Waspada Banjir dan Langsor, Aceh Masuk Musim Hujan yang Padat

  • Whatsapp
kondisi cuaca provinsi aceh
Bencana longsor terjadi di simeulue, Kamis (24/10). Foto: Doc BPBA

BANDA ACEH – Masyarakat dalam wilayah Provinsi Aceh diminta untuk selalu waspada, mengingat kondisi cuaca sudah berubah dari musim kemarau, beralih ke musim penghujan dengan intensitas sangat tinggi, kondisi ini sewaktu-waktu bisa menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor serta gelombang tinggi di laut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Aceh saat ini sudah masuk puncak musim penghujan, untuk itu semua masyarakat dihimbau untuk tetap siaga bencana dan waspada terhadap banjir dan tanah longsong serta petir.

Bacaan Lainnya

Kasi Data dan Informasi BMKG Aceh Zakaria Ahmad kepada Kanalinspirasi.com, Minggu (26/10) mengatakan saat ini Aceh sudah masuk puncak musim hujan, sehingga masyarakat harus waspada terhadap banjir dan tanah longor serta petir.

Memasuki musim penghujan agar mewaspadai banjir dan longsor untuk daerah dataran tinggi, masyarakat agar mempersiapkan diri menghadapi masuknya musim penghujan, kondisi Aceh seperti ini diperkirakan akan berlangsung hingga Januari 2020 mendatang. keadaan puncak musim hujan ini akan terjadi di seluruh wilayah dalam provinsi Aceh.

Ia merincikan daerah yang rawan banjir yakni Aceh Jaya, Aceh Barat, Simulue, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Besar, Benar Meriah dan Aceh Tengah, kemudian kawasan yang rawan longsor Aceh Jaya,Aceh Tengah Benar Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara.

Pada kesempatan itu warga juga diminta waspada terhadap petir untuk kawasan di Aceh Tengah, Benar Meriah, Aceh Besar, Aceh Timir, Pidie dan untuk nelayan juga dihimbau warpada dan tidak terlalu ketengah melaut,terutama pada saat terjadi gumpalan awan hitam akan menimbulkan gelombang laut yang tinggi terutama untuk selatan Sabang dan Simulue. Sedangkan untuk wilayah timur dari Pidie hingga Aceh Taming gelambang laut masih aman.

Ditempat terpisah kepada Pelaksana Badan Penangulangan Bencana Aceh (BPBA) Ir Sunawardi, MSI mengatakan saat ini ada tujuh kabupaten di Aceh dilanda banjir dengan kondisi parah sedang dan ringan.

Ketujuh kabupaten yang sedang dilanda banjir adalah Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Simulue, Aceh Singkil, Aceh Utara dan Bireuen sedangkan sejumlah kabupaten lain seperti Aceh Utara, Pidie,Aceh Timur, Benar Meriah, Aceh Tenggara dan Kota Banda Aceh dalam kondisi waspada.

Untuk membantu korban banjir dan tanah longsong pemerintah melalui BPBA untuk provinsi dan BPBD untuk kabupaten/kota telah disiagakan tim untuk terus memantau situasi juga mempersiapkan logistik bantuan masa darurat jika diperlukan untuk korban banjir dan tanah longsor, termasuk untuk mensiagakan alat berat pada titik tertentu seperti di gunung guruetee, kulu, bener meriah dan lintas tengah menuju gayo lues.

Ditempat terpisah Direktur Walhi Aceh Muhammad Nur mengatakan, musim hujan tidak akan mengubah keadaan Aceh seperti musim hujan tahun lalu, dimana hampir seluruh Aceh di genangi banjir dengan kerugian lebih 900 milyar lebih tiap tahun, angka ini kami dapat setelah setelah menghitung kerugian aset warga dan kerusakan infastruktur publik lainya.

Banjir, selain di pengaruhi musim hujan yang melebihi daya tampung dan juga ada faktor lain seperti buruknya tatakelola hutan dan lahan, dimana pembukaan untuk berbagai kegiatan seperti tambang, kebun, proyek energi dan berbagai pembangunan lainnya menjadi masalah serius ketika mengabaikan dampak penting lingkungan.

Selain faktor hutan dan lahan ada juga model pembangunan tidak menjawab kebutuhan mengelola air yang berlebih dimusim hujan, ada banyak kegiatan seperti proyek irigasi perusakan bantaran sungai akibat galian bebatuan maupun proyek waduk, embung lainnya ujung dari cerita pembangunan hanya bicara energi bukan menjawab banjir sehingga berbagai kegiatan fisik selalu tidak efektif. Untuk itu aceh harus mengubah cara membangun dari biasa praktis menjadi sedikit sulit dari desain pembangunan.

Kami berharap pemerintah Aceh bersama kabupaten perlu menyusun pola pembangunan yang menjawab masalah utama yaitu mengatasi banjir sehingga apapun rencana pembangunan kajian lingkungan dan pola pembangunan mesti diperkuat bukan bicara ingin cepat membangun, selain itu dalam revisi RTRWA maupun RTWK yang berlangsung di tahun ini mesti memasukan wilayah rawan bencana sebagai wilayah penting sehingga pembangunan jangan dipaksakan harus mega proyek nantinya tapi perlu menghadirkan sesuai daya tampung dan daya dukung.

Jika tidak maka Aceh sebetulnya provinsi dengan tingkat kerugian yang cukup tinggi setiap tahun, menunjukan angka APBA 17 Trilyun sekalipun tidak akan mengatasi kemiskinan jusru menciptakan kemiskinan baru tiap tahun akibat kerugian ditanggung rakyat Aceh. (*)

Pos terkait