal kontraksi 7% pada April-Juni. Ini akan mendorong negara itu masuk ke dalam resesi untuk pertama kalinya dalam tiga dekade terakhir.

Terakhir, yang paling baru ada Perancis, Ekonomi Prancis pada kuartal II-2020 tercatat minus 13,8%. Hal ini dilaporkan oleh kantor statistik nasional Prancis (INSEE), Jumat (31/7).

Kontraksinya ekonomi Prancis pada kuartal II-2020 dengan -13,8% itu karena konsumsi, investasi, dan perdagangan turun tajam akibat diberlakukannya pembatasan wilayah atau lockdown di negara itu, guna menahan penularan virus corona atau covid-19.

Dari data awal yang dirilis, kontraksi di negara dengan ekonomi terbesar kedua dalam kawasan Eropa itu, tercatat lebih curam dari pertumbuhan ekonomi Jerman pada kuartal II-2020, yang tercatat minus 10,1%.

Pos terkait