Wajah Pembangunan Banda Aceh, 2 Tahun Pemerintahan Aminullah Usman – Zainal Arifin (Bag-1)

  • Whatsapp
814 banda aceh
Capaian 2 Tahun Aminullah Usman dan Zainal Arifin Memimpin Kota Banda Aceh. Foto: Humas Pemko Banda Aceh

DALAM usianya yang sudah 814 tahun sejak didirikan oleh Sultan Alaidin Johansyah pada 22 April 1205, Banda Aceh telah menjadi kota yang modern namun tetap mempertahankan nilai Islami. Hal ini tidak lepas dari kesungguhan dan keberhasilan para pemimpin ibukota propinsi Aceh ini dari masa ke masa.

Tidak terkecuali di masa pemerintahan saat ini, Aminullah Usman dan Zainal Arifin. Sejak menjabat sebagai Walikota dan Wakil Walikota Banda Aceh pada 7 Juli 2017, pasangan ini telah membawa perubahan pembangunan ke arah lebih baik dan dirasakan oleh warga kota. Mulai dari pembangunan insfrastruktur, pelayanan jasa, hingga pembangunan karakter masyarakat.

Bacaan Lainnya

Jika kita melihat dari sudut pandang dan pemikiran positif, banyak catatan prestasi pemerintah kota yang telah dicapai merealisasikan janji pada masa kampanye. Dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang diberikan baik oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah dan sejumlah lembaga non pemerintah.

Tentu saja dengan tetap memperhatikan berbagai program dan kebutuhan warga kota di berbagai sektor, yang masih harus menjadi perhatian. Dan berbagai penghargaan atas prestasi yang telah diterima, akan menjadi motivasi dan pemicu semangat kinerja pemerintah kota beserta jajaran Satuan Kerja Perangkat Kota (SKPK), untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Pelayanan Publik

Untuk bidang Pelayanan Publik, menjadi salahsatu prioritas pemerintah kota dalam upaya melayani dan mempermudah kebutuhan administrasi penduduk. Berbagai kemudahan telah dirasakan langsung oleh masyarakat yang diikuti antusiasme warga kota Banda Aceh untuk memanfaatkan pelayanan publik pemerintah kota.

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman saat melakukan sidak ke RSUD Meuraxa. Foto: Humas Pemko Banda Aceh

Atas prestasi di bidang ini sejumlah apreasi diterima Pemerintah Kota Banda Aceh, yaitu penghargaan Kepala Daerah Pembina Pelayanan Publik dengan Kategori Sangat Baik tahun 2018 dari Kemenpan RB RI. Kemudian Predikat Kepatuhan Tinggi Terhadap Standar Pelayanan Publik dari Ombudsman RI pada Desember 2017. Bahkan GeRAK Aceh sebagai lembaga anti korupsi kredibel di Banda Aceh juga turut memberikan apresiasi kepada pemerintahan Aminullah –  Zainal melalui Piagam Penghargaan Pelayanan Prima Pada Masyarakat tahun 2019.

Pelayanan Ketersediaan Air Bersih

Pemerintahan kota Banda Aceh saat ini sangat menyadari ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan utama warga kota dan menjadi indikator penting sebuah kota modern. Persoalan ini juga telah menjadi tantangan untuk bagi setiap pemerintahan kota Banda Aceh dalam memenuhi tuntutan warga. Upaya melayani ketersediaan dan distribusi air bersih kepada masyarakat telah dilaksanakan pemerintahan Aminullah – Zainal sejak tahun awal memimpin.

Tahun 2018, Pemko Banda Aceh telah membangun sistem Distrik Meter Area (DMA) di Darussalam, yang berdampak positif pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Daroy, dengan berhasil menekan tingkat kebocoran hingga 15 persen. Maka di tahun 2019 pemko akan melanjutkan pembangunan DMA Tibang/ Perumnas Lingke, DMA Jeulingke, DMA Kuta Alam dan DMA Cinta Kasih Panteriek.

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman saat melakukan sidak ke PDAM Tirta Daroy. Foto: Humas Pemko Banda Aceh

Di masa pemerintahan saat ini juga terus terjadi peningkatan cakupan pelayanan air bersih kepada masyarakat kota Banda Aceh. Jika di tahun 2017 terdapat 45.500 Sambungan Rumah (SR), kemudian meningkat 94,27 persen pada tahun 2018 menjadi 47.788 SR, dengan jumlah penduduk terlayani mencapai 230.460 jiwa dari jumlah penduduk Kota sebanyak 244.463 jiwa. Sementara untuk 2019 hingga saat telah dilaksanakan 48.990 SR, yang diharapkan bisa melayani seluruh penduduk kota Banda Aceh.

Pemko juga akan membangun SPAM Krueng Geupe, Leupung sebagai alternatif sumber air baku, menambah Instalasi Pengolahan Air yang baru dengan sumber dana APBN 2020, dan mengembangkan Program Kemitraan Solidaritas Perpamsi di bidang penanggulanan kehilangan air bekerjasama dengan PT Adhya Tirta Batam (ATB) Batam.

Metode ini kemudian berhasil menurunkan tingkat kehilangan air melalui pembangunan DMA pilot project di Darussalam (1.600 sambungan langsung) dan akan dilanjutkan untuk DMA-DMA lainnya di Kota Banda Aceh.

Untuk mengatasi kehilangan air, PDAM Tirta Daroy saat ini dalam tahap penyusunan dan pembahasan Pra-FS (studi kelayakan) untuk program kerjasama investasi berbasis kinerja B to B dengan PT Adaro Tirta Mandiri. Juga direncanakan pembangunan Reservoir dan Booster Pump di kawasan Taman Sari dengan Otsus 2019.

Program ini bertujuan meningkatkan pelayanan air bersih di kawasan ujung pelayanan teknis seperti Kecamatan Meuraxa, Kuta Raja, Jaya Baru dan sebagian Kecamatan Baiturahman. Proyek ini akan menghasilkan jumlah sambungan 12.484 sambungan langsung dengan jumlah penduduk terlayani mencapai 81.763 jiwa..

Kegiatan lain adalah pemasangan pipa induk diameter 355 mm berjarak 3,6 Km melalui sumber dana Otsus 2020 di sepanjang Jl Prof Ali Hasyimi dan Jl T Nyak Makam. Saat selesai nanti, maka pelayanan air di kawasan Kecamatan Ulee Kareng, Beurawe, Lampineung hingga kawasan Lamgugop akan maksimal. Dengan rencana tersebut, maka pada tahun 2019, diharapkan dapat dibangun 2.500 sambungan langsung untuk 100% masyarakat terakses air minum.

Optimisme warga kota Banda Aceh menikmati layanan air bersih juga meningkat, dengan indikasi positif penurunan grafik pengaduan atau komplain pelanggan dari ttahun ke tahun. Pada tahun 2018 komplain masyarakat menurun hanya 80 kasus, dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 600 kasus di tahun 2015 dan 400 kasus di tahun 2016.

Hal ini tidak lepas dari peran tim reaksi cepat yang dibentuk pemko, untuk siaga turun ke lapangan jika terjadi gangguan distribusi air bersih. Tim ini ditempatkan pada melalui sejumlah posko induk, seperti di jalan Sultan Mahmudsyah, wilayah Gampong Baru, di kecamatan Baiturrahman dan pos reaksi cepat lainnya yang tersebar di Banda Aceh.

Pembangunan Drainase Mengatasi Banjir

Sebagai kota yang dari letak geografi hanya sekitar 0,80 meter di atas permukaan laut, masalah banjir menjadi salahsatu persoalan yang dihadapi kota Banda Aceh. Ancaman banjir dan genangan menjadi persoalan yang dihadapi kota dengan luas 61,36 kilometer persegi ini saat musim penghujan tiba.

Selain masih terjadinya pembuangan sampah ke dalam selokan sehingga menyebabkan penumpukan sendimen dan lemak, genangan air juga disebabkan masih adanya ruas jalan yang belum memiliki drainase, seperti di ruas jalan Simpang Mesra. Pemko Banda Aceh telah mengajukan usulan pembangunan drainase kepada pemerintah propinsi, yang memiliki kewenangan dalam pengadaan insfrastruktur tersebut.

Sebagai upaya mengantisipasi banjir dan genangan air, selama ini pemerintah kota Banda Aceh melalui dinas PUPR melakukan upaya pemeliharaan drainase yang berada dalam wilayah kewenangan kota Banda Aceh. Termasuk rutin melakukan pekerjaan pembersihan drainase, baik sedimen maupun sampah.

Pembangunan Penataan Pemukiman

Untuk menciptakan kota Banda Aceh Gemilang, pemerintahan Aminullah – Zainal menaruh perhatian dalam penanganan kawasan kumuh di kota Banda Aceh, melalui program Kota Tanpa Kumuh. Program ini dilaksanakan pada 40 gampong melalui penataan pemukiman dan bantaran sungai dengan anggaran Rp 39.119.643.476, yang bersumber dari APBN dan APBA. Dari tahun 2017 sampai dengan 2018 kawasan kumuh yg sudah selesai tertangani sebesar 517.14 Hektar. Sisa 20,05 hektar akan ditangani sepenuhnya pada tahun 2019.

Bagian dari program Kota Tanpa Kumuh adalah adalah revitalisasi kawasan Krueng Daroy, yang telah memperlihatkan perubahan lebih baik. Dengan selesainya pembangunan tahap I berupa pedestrian (jalur pejalan kaki), menjadi icon baru masyarakat Banda Aceh, yang juga diharapkan memberikan dampak ekonomi.

Kawasan Taman Krueng Daroy. Foto: Ist

Dengan dukungan dana APBN, Pemerintah Kota berharap dapat meneruskan tahap II dan III revitalisasi pada tahun 2019 ini dan juga pada tahun depan. Selain itu kota ini juga sedang menata bantaran Krueng Aceh di kawasan Peunayong sejak tahun 2018 dan dilanjutkan pada tahun 2019 dan nantinya kawasan tersebut akan menjadi River Walk Culiner (wisata kuliner pinggir sungai). Upaya ini juga menjadi bagian mewujudkan Banda Aceh sebagai Kota Hijau.

Pembangunan Sektor Pariwisata

Pemerintah kota terus meningkatkan setor pariwisata yang merupakan potensi yang dimiliki Banda Aceh. Sejumlah destinasi wisata andalan baik wisata alam, wisata sejarah, wisata reliji dan objek wisata Tsunami, terus dikembangkan.

Hasilnya, dalam dua tahun terakhir sektor pariwisata kota Banda Aceh mengalami peningkatan yang sangat signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Pada tahun 2017 tercatat sebanyak 272.080 kunjungan wisatawan nusantara dan 16.274 wisatawan mancanegara ke Banda Aceh. Pada tahun 2018, jumlah kunjungan ke Kota Wisata Islami ini meningkat 36 persen, yaitu mencapai sejumlah   393.400 wisatawan. Terdiri dari 372.053 wisatawan nusantara dan 20.897 orang wisatawan mancanegara.

Taman Bustanussalatin Banda Aceh. Foto: Ist

Selain itu, Pemko berupaya maksimal mempromosikan kota ini dengan mengundang investor hingga menggelar berbagai kegiatan untuk menarik minat kunjungan wisatawan. Dengan menempatkan sektor pariwisata, perdagangan, hotel dan restoran sebagai unggulan kota telah turut meningkatkan sektor ekonomi menjadi sangat dinamis dan mengalami peningkatan.

Pembangunan Sektor Ekonomi, Pemberdayaan dan Sosial Kemasyarakatan

Di sektor pemberdayaan masyarakat, pembentukan lembaga keuangan mikro PT Mahirah Muamalah menjadi tonggak penting dalam mendukung pembiayaan, penguatan kapasitas modal usaha masyarakat, dan memperluas jaringan atau kesempatan kerja sehingga masyarakat Banda Aceh terbebas dari praktek riba dan jeratan rentenir.

Sejak diresmikan April 2018 sampai dengan Maret 2019, PT Mahirah memiliki 3.000 nasabah dari berbagai kalangan terutama pedagang kecil menengah, pengusaha, dan industri rumah tangga, kelompok ekonomi perempuan, bisnis ekonomi masyarakat perseorangan, termasuk pegawai yang ada di Banda Aceh.

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman saat membuka Kegiatan Pemberdayaan UMKM, Selasa (30/4) di Gedung C, komplek Balaikota. Foto: Humas Pemko Banda Aceh

PT Mahirah memiliki sejumlah produk, sekaligus juga menyediakan program pembiayaan untuk UKM dalam bentuk modal usaha. Pembiayaan yang sudah disalurkan sampai saat ini sudah mencapai lebih dari 1000 nasabah. Pembiayaan ini akan diusahakan untuk terus ditambah agar bisa meng-cover semua nasabah yang membutuhkan pembiayaan.

Sementara untuk sektor sosial kemasyarakatan, Pemko telah memberikan pelayanan dalam bentuk rehabilitasi sosial, perlindungan dan jaminan sosial, dan pemberdayaan sosial serta penanganan fakir miskin di Kota Banda Aceh.

Pembangunan Sektor Pendidikan dan Karakter Islami

Sejak 7 September 2017, walikota Banda Aceh Aminullah Usman meresmikan Kegiatan Zikir dan Tausiyah Gemilang Rutin di Pendopo Wali Kota Bamda Aceh. Majelis Zikir dan Pengajian Gemilang (MPG) Kota Banda Aceh sebagai Pelaksana, aktivitas zikir terus dilaksanakan secara rutin setiap Jumat dan malam Sabtu.

Selain itu majelis pengajian dan zikir juga menggema di Masjid Raya Baiturrahman kota Banda Aceh. Setiap malam Senin dilaksanakan Zikir Rateeb Siribee,  malam selasa bersama Majelis Zikir Zawiyah Nurun Nabi, Malam Rabu bersama Majelis Zikir Mujiburrahman, malam jumat bersama MZA di Masjid Raya dan Majelis Zikir Arafah di Neusu Banda Aceh, dan akhir pekan di Pendopo Wali Kota Banda Aceh bersama Majelis Zikir dan Pengajian Gemilang.

zikir akbar gemilang
Zikir Akbar Gemilang. Foto: Humas Pemko Banda Aceh

Sejak 18 Januari 2019 Zikir gemilang ini sudah mulai dilaksanakan di Masjid-masjid kecamatan, untuk selanjutnya diharapkan terlaksana di tiap gampong, untuk mewujudkan kota Banda Aceh sebagai “Kota Zikir.”

Dibidang pendidikan pemko mencanangkan program pendidkan agama yang mirip dengan program diniyah yang sudah dijalankan di sekolah-sekolah di Banda Aceh. Program ini mengajarkan baca tulis Al Quran diluar jam pelajar. Mendukung program ini akan didukung tenaga pengajar dihadirkan dari pondok pesantren dengan harapan setiap saat anak-anak terbiasa dan gemar mengaji. (adv)

Baca Selanjutnya: Wajah Pembangunan Banda Aceh, 2 Tahun Pemerintahan Aminullah Usman – Zainal Arifin (Bag-2)

Pos terkait